E.D

ED. Sebut saja demikian. Aku lebih sering memanggilnya rocker ketimbang nama aslinya, Elzano Danarditto. Itu karena penampilannya yang buatku mengira ia lebih cocok menjadi seorang rocker ketimbang designer. Kami bertemu setahun lalu. Ia anak baru di kantorku. Cubicle-nya tepat berada di sisi kananku. Huh! Tempat incaranku, sejak Danang, designer sebelumnya mengundurkan diri. Tapi apa daya, disaat aku seharusnya memindahkan barang-barang, aku justru mendapatkan dinas luar selama seminggu. Jadilah ia menempati pojok impianku sejak dulu.

Aku punya spot asyik di gedung kantor ini yang biasa kudatangi saat sore hari. Tempatku paling sering menyendiri sambil menyesap kopi atau sekedar membaca buku menikmati udara sore yang cukup damai di tengah riuhnya Jakarta. Tiba-tiba..

“Ngapain Lo di sini?” sebuah suara membuyarkan lamunan soreku.

Saking terkejutnya aku langsung menoleh dan tanpa sadar menumpahkan cangkir kopi yang masih utuh dan mengepul panas.

“ouch”

“segitu kagetnya..”

Aku hanya melihatnya sekilas kemudian sibuk membersihkan tumpaham kopi yang membasahi celana khaki kesayanganku. ED, si rocker gadungan itu malah mengambil buku yang tengah kubaca tanpa berkata maaf sekalipun. Sigh!

Angkuh sekali dia. Matanya serius, menelaah setiap ruas tulisan yang ada dibuku bersampul biru. Atlantis, buku yang tengah kuselami akhir-akhir ini.

“Hoo..jadi cewek kayak Lo suka buku berbobot macam ini juga? Hmm..”. Brengsek! Kata-kata macam apa itu?! Bukannya sedikit bertanya bagaimana dengan celanaku malah mencela. Sial!

“Kenapa dengan ‘cewek model gue’? Ada larangan, ha?” tanyaku sinis sambil meraih buku yang masih dipegangnya. Aku meninggalkan dia yang hanya tersenyum tipis dan terkesan sinis. Ia tak menghiraukanku yang masih kesal, ia malah menatap jauh kedepan seperti tengah menanti seseorang di kejauhan. Aku terlalu malas mengajaknya berbicara setelah kejadian tadi. Aku memilih pergi dan meninggalkannya sendiri dengan pikirannya yang entah sedang berenang kemana.

Semakin hari aku mengenal ED si rocker, semakin aku diburu penasaran. Siapakah dia?

Sikapnya kadang cuek, kadang sinis, kata-katanya cenderung sarkas, tapi juga manis yang membuatku keheranan dibuatnya. Pernah suatu hari aku tidak masuk kantor selama dua hari karena demam tinggi. Saat aku masuk kantor lagi ia langsung bertanya kabarku. Bagaimana kondisi terakhirku, meskipun raut wajahnya masih saja tengil dan bikin malas. Tapi sejujurnya, aku menghargai perhatian kecil itu.

Minggu lalu, aku mendapatkan sebuah kiriman dari seorang kawan di Surabaya. Arus Balik, buku milik Pram yang sudah kucari sejak lama dan akirnya ia  menemukannya untukku. Dengan rasa penasaran, aku segera membuka sampul pembungkusnya yang masih terlipat rapi.

ED menghampiriku. Ia hanya memperhatikan sekilas kemudian takjub menatapku lekat.

“Suka Pram?”

Aku berhenti sejenak dari aktivitas ku dan menoleh ke arahnya.

“Iya”

Hmm..gue kira cewe macam Lo itu sukanya metropop sama teenlit aja. Bacaan berbobot macam Pram masih bisa dicerna rupanya”

Brengsek! Dia sudah menghinaku kedua kalinya soal bacaanku sejak kali pertama bertemu. Otakku rasanya mendidih.

“Maaf? Cewek Macam Gue itu maksudnya apa ya? Kalau gue suka bacaan Pram kenapa? Ada larangan?” suaraku kian meninggi.

“Woo..woo, sabar Nona. Gue gak bermaksud menghina. Yaaa..kebanyakan cewe sekarang itu kan lebih suka novel menye-menye yang udah ketauan happy ending. Dengan bahasa yang yaaa alakadarnya,” ia mencoba menjelaskan sambil tersenyum menatapku.

“Dan gue gak pernah mengira Nona suka dengan Pram. Good point, then!” imbuhnya sambil lalu.

Tunggu! Ia sama sekali tidak memberiku jeda untuk menjawab tuduhannya, dan ‘Nona’? sejak kapan namaku diubahnya menjadi Nona?

