Virgo dan Gaya Bepergiannya

Saya menulis ini setelah membaca salah satu tulisan milik kawan blogger, Johanes Jonaz. Ia mengupas gaya travelling orang-orang berdasarkan zoadiaknya. Hmm..menarik! Saya membaca komplit semuanya. Mulai dari Capricorn hingga Sagitarius. Dan tentu saja bintang milik saya sendiri, Virgo.

Untuk sifat dasar seorang Virgo adalah:

Perfeksionis level tinggi. Segala sesuatu harus bagus, harus sempurna. Virgo juga agak konvensional, entah itu dalam pola pikir ataupun penampilan. Agak sulit mengajak Virgo untuk santai sejenak. Dalam pikirannya harus produktif dan produktif setiap saat. 

Untuk hal yang tertera diatas, saya mengamininya sepenuh hati. Saya itu perfeksionis tanpa saya sadari hingga beberapa tahun terakhir ini. Baik dari soal pekerjaan hingga penampilan. Perfeksionis soal penampilan di sini, bukan berarti penampilan saya harus wah, tapi paling tidak rapi menurut pandangan saya. Untuk masalah konvensional, tidak terlalu. Tapi balik lagi, selama itu nyaman untuk saya pakai saya memilih tetap konvensional tapi tidak kampungan.

Dan sangat benar sekali jika saya sangat sulit untuk diajak santai jika menghadapi masalah. Saya bisa sangat uring-uringan jika itinerary yang sudah dibuat harus berantakan hanya karena kelalaian satu orang. Atau ketika saya harus mengubah haluan perjalanan dalam waktu singkat, otak saya tidak akan berhenti berpikir segala jenis rencana untuk dilakukan. Ya, itulah saya. Tapi sudah setahun terakhir saya bisa melunak sedikit. Ada seseorang yang kerap mengingatkan saya untuk sedikit ‘ngerem’ otak saya supaya tidak ngebul katanya, hehe.

Virgo menginginkan traveling yang sempurna ke tempat-tempat yang indah yang sudah populer demi menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan selama traveling, misalnya saja kondisi jalan yang susah di tempuh, kondisi cuaca yg memungkinkan penundaan penerbangan atau hal-hal lain yang mungkin timbul dalam traveling ke tempat yang tidak populer.

Seorang Virgo tidak bisa dijadikan leader dalam traveling, tapi akan lebih bermanfaat jika dimintai pendapat sebelum/ selama traveling. 

Menurut ceritanya, seorang Virgo itu senang bepergian ke tempat yang sudah diketahui kenyamannya. Haha, untuk itu siapa pula yang akan menolak? Apalagi jika perjalanan itu dibiayai oleh pihak ketiga, seorang ‘pejalan gembel’ pun dengan senang hati melakukannya. Demikian juga saya. Tapi jika saya harus memilih, saya senang bepergian ke daerah yang masih belum pernah dijamah oleh orang. Kalau ditilik sih sifat bepergian ini lebih mirip dengan Scorpio dan juga Libra.

Leo sangat tidak cocok dengan saya. Saya tidak suka dengan keramaian dan saya bukan seorang sosialita. Kalau banyak kawan saya ke Bali menyempatkan diri dugem di salah satu club malamnya, saya memilih menyendiri di Ubud untuk belajar tari atau mungkin belajar mbatik di salah satu di desa di Imogiri.

Karakter bepergian Gemini juga lumayan cocok dengan saya. Saya senang berdialog dengan orang asing, penduduk lokal setempat contohnya. Saya tidak pernah takut saat nyasar di suatu daerah, karena saya biasanya akan mendapatkan teman baru di sana.

Saya menyukai sejarah belakang ini. Nggak heran kalau teman saya menjuluki saya ‘kuman candi’ karena saya pernah ‘hilang’ beberapa kali saat liburan dengan alasan mengunjungi candi atau berdiam diri di museum. Kalau sudah berada di dalam museum tua, saya seperti mendapatkan pasokan tenaga tiba-tiba hehehe.

