[Nyinyir] Insecure

Sore yang tidak terlalu panas, tidak juga mendung. Meski tak bisa saya bilang sejuk juga. Tapi sore kali ini cukup menyenangkan; mendengarkan lagu-lagu Neri per Caso, menikmati segelas besar Chatime, serta ‘jalan-jalan’ mengunjungi ‘rumah’ teman-teman di dunia maya. Nikmat Tuhan mana lagi yang harus saya dustakan?

Selagi menikmati sore yang masih dengan keegoisannya bermain dengan sinar mentari, tetiba saya teringat email yang dilayangkan untuk saya (juga teman-teman) beberapa waktu lalu. Sebuah email pemberitahuan tentang peraturan baru.

Dem!

Mood saya nyungsep saat itu juga. Saya meninggalkan meja kerja dan beralih ke pinggir kolam, di mana kawan-kawan saya sedang menikmati sore mereka. Meskipun tetap dengan dunia masing-masing, entah apa dan ‘dimana’.

Di dalam email itu memberitahukan bahwa berdasarkan hasil rapat yang diadakan entah antara pihak siapa dengan pihak siapa, akhirnya diputuskan diberlakukannya peraturan baru. Soal jam kerja? Saya tak bermasalah (meskipun mungkin akan seperti yang dulu-dulu, sih!) Soal mematuhi SAS? Saya masih bisa pahami. Mengenai kelengkapan data yang harus dipenuhi, ini dia biang masalahnya.

Kalau hanya kelengkapan standar, saya bisa maklum, tapi ini menyangkut ijazah. Ya, tanda kelulusan saya yang pernah duduk manis di bangku kuliah itu diminta dan harus disimpan oleh perusahaan. Untuk yang satu ini, saya keberatan. Sangat keberatan.

Meskipun ada perjanjian hitam di atas putih kalau ada kerusakan sekecil apapun dengan ijazah saya perusahaan akan bertanggung jawab. Tapi, sejauh mana perusahaan akan bertanggung jawab? Tidak ada yang tahu pasti. Dan apakah perusahaan tahu kalau birokrasi kampus dalam mengurus ijazah itu cukup sulit (di kampus saya)? Hmm.. sepertinya perusahaan tidak tahu hal itu. Dan tahukah perusahaan kalau kampus saya tidak satu lokasi dengan perusahaan? Lagi-lagi jawaban mereka tidak.

Saya jadi merenung sejenak. Sepertinya perasaan ‘insecure’ tidak hanya menimpa abege jaman sekarang ya? Tetapi juga perusahaan saya. Mereka insecure kalau-kalau karyawannya akan hengkang dengan mudahnya. Mereka seperti kehilangan rasa percaya diri dan mulai pasang ‘gigi’ untuk bisa nggigit lebih dalam. Sakit ..sakit sekalian. Jangan tanggung tanggung! Mungkinitu filosofinya.

Andai saja komunikasi dan rasa percaya tidak hanya ditanamkan untuk urusan personal saja, tapi juga secara profesional, saya rasa sikap loyal setiap orang pasti akan tercipta dengan sendirinya. Merasa enggan untuk meninggalkan perusahaan yang tidak hanya memberinya gaji setiap bulan tapi memberinya rumah serta keluarga yang selalu hangat dan menyenangkan.

Tidak hanya dijadikan sapi perahan yang diambil sarinya dan kalau sudah habis, buang saja. Tentu bukan seperti itu.

Entahlah, ini saya yang terlalu nyinyir atau ketinggalan zaman ya? Apa jangan-jangan ini adalah peraturan yang memang diberlakukan oleh hampir semua perusahaan? Hmm.. kalau memang iya, wah.. ternyata yang merasa insecure itu banyak ya. Asal jangan galau aja perusahaannya. Hehe..

Lha iya dong, kalau perusahaan galau, anak-anak yang bernaung di dalamnya gimana nasibnya? Nanti kalau sampai ada yang berkeluh di twitter kena SP lagi?! Hehe.. Tenang-tenang, ini bukan tentang ‘rumah’ saya saat ini. ‘Rumah’ tetangga yang kemarin baru berkeluh kesah..

Hmm.. semoga ini hanya perasaan saya saja. Perasaan saya yang lagi campur aduk macam adonan martbak 678 di pertigaan Sajam yang terkenal itu.

Duh! Mulai ngelantur, sepertinya saya harus pamit dulu. Udara sore kali ini sangat sayang kalau saya abaikan tanpa kesan.

Selamat berakhir pekan untuk kamu, siapa saja yang memang menyambutnya dengan suka cita #halah

Advertisements

Batal Ngantor

Berangkat ke kantor seperti biasa. Pagi-pagi benar aku sudah berjuang diantara desakan penumpang yang sepertinya enggan menyurut tiap harinya. Naik angkutan kota menuju pemberhentian pertama -dimana kopaja tua sudah menanti dengan manisnya-  dan memilih mengenyakkkan diri di pojokan angkot sambil mencoba memejam sekejap saja.

Tapi nyatanya, mata sulit terpejam karena ulah supir yang ugal-ugalan tanpa juntrungan. Ah tapi setidaknya mataku beristirahat sejenak tanpa perlu melihat macet yang justru membuat otakku berpikir lebih penat.

Macet yang kian mengular membuat aku semakin resah. Angkot belum juga tiba di lampu merah, aku memilih untuk turun dan menyusuri jalanan ketimbang cemas dan menyerah dengan kemacetan.