Sejak kejadian itu ia sering memanggilku dengan nama Nona. Ya, Nona. Panggilan yang begitu manis ditelingaku. Tapi aku masih tidak bisa bersikap manis padanya. Aku masih sebal dengan kata-katanya diawal bertemu.

Seminggu lalu, semuanya berubah seketika. Pada akhirnya aku bisa berdamai dengannya, dengan Elzano Danarditto. Aku melihatnya sebagai sosok yang berbeda saat ia lepas dari Macbook Pronya.

Hari itu, aku terlalu penat bekerja di dalam ruangan. Aku memilih menghabiskan sore di atap gedung kantor sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong cinnamon roll. Sebenarnya aku hanya sekedar menulis, dan mencoba menuangkan sedikit isi pikiranku di Jurnal Harian dalam blog-ku. Daripada aku harus dihantui kata-kata yang semakin hari semakin membanjiri kepala, lebih baik aku menulis sekarang.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Dan “Menulis adalah sebuah keberanian…” –Pramoedya

Seseorang mengagetkanku dengan quote dari Pram. Aku menoleh mencari sumber suara. Ternyata ED sudah berdiri di belakangku sambil menggigit potongan cinnamon roll milikku yang ia ambil tanpa bilang-bilang.

“Sejak kapan kamu di sini?” tanyaku sinis.

“Dan siapa yang ngijinin kamu ambil cinnamon rollku?”

“Hahaha… kamu marah ini karena aku berdiri di sini atau karena cinnamon roll yang paling ditakutin perempuan karena bisa bikin gendut ini aku ambil sih?”

“Ya dua-dua nya lah! Jatah ngemil soreku kan jadi berkurang!” sungutku sambil menyambar potongan terakhir di tangannya yang langsung kulahap habis.

Ia terkejut, namun tawa pun langsung meledak seketika. Sebuah usapan lembut jatuh tepat di kepalaku dan sedetik kemudian ia mulai mengacak-acak rambutku yang semakin masai karena angin sore yang kencang.

“Kamu menarik. Perempuan sok manja, yang ternyata menyukai bacaan seberat Pram, dan gak pernah takut gendut karena cinnamon roll. Aku suka!”

Ha? Apa-apaan ini? Segitu mudahnya ia menilai aku hanya dengan pertama bertemu? Manja? Apa iya aku segitu manjanya? Memang terlihat ya? Tunggu! Kemana sapaan ‘gue-lo’ yang sering kulontarkan? Dan mengapa ia juga mulai mengubah sapaan kami?

“Dan satu lagi, kamu menulis.”

“Aku menulis? Ada yang salah?”

“Justru tidak ada yang salah denganmu yang menulis. Aku sejak tadi memperhatikan kamu, tapi kamu terlalu sibuk dengan leptop mu itu. Aku sudah bilang kan tadi, menulis adalah sebuah keberanian. Berani menyuarakan isi hati dan pikiran dalam media tulisan. Dan seperti kata Pram, menulislah agar tidak hilang dalam sejarah,” tuturnya panjang lebar yang membuatku takjub.

“Siapa kamu?”

“Maksudmu?”

“Aku gak ngerti, kamu itu aneh. Sok cuek, kadang sinis belum lagi kata-kata kamu juga sarkas. Tapi sekarang, kamu bisa begitu manis dan mengutip pram dengan sangat baik. Aku kayak ngga kenal kamu. Apa jangan-jangan kamu punya dua kepribadian?”

Tuduhanku barusan kontan membuat tawanya meledak hebat.

“Oke. Gimana kalau kita berkenalan secara proper dari awal. Aku Danar” ujarnya sambil mengulurkan tangan yang pura-pura dibersihkannya sebelum bersalaman denganku.

“Haha, baiklah. Aku terima perkenalan ini. Aku Bulan.” kuulurkan lenganku menyambut niat baiknya.

Sebuah jabat tangan yang hangat, dan erat. Ini yang aku suka. Jabat erat yang seolah membuka pintu pertemanan yang kaku di awal.

Anyhooo, namamu cantik. Secantik wajahmu yang serius waktu menulis,”

“Haha, ngerayuuu?? Umm..sebeneranya aku sudah punya nama panggilan untukmu.”

“Untukku? Apa?”

“ROCKER!” ujarku bersemangat yang langsung disambutnya dengan tawa.

“Hahaha..baiklah. Kamu boleh memanggilku rocker asal aku bisa memanggilmu Nona, bagaimana?” ia membuka penawaran yang langsung kuiyakan.

Sore itu, langit memendarkan warna lembayung jingga yang hangat, serupa hangat pertemanan aku- yang diawali dengan sepotong cinnamon roll- bersama seorang pria berinisial ED, Elzano Danarditto atau yang lebih sering kusapa rocker, yang kini menjadi teman baikku. Teman bercerita seru kala sore datang menyapa dan obrolan tentang Pram selalu jadi pembuka.

