Cintaku Mentok di Kamu

Berbicara kenyamanan sebagai pasangan, aku harusnya tidak pernah meragukanmu. Kamu membuat hari-hariku memang penuh rasa aman dan pastinya nyaman. Tanpa pernah mengeluh sedikitpun. Kita bertemu di pertengahan 2011, saat aku berlibur di kota Malang. Tempatku pernah dibesarkan.

Kamu dibawa oleh tanteku, yang langsung membuatku sreg dikali pertama bertemu. Tak perlulah janji-janji palsu membuat skenario bernama kesetiaan, karena kamu sudah memenuhinya. Itu kamu buktikan hingga sekarang. Kemanapun aku pergi, kamu selalu ada bersamaku.

Ingat saat kita mendaki gunung Semeru? Saat aku terpeleset dan hampir terjatuh selepas kita berjalan dari Ranu Pane? Kamu menjadi penyelamat hidupku! Meskipun tak sampai puncak, tapi perjalananku saat itu cukup menyenangkan. Kamu melindungiku. Lagi-lagi aku harus bersyukur pada Tuhan.

Aku juga masih ingat saat kamu datang menemaniku di pernikahan salah satu kawan terbaikku. Aku selalu diolok-olok rekanku  karenamu. Mereka bilang kamu dekil dan hitam, tak pantas denganku yang berkulit putih. Ibarat menodai warna kulitku dengan warnamu.

Tapi aku tak peduli. Lagi-lagi itu semua atas nama rasa nyaman yang aku rasakan. Untung saja kamu tak lantas terabaikan hingga terbuang.

Kini, aku harus mengikhlaskan kepergianmu. Mengikhlaskan kehadiranmu yang tak lagi untukku. Semoga kamu bisa bahagia bersama dengan pasangan barumu, meskipun aku takkan mungkin mendapatkan pengganti sepertimu.

Ya, karena kamu sandal jepit karet hitam terbaikku. Semoga maling beruntung itu bisa menjagamu sebaik mungkin.

Dari kaki yang merindukanmu.

 

Depok, 19 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-7

Advertisements

Sebuah Janji

Rintik hujan yang sayup-sayup terdengar kini berubah jadi hentakan ribuan kaki langit yang berjejalan menyentuh bumi. Membuatku semakin resah dan mendatangkan gundah yang kini sepertinya sudah  sepenuhnya menguasai hati. Hujan yang biasa aku kagumi kini terasa  menyakiti. Tiap tetesnya mewakili sebuah sayatan sembilu di dinding hatiku.

Sepi sepertinya enggan pergi. Ia justru asyik menelusup ke tiap bilik memori dan membuka bayang-bayang masa lalu yang kini berkelabatan seperti roll film usang yang tengah diputar di Megaria. Hey! Ada apa denganku? Emosiku meluap tiba-tiba saja.  Aku ngin mencurahkan semua amarah namun tak tahu pada siapa dan entah apa alasan sebenarnya mengapa harus ada emosi ini. Sepertinya aku mulai gila!

Emosi ini belum mampu kukendalikan, tiba-tiba ada rasa sedih datang menelusup hinggap dihati. Bulir kristal tipis perlahan jatuh membelai pipiku. Meski pelan namun alirannya sederas hujan diluar jendela kamarku. Tidak bisa kubendung dan bahkan aku tak pernah tahu air mata bahagia ataukah sedih yang aku rasakan kali ini. Aku tidak tahan! Kamu tahu? Rasanya seperti sedang menahan beban berat yang ingin aku lemparkan segera. Membuangnya sehingga dada ku ini tidak lagi terasa sesak tanpa sebab!

Ding.. Ding.. Ding..

“Hai Nona manis, sedang apa kamu di sana?” sebuah sapa sedikit mengalihkan otakku yang sepertinya mulai kacau.

“Hai 🙂 ” singkat jawabku.

Ah, aku benci menggunakan ikon titik dua tutup kurung dunia maya itu, karena sebenarnya aku merasa ikon itu penuh kepalsuan. Iya, seperti yang aku rasakan sekarang. Bukan yang sebenarnya, aku menutupi rasaku dihadapnya.

“Kamu belum tidur? Nunggu aku selesai ya? Aduh, maaf yaaa… Sudah bikin kamu menunggu dan ternyata hasilnya aku dan kawan-kawan belum dikasih kesempatan kali ini,” tuturnya seolah-olah aku menanyakan semua itu.

“Semoga ada kesempatan dilain waktu untukku ya” imbuhnya.

“Ah sayang sekali. Tapi hasil bukan segalanya , proses yang kamu lalui itu lebih dari cukup untuk bekal kamu. Setidaknya kamu sudah tahu seperti apa audisi untuk tampil di skala internasional. :)” jelasku.

“Aku setuju. Btw, kamu sedang apa?”

“tak ada..”

“kenapa?”

“nggak papa” jawab ku singkat.

“Hey! Ini bukan kamu. Sejauh aku kenal kamu, kamu nggak pernah pelit ekspresi” tegurnya.

