Mencari Damai Merindukan Bahagia

Kata orang, damai itu indah. Damai itu senang. Dan damai itu menyegarkan.

Masih dengan kata orang, bahagia itu sederhana. Bahagia itu ada di mana-mana. Dan bahagia itu beragam bentuknya.

Lantas, apakah saya sudah menemukan damai dan mendekap bahagia?

Entahlah. Pun hingga sekarang saya masih tetap saja mencari mereka berdua. Meski saya hapal betul mereka tak akan pernah kemana-mana. Mereka masih di tempat yang sama. Hanya saja kadang bentuknya sudah berbeda. Berubah sesuai dengan apa yang menjadikan saya dewasa.

Berganti penampilan sesuai dengan lingkungan yang membentuk pola pikir saya tentang arti damai dan makna bahagia.

Tapi ada satu hal yang masih saya yakini hingga saat ini. Bahagia itu sudah ada di dalam hati saya sejak dulu. Tinggal menunggu waktu dan kesediaan hati saya untuk sedikit merunduk dan menengok ke dalamnya, apakah bahagia masih duduk manis di tempatnya.

Damai pun sama. Tak perlu mencarinya ke ujung dunia. Cukup meluangkan waktu dan peparu agar membebaskan hati. Saya tahu betul, damai membutuhkan cerahnya mentari, harumnya aroma hujan yang mencumbu bumi, derasnya aliran air yang tertangkap telinga. Dan harumnya rumput yang digauli embun dini hari tadi.

Ya.. sesederhana itu. Damai dan Bahagia yang tak pernah pergi kemana-mana, tapi menunggu hati saya menjemput mereka. Untuk bermain dan menghabiskan waktu bersama sambil mengisi pundi-pundi udara yang pernah terenggut paksa oleh IbuKota yang jumawa.

 

Damai pasti Bahagia, meski Bahagia tidak selalu beriringan dengan Damai.

Advertisements

Pindah ke Surabaya

“Bulan depan kita pindah ke Surabaya ya, Non.”

Saya yang sedang asyik menikmati keripik tempe dan setumpuk film, kontan saja langsung kaget dengan keputusannya. Wajah saya seolah mengatakan, “Serius?”. Dia hanya tersenyum sambil mengecup pipi kanan saya.

Well, ada sebuah project yang akan ia kerjakan. Mengapa harus pindah? Pasalnya ini project panjang yang memakan waktu bukan hitungan bulan, tapi tahun.

Saat itu juga langsung terbayang, saya dengan kegiatan sehari-hari saya. Betapa bahagianya saya akan segera bertemu dengan kawan kriwil; bisa berkumpul, berbincang, berdiskusi di c2o, main-main di Kenjeran, lihat-lihat vihara yang selama ini saya selalu merengek untuk di ajak kesana.

Berkumpul di salah satu taman kota untuk menikmati festival purnama bersama kawankawan pencinta purnama. O ya, saya bisa makan bebek goreng sepuasnya kapan saja dan dimana saja. Tak terkecuali bebek goreng yang lokasinya harus nyeberang jembatan Suramadu itu.

Dan yang paling saya nantikan adalah saya bisa dengan mudah menjadi kutu loncat. Ha? Maksudnya? Iya, kutu loncat, yang bisa dengan mudahnya loncat ke Bali kapanpun saya butuh karena jarak Surabaya-Bali sudah sangat dekat. Macam selemparan kolor saja. Haha…

Saya bisa bolak-balik ke Malang menemui keluarga saya. Main ke kebun apel sesuka hati. Datang secepat kilat ketika tante saya mengabarkan kalau pohon durian kami berbuah dengan lebatnya. Atau pohon salak dan strawberry yang siap panen. Dan tentunya bisa main-main ke daerah-daerah lain yang dulu hanya angan, yang dulu harus dipersiapkan jauh-jauh hari agar terlaksana meskipun kadang batal juga.

Ya, sebahagia itu saya.