Terakhir, saya melihat diri saya mirip dengan Aquarius. Untuk yang satu ini, mungkin tak perlu saya ceritakan langsung di baca saja di blog milik Jonaz. Tulisan di atas sudah cukup narsis mendeskripsikan kepribadian saya. Untuk yang ingin mengetahui tentang gaya traveling berdasarkan zodiak, mungkin kamu bisa mengunjungi blog milik Jonaz di sini!

Dan lagi-lagi saya berpikir, sebuah perjalanan itu tidak dinilai sejauh mana kaki saya melangkah. Tapi seberapa banyak ilmu yang saya dapat selama berperjalanan. Seberapa banyak saya bersyukur pada Tuhan dengan semua nikmat yang terhampar di depan mata apapun bentuknya. Dan seberapa sering saya berbagi dengan sesama di daerah yang jadi persinggahan kaki dan juga hati saya. Itu sudah.

Advertisements

Cerita Dunia dalam Genggaman

Lama kita tak berjumpa, sejak waktu kita berpisah di stasiun Tugu, Jogja, tepat setahun lalu. Kamu tidak tampak berbeda, tetap rupawan seperti biasanya. Kita berjalan menuju pusat kota, mencoba mencairkan suasana dengan bercerita tentang masa dimana kita selalu bersama dulu kala.

Namun, ada yang berbeda. Bukan pada rupa yang terbaca, tapi pada rasa yang ada disini. Di dalam dada. Entah bagaimana ini bermula, ketika kurasa segala perhatianmu bukan lagi hanya untukku semata. Seluruh ceritamu masih saja harus terbagi dengan si mungil yang enggan lepas dari genggaman.

Padahal kutempuh ratusan kilometer berkendara hanya untuk melihatmu yang kuharap dengan riang gembira menyambutku bahkan tak segan menghamburkan pelukan hangat ketika kuingin kau dekap. Kamu tahu? Perjalanan ini panjang, sayang. Aku jadi bertanya, haruskan aku bertahan denganmu yang masih asyik berkutat dengan ‘dunia’ mu sementara aku nyata saat ini dihadapmu?

Entah kamu bertukar cerita dengan siapa. Dan kurasa bukan seseorang yang patut kutaruh curiga, tapi pada apa yang membuatmu lupa. Kamu menjadi akrab dengan mereka, kawanmu di seberang sana. Berbagi canda tawa dengan riuhnya yang bersuara bagai denting nyaring di suasana hening antara kita.

Atau.. kita ubah saja cara komunikasi kita? Agar aku tahu bagaimana rasanya riuh ceritamu meski itu tercetak dalam layar mungil si pencuri suara mu yang ceria.

Dulu, sebelum kita bersua, kamu selalu antusias menjawab apa saja ketika kutanya meski hanya sebuah kabar. Sekarang, kamu menjawab tanyaku dengan sebuah pesan “lihat te-el ku aja” dengan entengnya.

Bukan.. bukan tentang ceritamu yang kutunggu. Tapi bagaimana caramu bercerita yang membuatku selalu larut dalam duniamu. Itu saja. Dan te-elmu itu tidak bisa melakukannya. Karena melalui ceritamu, aku merasa ‘ada’ di sana. Mendampingi dan berinteraksi, meski itu semua hanya dalam imaji.

Aku bosan bertanya padamu malam ini yang selalu dijawab dengan ekspresi ala kadarnya. Ia, si mungil yang kebanyakan orang bilang sangat pintar namun pada akhirnya membuat kamu menjadi seperti orang bodoh yang tertawa sendiri tanpa peduli sekitar. Membuatmu mendapatkan sebuah julukan baru ‘si autis’ yang bikin aku sakit mendengarnya.

Ia, si mungil yang ada di tanganmu, memang membuat dunia jadi ada di dalam genggaman. Atau… jangan-jangan hanya sebatas itu saja duniamu?

Jakarta, 28 November 2012

Sebuah Renungan, “dunia itu semakin indah jika kita mau membaginya dengan mereka, bukan hanya yang ada di dunia maya tapi juga mereka yang ada di dunia nyata. semoga kita tidak pernah lupa. :)”

*foto diambil di sini