Melihat penampakan kopaja tua semakin mendekat, kupercepat langkahku hingga setengah berlari. Tapi sayang, aku tidak bisa juga menelusup hingga ke dalam kopaja karena terlalu sesak. Ah, aku sedang tidak ingin menjadi monyet. Umm..maksudku terlalu menyelami peran menjadi monyet pagi ini. Setidaknya tanganku tidak perlu berkorban di pagi yang sedikit kelabu ini.

Keringat sudah membanjiri kening hingga leher. Tidak seperti biasanya pikirku. Biasanya keringat mulai berlarian jika aku sudah berada di dalam sesaknya kopaja. Lagipula pagi ini matahari masih malu-malu, panas nya juga belum membakar seperti pagi-pagi sebelumnya. Namun semua itu aku abaikan.

Sudah hampir setengah jam aku berdiri di sini, tapi penampakan kopaja tua belum juga terlihat di kejauhan. Panik menyerang. Peluh semakin asyik bernaung di wajah, punggung dan sekujur tubuhku. Mukaku semakin tertekuk sempurna. Aku melihat bayangaku di kaca mobil yang baru saja melintas dengan cantiknya. Tetiba lengan kiriku terasa gatal, aku abaikan.

Lima menit berselang, kopaja tampak tersendat di kejauhan. Aku berlari menujunya, menyambutnya dengan tangan terbuka dan memeluknya dengan erat seerat yang kubisa. *lebay* Iya aku berlari berlomba dengan penumpang lainnya. Berusaha menggapainya dengan sekuat tenaga, mencoba menghindari becek yang bisa meruntuhkan rupaku pagi ini. Daaaannn… Hap! Aku melompat sedikit mencoba meraih pinggiran pintu kopaja tapi tidak terjangkau, mencoba menjamah lengan salah satu penumpang yang sayangnya ia justru menghindar. Aku terjatuh dengan manisnya.

Nyeri? Ah itu pasti! Tapi itu masih bisa aku tahan. Tapi MALU? Nah ituuuuu….susah hilaaang! Memang sih aku tidak jatuh terduduk, hanya terpelset sedikit dan untungnya masih menjejak di kaki sendiri, tapi tetap saja kakiku rasanya ngga karuan karenanya. Orang-orang hanya bisa bilang “Udah mbak jangan dipaksakan”. Ah, Shit! Umpatku dalam hati sambil menahan nyeri dan malu yang menggayut manja sekali pagi ini.

Aku mengirim kabar kepada rekanku kalau akan sangat terlambat pagi ini. Dan bersabar untuk menantikan kopaja lainnya datang menjemput putri manis yang tampangnya asem seperti susu basi lebih dari tiga hari (oh, tolong jangan minta aku menjelaskan kenapa aku tahu rasanya). Agak lama sekali kopaja ini datang. Aku sudah tidak bisa mencari alternatif kendaraan lainnya. Ojek? Oh tidak! Ongkosku pasti akan terkuras habis, dan tentu saja ini akan berpengaruh pada kesejahteraan makan siang nantinya. Lantas apa yang mesti aku lakukan? Hah! Bersabar kali non, emang ada yang lain? Uyeah…benar sekali bersabar! Gak heran ini pantat semakin lebar kebanyakan sabar. *oh abaikan saja tulisan barusan*

Tak perlu aku jelaskan kembali bagaimana peluh ini banjir bukan? Ya, banjir bandang sudah terjadi. Saya mulai lemas, berkali-kali air di botol mampir di tenggorokan hanya untuk mengganti cairan tubuh saya agar tidak lemas dibuatnya.

Makin lama, nafas saya semakin sesak. Mata saya terasa berat, dan pandangan agak kabur. Hingga aku merasakan kedut-kedut semakin menjadi di sekitar area bibir dan mata. Penglihatan tidak saja kabur tapi juga terasa sulit membuka mata secara sempurna.

Punggung saya seperti diserang ribuan semut yang menggigit dengan asyiknya. Tidak hanya gatal dan sakit, tapi juga panas sekali rasanya. Aduduh, ini semakin gak beres! Dan tiba-tiba semua pandangan saya gelap! Aku (sukses)terjatuh.

Tidak lama, aku sudah bisa membuka mata. Ternyata seorang ibu sudah berada di sampingku dan menanyakan keadaanku. Oh no! something wrong with me lately!

Saya meminta ibu tersebut untuk mengantarkanku ke pangkalan ojek terdekat dan aku langsung ngacir ke klinik terdekat untuk diperiksa. Dan dugaanku benar, alergiku kambuh!

Muka sudah setengah bengeb layaknya maling digebukin sehabis nyolong ayam kate di kelurahan. Aku tak henti-hentinya menggaruk dan nafas semakin sesak. Menurut dokter, kondisi tubuhku  tengah menurun jadi tak heran kalau alergi ini kambuh dengan kurang ajarnya.

Kamu tahu ini alergi apa? Sinar matahari. Iya, sinar matahari. Gak elit banget ya?! Jadi aku tak bisa bertahan terlalu lama terpapar sinar matahari secara langsung, kecuali kondisi fisik benar-benar dalam keadaan prima. Sedangkan akhir-akhir ini kondisi tubuh sedang menurun drastis.

Setelah diberikan suntikan (tanpa obat) aku langsung pulang ke rumah. Muka masih bengkak, dan aku disuruh istirahat. Sampai di rumah, aku langsung tidur dan tidak bisa menjelaskan ke Ibu tentang hal ini, bahkan memberi kabar kepada rekan saya tidak.

Semoga besok bisa bertarung dengan kondisi tubuh dan HRD tentunya. Masalahnya, aku lupa meminta surat keterangan dokter bahwa saat ini tengah terserang alergi! 😥 *nangis di pojokan*

Kandang beruang, 5 November 2012
Nonayangmasih asyikmenggarukdanbengkakbengkak