Ketika banyak orang justru mengernyitkan dahi dan bertanya, “Kenapa harus Surabaya?” saya justru sebaliknya. Ya, meski saya tak pungkiri kalau Surabaya pernah membuat saya mimisan saat kali pertama menginjakkan kaki di kawasan Sidoarjo. Tapi, toh Surabaya tetap bikin saya rindu.

Ditengah lamunan saya yang bikin senyam senyum sendiri, tiba-tiba saja…

“Non, kamu kenapa senyam senyum gitu?”

Dia mengagetkan saya dengan suksesnya. Bikin lamunan saya hilang seketika, dan dengan bodohnya saya bertanya…

“Kita jadi pindah ke Surabaya, kan?”

Dia tidak memberikan jawaban. Dia hanya tertawa melihat kelakuan saya. Menurutnya saya seperti anak kecil yang haus akan liburan panjang. Saya diam. Tertunduk lesu karena ternyata apa yang saya bayangkan memang hanya sebatas bayangan saja. Kami tidak akan pernah hijrah ke Surabaya. Hiks..

 

 

 

“Kita memang nggak akan pindah ke Surabaya. Tapi… akhir tahun kita akan ‘main’ ke Wamena”

 

 

Aaaaakkk!

Jangan Tanam Terlalu Lama

Rasa takut adalah belukar yang siap membelit siapa saja yang membiarkan dirinya dicekam perasaan itu

Semalam saya gelisah. Tidak bisa tidur hingga pukul 2 dini hari. Lama sekali saya tidak pernah seperti ini. Ada banyak hal yang mampir dan iseng main-main di kepala saya. Berdialog dengan si kecil di kepala dan akhirnya memenuhi memori otak saya yang terbatas jumlahnya.

Ia memberikan banyak kekhawatiran dan rasa takut di kepala saya. Pada akhirnya membuat saya gelisah. Apakah ini ada kaitannya dengan informasi terbaru yang saya ketahui?

Ah, sial! Kenapa saya harus tahu kebenaran lebih dulu? Ada ketakutan yang-sialnya- memang mengahantui saya.

Tak ingin merasa gelisah dan takut sendiri, saya layangkan beberapa pesan singkat kepada dua orang sahabat saya. Saya tidak mengharapkan sebuah jawaban dari mereka. Saya tahu ini bukan jam wajar untuk berkirim pesan. Tapi setidaknya saya sedikit lega saat menuliskan pesan itu, yang entah kapan akan dibaca.

Bip bip

Sebuah pesan masuk. Pesan saya terjawab segera. Ah, senang betul saya membaca pesannya. Untung saja ia belum pergi jauh ke alam mimpi, kalau tidak tentu sangat susah untuknya dibangunkan.

Tapi saya rasa dia tengah kesambet. Jawaban yang tertulis sangatlah bijak, bukan karakternya sekali! Dia selalu saja meledek saya jarang berbalut kebijaksanaan meski saya tahu ada makna dibalik gurauannya.

Kekhawatiran memang wajar, tapi jangan dibuat berlebihan. Itu katanya. Hidup manusia berputar dan ketakutan jangan pernah bertahan lama di dalam kepala. Karena ia akan hidup dan nyata selama kita pikirkan.

“Macam kamu yang nggak pernah takut pulang malam, baik dari orang jahat ataupun hantu. Karena takutmu itu nggak pernah hinggap lama di kepala. Lantas kenapa ketakutan yang lain tidak dibuat sama dengan takutmu yang satu itu?” itu ujarnya pada saya.

Shit!

Dia benar! Saya tak pernah takut pulang malam, naik angkot kemana saja, orang jahat, jalan sendirian, hantu atau apapun. Karena saya tidak pernah menanamkan rasa takut itu di kepala lama-lama. Sebentar saja, lalu semuanya baik-baik saja.

Ya.. semuanya akan baik-baik saja. All is well!