“Kamu baik-baik? Kamu tidak pernah begitu sering menggunakan ikon titik dua kurung tutup yang katamu menyebalkan itu. Lantas ini kenapa banyak sekali?” selidiknya lagi.

Hufff…aku tidak akan pernah bisa lari dari pertanyaan yang diajukannya. Tidak akan pernah.

“Aku emosi!” sungutku.

“Kamu? Emosi? Kok bisa?” rentetan tanya yang aku sudah bisa bayangkan seperti apa wajahnya ketika itu.

“Iyah. Aku emosi tadi. Emosi banget! Nget..! nget..! Ada kemarahan di dalam dada yang tanpa sebab aku rasakan. Lantas, belum juga aku bisa kendalikan emosi ku ini, tiba-tiba rasa sedih datang menelusup dengan enaknya! Gak tahu diri dia! Bahkan alasan dan kesempatan berpikir ‘kenapa’ saja tidak juga diberikan,” jelasku memburu.

“Dan kamu masih menangis sekarang, Nona?”

“Sedikit. Aku desperate mencari tahu sebabnya 😦 ” jawabku lemas.

“Sepertinya ada seseorang di luar sana yang meluapkan emosinya dan mengantarkannya melalui aku. Dan aku mewakilinya melalui air mata” jelasku sambil tangan ini tak henti-hentinya memainkan pinsil yang kini tak lagi runcing ujungnya.

“…..”

Ada jeda yang cukup panjang sampai akhirnya dia mulai mengetikkan sesuatu lagi.

“Kamu pakai gelang?”

“Pakai, tapi sekarang ngga. Kenapa memangnya?” tanyaku penasaran yang merasa aneh dengan pertanyaannya.

*sebuah gambar terkirim baru saja*

“Apa ini?”

“Kamu suka dengan gelang ini?”

Ummm...pada dasarnya aku suka pakai aksesoris. Dan gelang semacam ini memang yang aku suka. Kenapa?”

“Aku akan kirim itu untuk kamu”

“Lho? Apa alasannya?” tanyaku heran.

“Itu gelang pemberian Ibuku. Dan aku akan kirimkan untuk kamu. Eits…jangan terlalu senang dulu Nona. Ada syarat yang harus kamu penuhi untuk mendapatkannya,” senyum jahil terkirim di layar mungil dihadapanku kini.

Seribu tanya menggantung diudara dan tengah kucoba rangkai untuk menafsirkan apa maksudnya.

“Ah, kenapa pamrih betul kamu sekarang?” sungutku.

“Okey, apa syaratmu? Tapi tolong jangan mahal-mahal ya, pundi pundiku belum sepenuhnya terisi” rajukku.

“Sejak kapan aku meminta uang darimu, Nona?” tanyanya lagi sebelum ia mengajukan pertanyaan selanjutnya.

“Aku ingin kamu berjanji satu hal.”

“Apa?”

“Aku ingin kamu mengontrol emosimu. Aku tidak mau melihatmu bersedih terus dan aku tidak ingin melihatmu frustrasi seperti sekarang ini. Pleasee… demi aku?” pintanya lebih memohon.

Oya, satu lagi. Aku ingin kamu menolak jika ada yang ‘memintamu’ menjadi penghantar luapan emosi. Bisa kan nona?” tanyanya mencari keyakinanku.

“Aku ingin, hanya… aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku lupa mengunci pintu hati, jadi siapapun bisa dengan gampangnya mengirimkan  emosinya kepadaku. Dan sayangnya malam ini aku tidak memiliki pondasi yang cukup kuat untuk menahannya.” ujarku lirih.

“Tapi aku akan coba.” kujulurkan jari kelingkingku. “Kait kelingking, tanda janjiku.” Sebuah titik dua dan ‘d’ besar kulayangkan bersama dengan kelingking maya tanda aku berjanji.

“Sejujurnya, aku mengkhawatirkanmu, Nona. Khawatir sekali dengan kondisimu. Khawatir jikalau kamu terus saja merasakan duka dan pilu ‘mereka’ lama-lama kamu sendiri yang akan terluka. Dan aku tidak mau melihat itu.”

Serangkaian cemas nya memancing haru yang sejak tadi tertahan. Kali ini aku tahu titik air mata ini jatuh karena apa dan kali ini aku tahu titik air mata ini jatuh untuk siapa. Dan aku merasa bersalah telah membuatnya mengkhawatirkanku seperti ini.

“Terima kasih, :’)” hanya itu yang bisa kukatakan padanya.

“Inget ya, kalau kamu merasa sedih dan sendiri kamu lihat gelang itu. Secara fisik, aku memang tidak bisa menemani kamu tapi kamu tahu aku pasti ada buat kamu jika kamu membutuhkannya. Anggap saja gelang itu mewakili aku dan kamu harus pegang janjimu,”

“Iya,” aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Kristal bening kini sudah mengalir deras dan tahu harus  kemana bermuara. Ditengah sepi yang kurasa, aku masih memiliki nya.