Jakarta 12 Desember 2012
*sedang belajar membuat cerpen. tulisan ini terinspirasi dari seorang kawan rocker yang duduk di sebelah saya. Thanks, bro!

Ragu

Ragu adalah hal biasa dan lumrah. Siapa pun bisa meragu dan khawatir. Sepertimu. Sepertiku. Sesekali ragu hadir mengisi relung hati kita. Sesekali ragu hadir memenuhi pikiran kita. Dan kita pun kadang hanya bisa terdiam. Kebingungan. Dan kita pun juga kadang hanya bisa merutuk tanpa mampu berbuat lebih banyak.

Namun ragu bukanlah hal yang pantas kita biarkan larut terlalu lama. Karena sekali meragu, maka sedikit demi sedikit rapuhlah ia: percaya. Karena sekali meragu, hancurlah ia: percaya. Dan kita tidak akan bisa beranjak kemana-mana.

Tahukah kamu apa yang kuinginkan ketika kita sama-sama meragu? Bukanlah pertengkaran dan bantahan yang kuinginkan. Tetapi kepercayaan dan dukungan yang kuharapkan hadir darimu. Yakinkan aku. Dan aku akan yakin denganmu. Percayai aku dan aku akan memercayaimu.

“Pernahkah kamu merasa bahwa apa yang kita lakukan selama ini hanyalah perbuatan yang sia-sia?”

Kutatap kedua bola matamu. Kupegang kedua tanganmu. “Sesekali mungkin memang pikiran seperti itu muncul. Namun aku tidak pernah mau memanjakan pikiran itu dan akhirnya membiarkan ragu itu menguasai seluruh hati dan pikiranku.”

“Aku kadang tak habis pikir dengan apa yang aku pikirkan. Kadang aku merasa semua ini sia-sia. Kadang aku merasa semua ini hanyalah perbuatan yang konyol. Aku meragu dengan apa yang kupercayai sebelumnya. Aku meragu dengan keinginanku sendiri.”

“Kamu tahu? Kadang kita seringkali berlaku seperti seorang gadis kecil yang ingin bisa mengendarai sebuah sepeda. Namun karena takut terluka dan terjatuh di tengah perjalanan ia belajar mengendarainya. Ia pun tak pernah memberanikan dirinya untuk memegang sepeda itu.”

Kamu tertawa mendengarku mengutarakan itu semua. “Bagaimana mungkin gadis kecil itu bisa mengendarai sebuah sepeda jika ia sendiri tak pernah mau memegang sepeda itu, sayang?”

“Begitu juga dengan kita. Bagaimana bisa kita tahu apa yang akan terjadi dengan kita jika kita tidak pernah mau memulai untuk percaya dengan perjalanan kita sekarang?”

Kulepaskan kedua tanganku. Kulangkahkan kakiku ke beranda rumahku. “Gadis kecil itu tahu kalau sepeda yang ia bisa naiki sudah menunggunya di garasi rumahnya. Namun dia tetap tak pernah berani melangkahkan kakinya untuk mendekat. Dia terlampau takut. Dia sudah memikirkan terlalu banyak. Dia takut terluka. Dia takut terjatuh. Dia takut dengan kejadian apa pun yang memungkinkan dia merasa sakit.”

“Lalu apa yang harus gadis itu lakukan?”

“Jika memang dia masih merasa takut. Jangan pernah berlatih sendiri. Jangan pernah memaksakan untuk berusaha sendiri. Ajaklah seseorang yang menurut dia mampu mendukungnya. Ajaklah seseorang yang menurut dia dapat diandalkan. Bila memang menjadi sulit baginya untuk berjalan sendiri dan berusaha mengalahkan ragunya.”

Kuedarkan pandanganku ke arah langit malam yang kini menaungi kami berdua. “Jika memang ragu hadir kepadamu. Utarakanlah kepadaku apa yang membuatmu ragu. Jika memang kamu merasa takut karena sesuatu membayang-bayangimu. Ceritakanlah apa yang kamu rasakan. Aku memang bukanlah orang yang bisa memberikanmu apa saja. Namun aku akan selalu berusaha melakukan apa pun yang kubisa untuk tetap bersamamu.“

Entah kamu sadari atau tidak, kulihat air mata menetes dari kedua matamu. Suaramu tertahan.  “Aku tidak mau menjadi gadis kecil yang selalu ragu itu. Aku tidak mau terus-menerus hidup dalam keragu-raguan. Temani aku.”

Aku tersenyum mendengarmu berucap seperti itu. Kupegang erat kedua tanganmu. “Kamu tak harus khawatir. Karena itu pun yang ingin aku tetap lakukan.”

 

Ps: thanks #Pram