 

*tulisan ini sudah ada di kotak draft sejak 22 Mei 2013 lalu, tapi tidak pernah sempat dipublish di sini*

Namaku Hujan

hujan

Perkenalkan, namaku Hujan. Di kemarau aku dirindukan. Di berbagai daerah aku dinantikan. Namun tidak di Jakarta. Saat kumenari, umpatan kudapatkan, makian dan hinaan dilontarkan, hanya karena lalu lintas yang lumpuh total. Lantas aku harus bagaimana? Kepada siapa lagi aku menuju ketika harap tak jua tersampaikan…

*otak saya kembali random saat terguyur hujan pagi tadi. foto pinjam di sini

[Random] Ambisi vs Mimpi

“Kamu nggak punya ambisi?!”

Pernyataan yang membuat saya berkerut mendengarnya. Ambisi. Apa sih definisi dari ambisi? Kenapa yang tertanam di kepala saya justru makna negatif ketika mendengarnya?

Ada yang menyamakan antara mimpi dengan ambisi. Menurutnya mimpi terbesarnya adalah ambisi yang harus dicapai. Jujur, saya sungguh tidak tahu menahu.

Kalau mau dibilang, saya hanya memiliki mimpi sederhana. Yang mungkin untuk sebagian besar orang tidak ada artinya apa-apa. Tapi saya sadari satu hal, kalau ternyata mimpi saya itu bisa jadi sangat berarti untuk satu atau mungkin beberapa orang jauh di luar sana.

Berbagi cerita, misalnya. Saat ini sedikit sekali orang-orang yang mau membagikan cerita untuk anak-anak di luar sana. Jangan sebut kota besar di luar Jakarta. Sebut daerah terpencil di pulau-pulau terluar di Indonesia.

Apa mereka pernah dengar cerita? Saya rasa tidak semua mengalaminya.

Dan mimpi saya sesederhana itu, berbagi cerita, untuk mereka, anak-anak di pedalaman rimba raya. Mereka yang mungkin tidak mengenal huruf bahkan buku tulis.

Saya ingin mengenalkan dunia pada mereka. Menceritakan kalau Indonesia tidak hanya tempat mereka tinggal saja, bahwa bendera kita masih merah putih, dan lagu Indonesia Raya tetap merdu didengar meski kadang dinyanyikan sumbang oleh suara-suara kecil yang belum paham tangga nada.

Ah, otak saya sudah terlalu nyinyir rupanya. Biarkan setiap orang mencari, mengejar, atau mencetak mimpinya. Apapun itu, adalah yang sebaik-baiknya diperjuangkan. Dengan hati.

 

*siang yang lumayan panas, bikin otak meleleh nyaris mengalir keluar dari kepala. semoga saja pikirannya selalu dingin.

Teras belakang, 19 Juli 2013 ; 13:37

Senja dan Kopi

Senja dan Kopi.

Selalu saja bersama, berdampingan, entah sebagai sahabat setia atau pasangan bahagia..

Maaf jika mungkin kau bosan dengan senja dan kopi yang selalu saja tertuang di sini. Di tiap laci memori yang memang sepertinya tertata apik hanya untuk mereka.

Jika kau ingin protes, silakan saja..

Toh, senja akan selalu sama. Rasa kopi juga tidak akan pernah berbeda

Kecuali…

Ketika secangkir kopi, selembar senja dan sejumput kecil rindu sebagai ‘pemanisnya’, tentu akan jadi berbeda rasanya.

Karena tiap tetesnya berisi tentang dirimu, ceritamu, dan mimpi yang pernah ada.

Yang tiap tetesnya menenggelamkanku dalam palung rindu paling jumawa. Dan yang membuat lembayung senjaku berubah jadi kelabu tua.

Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?

 

*my another random thought. just trying to keep my brain busy 🙂

Bicara Rumput

rumput

Rumput tetangga akan selalu hijau, apapun musimnya. Tinggallah bagaimana cara kita memaknai hijaunya rumput yang tersaji di pekarangan rumah..

Menjadi hijau yang menyejukkan dengan butiran embun di ujungnya atau hanya sekadar hijau imitasi yang terlalau pahit jika tertelan.