Malam hendak berganti pagi, udara dingin masih  saja bergayut manja seperti enggan pergi. Di tengah rasa sepi dan haru aku masih ingat pesan terakhirnya sebelum ia memaksaku lelap dalam mimpi.

“Kamu tahu, Ibuku pasti ikut senang jika gelang ini ada padamu. Karena gelang darinya bisa mengusir rasa sedih seorang perempuan manis yang sedang beradu ibu jari denganku saat ini. Selamat beristirahat Nona.”

Dia, sahabatku yang selalu bisa membuatku mengetikkan titik dua huruf ‘d’ serta titik dua tanda petik dan kurung tutup seperti ini :’) yang seolah menenangkanku dalam haru.

When they said: “I Do!”

Rasa haru kadang datang bukan karena duka, bukan juga bahagia, namun merayap karena memori yang terbuka. Haru yang menelusup kadang menyesakkan, namun kadang juga menyenangkan. Membuncah membuyarkan lamunan dan membentuk serangkaian pemikiran.

Seperti sore ini, rasa haru ini begitu kurang ajar! Ia datang tetiba, membuat mata ini buram karena tak kuasa membendung bulir air mata yang terasa hangat membelai pipi. Haru  yang campur aduk rasanya, membuat senyum tersungging sempurna disela air mata yang masih saja merembas seenaknya.

In a while, in a word,

Every moment now returns.

For a while, seen or heard,

How each memory softly burns.

Facing you who brings me new tomorrows,

I thank God for yesterdays,

How they led me to this very hour,

How they led me to this place...”

Sepenggal lagu ‘Two Words’ milik Lea Salonga mengalun, menguntai nada indah, menemani saya menikmati indahnya langit sore yang cerah. Membawa kenangan manis setahun lalu mampir kembali sore ini.

Di sebuah Gereja di pinggiran kota, seorang pria tampan berjas hitam berdiri dengan gagahnya berjalan menuju altar. Sikap tenangnya tidak juga menutupi rasa gugup yang menggayut halus di wajahnya. Hari ini adalah hari yang paling dinantinya setelah 8 tahun perjalanan yang berlalu tidak tanpa suka dan duka.

Perjalanan panjang untuk dapat meminang gadis manis berbalut gaun putih panjang yang kini tengah menggamit lengan kanan si pria dengan lembutnya sambil sesekali tersipu malu.
“Ah betapa cantiknya ia. Tak pernah kulihat ia begitu cantik memesona seperti hari ini,” mungkin itu yang ada di dalam pikirannya saat berjalan bersisian dengannya. Ada rona bangga dan rasa lega yang tersirat saat seluruh mata tertuju kepada mereka dan mengantarkan pasangan berbahagia itu dalam jutaan doa menuju altar pemberkatan. Sorot mata bahagia menghilangkan ragu, menyapu gelisah yang sejak pagi iseng menggoda.

Every touch, every smile,

You have given me in care.

Keep in heart, always I’ll,

Now be treasuring everywhere.

And if life should come to just one question,

Do I hold this moment true?

No trace of sadness, A

lways with gladness…

‘I DO…’

Janji manis nan sakral di hadapan Tuhan serta Pastur yang mengikat hubungan mereka membuat semua yang hadir merasakan getaran haru yang begitu syahdu. Sebuah simbol pengikat melingkar di masing-masing jari manis mereka yang dipasang dengan penuh cinta.

"I face each moment, no trace of sadness, always with gladness with you"

“I face each moment, no trace of sadness, always with gladness with you”

Now a song that speaks of now and ever,

Beckons me to someone new,

Unexpected, unexplored, unseen,

Filled with promise coming through.”

Kini, tak ada lagi yang menghalangi jalan cinta yang mereka jalin. Janji sehidup semati di hadapan Tuhan membawa mereka menjadi manusia yang baru. Menjadikan mereka satu dalam doa setiap hati yang hadir kala itu.

You and I forever change,

Love so clear, never blurred,

Has me feeling wondrous, strange,

And if life should come to just one question,

Do I face each moment true?

No trace of sadness, always with gladness, ‘I DO…’

Never with sadness…

Always with gladness… ‘I…DO….’ “


Kemarin, masih ada ‘aku dan kamu’ tapi kini semua berubah menjadi ‘kita’.  Dan ini bukan lah akhir dari cerita cinta yang telah diperjuangkan selama delapan tahun, namun menjadi sebuah awal yang baru menjalani sebuah kehidupan yang dinamakan ‘bahtera rumah tangga’. Semoga perahu yang berlayar ini selalu dijalani dengan penuh suka cita dan cerita bahagia meski badai pasti akan terus menggoda.

Denting piano yang mengiringi Lea Salonga tuntas membawa keharuan yang begitu menggebu di hati saya. Hanya sepenggal doa untuk mereka – pasangan yang berbahagia yang tersenyum saat melangkah keluar dari Gereja – sahabat saya tercinta, Lesti & Iwan. Semoga bahagia tak pernah sungkan mampir di rumah tangga kalian.Kini dan nanti.

With love,

the happiest sister :’)

(thank you for allowing me write the happiest moment of you,dear)

My warmest place, 07082012