Entahlah..

*hanya sebuah pikiran random siang hari. 16 Juli 2013 12.26

#SebuahCatatan

Semua orang boleh bangga dengan apa yang ia punya. Semua orang boleh jumawa dengan rentetan gelar yang disandang baru saja. Dan semua orang boleh mengangkat dagu setinggi tingginya ketika ia berhasil berjalan keliling dunia dengan stempel imigrasi di paspor hijau tuanya.

Setiap orang boleh bangaa, boleh jumawa atas apapun yang menurutnya menjadi titik tolak ia mengeratkan nama di langit paling jumawa.

Untuk saya, biarkan saya berbangga diri atas apa yang saya capai untuk keluarga saya. Untuk ibu saya.

Meskipun paspor saya masih belum berpindah halaman sejak bertahun-tahun lalu, meskipun kaki kecil saya masih belum sempat bermain pasir di timur Indonesia, dan meskipun ransel saya masih belum mendaki puncak tertitnggi di Jawa, saya tetap bangga.

Bangga dengan apa yang sudah saya perjuangkan hingga saat ini. Memperjuangkan hidup orang-orang yang saya sayang dengan cara yang paling sederhana. Tidak mewah. Tidak berlimpah. Hanya cukup. Itu sudah.

*sebuah catatan kecil pengingat diri untuk tetap selalu bersyukur

[Random] Edisi Ramadhan

Ramdhan tahun ini saya harus bersabar ekstra. Bersabar menghadapi tubuh yang minta dimanja lebih. Bersabar menghadapi klien yang ajaibnya ngalah-ngalahin kantong doraemon. Dan makin bersabar dengan Ibu dan Panglima.

Tepat sehari sebelum puasa saya kehujanan. Seneng sih main hujan-hujanan, tapi nggak dalam kondisi macet total plus badan yang sedang dalam pemulihan pasca jatuh. Alhasil baju yang lepek harus kering di badan. Sampai di rumah, Ibu yang berniat baik memanjakan saya dengan air hangat untuk mandi ternyata tidak dibalas baik oleh tubuh ini.

Badan saya justru ‘demo’ sesudahnya. Demam tinggi menyerang, kepala saya serasa di tusuk ribuan jarum yang ampuun rasanyaaaa… Belum lagi setiap saya bangkit dari tempat tidur, bukan cuma bumi yang berputar tapi juga lambung saya yang bergejolak yang akhirnya bikin saya harus mengeluarkan semua isinya secara paksa. *yaiks*

Saya jatuh sakit.

Beberapa orang yang mendengar saya sakit seperti mahfum, “Sakit apa kali ini?”. Oh, Tuhan… Kok kesannya saya langganan betul dengan sakit. Tapi memang, beberapa hari sebelumnya saya sakit. Tapi itu karena jatuh terpeleset di kamar mandi yang membuat tulang ekor saya bergeser sedikit.

Sedikit sih.. tapi imbasnya bikin badan meriang, BAB nggak lancar, dan yang pasti saya harus menahan sakit sekali lagi saat tulang dikembalikan posisinya sedia kala. Saya bed rest total!

Ada saja yang komentar bikin sakit telinga, miris hati. “Kepleset aja kok sampe bed rest , sih?” Sedih dengar komentarnya. Andai saja saya mau dan bisa, saya ogah deh jatuh. Apalagi sampai tulang bergeser. Sakitnya itu minta ampuuun…. Sampai sekarang saya masih harus terapi terus. Untung saja rasa sakitnya tidak ‘lebay’ seperti waktu pertama kali ‘dibenahi’.

O ya, balik lagi.

Saya kembali mengunjungi dokter yang memang biasa merawat saya sejak anak-anak. Beliau hanya senyam senyum melihat wajah saya di ujung antrian.

“Non..kamu tuh bandel nggak udah-udah sih?! Dibilang nggak boleh capek, dia malah ngilang nggak tahu kemana. Dibilang jangan banyak gerak kamu malah pecicilan. Dibilang jauhin kopi, eh kamu malah getol minum. Sekarang apa? Main hujan-hujanan? Kamu itu lho.. kayak anak kecil aja deh..”

Saya yang diceramahin seperti itu hanya bisa mengulum senyum. Ya, semua yang beliau bilang benar adanya. Tapi untuk yang terakhir, itu diluar kehendak saya. Saya sedang tidak ingin bermain hujan-hujanan, tapi ternyata Tuhan kasih saya kesempatan main sebentar.

“Imun kamu itu nggak seperti orang normal kebanyakan. Imun kamu itu mines. Kurang banget. Jadiii.. please, take a good care of your body.”

Dokter kesayangan yang makin bijak itu menasehati saya kian pasti. Ibu hanya bisa geleng-geleng melihat saya yang nyengir lebar dinasehati.

“Imun kamu nggak bagus, kayaknya kecilnya kamu kurang ASI ya?”

Tiba-tiba mata dokter itu tertuju pada Ibu. Dengan sigap ia langsung mengiyakan pernyataan dokter.

“Nggak heran”

Beliau kembali dengan resep di tangannya. Sambil menarikan jemari merangkai resep-resep obat yang harus saya habiskan, ia menerangkan kalau daya tahan tubuh saya yang buruk ini karena asupan ASI yang sangat kurang semasa balita.

Memang benar. Saya merasakan ASI tidak lebih dari 9 bulan saja. Singkat sekali. Ibu pernah bercerita kalau saya harus disapih paksa karena ternyata saya akan memiliki adik lagi. Jadilah saya, si anak sapi. Sejak sembilan bulan saya sudah akrab dengan namanya susu formula ataupun susu sapi murni.

Sejak saat itu, kondisi tubuh saya menurun. Ibu tidak bisa memberikan ASI, pun ketika akhirnya adik saya tidak pernah merasakan dunia karena sakit yang Ibu derita, ASI pun tak lagi mampir ke bibir saya. Pikiran telah mengikis susu dari kantung ASI milik Ibu. Cairan putih itu tidak pernah lagi keluar di sana.

Sedangkan saya yang masih balita, harusnya menyesap ASI sampai usia dua tahun demi pembentukan daya tahan tubuh yang optimal. Untung saja hanya daya tahan tubuh yang kurang, bagaimana kalau kecerdasan yang berkurang? Astagfirullah…

Selama perjalanan pulang, saya jadi berpikir. Betapa hebatnya ASI. Bahagia betul mereka, anak-anak, yang merasakan ASI selama dua tahun. Daya tahan tubuh si bayi terbentuk dengan baik, perkembangan otak juga demikian. Lantas, bagaimana dengan anak-anak yang tidak pernah merasakan ASI sama sekali?

Ah, kepala saya makin pening dibuat berpikir.

Menurut Ibu, tidak hanya asupan ASI hingga dua tahun saja yang menentukan kondisi anak. Kualitas ASIpun sangat menentukan. Kualitas ini tidak didapat hanya dari makanan saja, tapi kualitas secara psikis yang terbentuk dari si Ibu. Ibu hamil dan menyusui dilarang keras stress. Dia tidak hanya harus sehat secara fisik, tapi juga psikis.

Dari situ bisa terlihat karakter yang terbentuk dari si anak. Ah, entahlah untuk karakter anak. Saya belum tahu pasti. Tapi satu yang saya yakini betul, ASI yang cukup bisa membentuk daya tahan yang baik untuk anak ketika ia dewasa.

Ya.. saya rasa itu. Dan bagaimana dengan daya tahan tubuh saya sekarang? Hmm.. saya harus menjaga badan lebih ekstra hati-hati. Tapi tidak lantas saya manjakan bak ratu sejagad, tapi setidaknya saya berusaha tidak menzhalimi diri saya. Itu sudah.

 

*Nona yang senang bisa beraktifitas lagi dan bisa puasa lagi. Yeay!