[Random]

Menulis itu harusnya menenyangkan. Bukan beban. Memang itu yang harus ditanamkan di kepala setiap orang yang ingin menulis. Lantas, apakah saya sudah merasakannya?

Dulu sekali, saya merasakannya. Menulis itu menuangkan semua yang terkenang di kepala, tertanam di hati, tercium lamat-lamat oleh hidung, tercecap segar di lidah, tergores perih di kulit dan lainnya yang bisa dirasakan seluruh panca indera.

Kini, semua itu blur. Absurd. Antara ambisi, emosi, dan keinginan yang terlalu. Pada akhirnya kenikmatan itu hilang dan tenggelam, tidak berkesan.

Apa iya saya sudah kehilangan rasa?

Terlalu banyak aturan justru membatasi otak saya untuk berlari. Dia jadi terlalu berhati-hati. Ngeri  sama komentar sana sini. Ragu dan akhirnya buntu. Belum lagi ocehan yang justru menjerumuskan otak saya dalam labirin pikirannya. Mengatur dan mengarahkan saya untuk menjadi sepertinya. Entah seperti siapa.

Kadang saya ngobrol sama hati dan makhluk kerdil di kepala, yang kalau sedang anteng cukup bijak, bahwasanya bahasa itu hanya urusan kesepakatan saja. Mengolah rasa, kata, dan menyuguhkannya untuk para pembaca. Dan bahasa itu ndak saklek,  karena dia berurusan dengan hati yang punya selera masing-masing. Sederhana.

Tak ubahnya seorang chef yang menyajikan hidangan nan lezat yang tak hanya dicecap indera perasa tapi juga tampak cantik di mata. Setiap yang disajikan bukan hanya untuk pemuas penghuni perut saja tapi juga batin. Karena ada sebagian hati yang tulus tersisip halus untuk jadi pelengkapnya.

Serupa dengan menulis. Hati punya peran penting. Kalau pembaca tidak puas dengan apa yang dibaca, yasudah. Tak perlu dipaksakan juga untuk puas. Tinggal pindah dan cari yang lain.

Toh, buat saya saat ini menulis untuk mengeluarkan apa yang mengganjal. Bukan memenuhi kebutuhan pasar, yang sayangnya hanya bentukan karena kebutuhan.

Hhh… saya egois!

Lalu, apa yang saya lakukan sekarang? Mungkin saya harus berhenti sejenak. Istirahatkan otak yang mulai berkelahi dengan ‘si kecil’, berebutan antara hati, logika, dan pembaca.

Karenanya, saya pamit. Sebentar saja.

Advertisements

Sebuah Pelukan

Perjalanan ribuan kilometer jauhnya kadang tidak hanya membawa efek lelah pada fisik semata, tapi juga hati dan pikiran. Kadang ada hal-hal yang tidak bisa diduga saat melakukan perjalanan. Inilah yang membuat lelah yang bertumpuk, menggunung, dan kadang melebihi batas maksimal seharusnya.

Seperti semalam, saya tiba di Jakarta dengan penerbangan terakhir dari Makassar dengan menggunakan maskapai penerbangan yang katanya kalau promo paling murah (padahal mahal juga). Saya sudah tidak tahu bagaimana rupa saya semalam. Lelah yang menggunung membuat pertahanan tubuh saya drop ke titik paling rendah. Mungkin di bawah nol. Lelah fisik saat itu semakin jadi karena hati saya yang gelisah dan otak saya yang enggan berhenti memutar banyak rekam gambar kejadian.

Dua jam penerbangan ini terasa menyiksa. Buku tidak lagi menjadi solusi saya dalam mengahalau resah. Roti dan susu hangat tak juga membuat mata saya terpejam sebentar saja. Turbulensi di pesawat semakin memperparah keadaan saya.

Kalau sudah begini yang saya butuhkan hanya satu, sebuah pelukan. Saya butuh pelukan hangat Ibu saya. Saya hanya butuh kecup penuh cinta di kening saya untuk mengusir semua lelah dan resah yang sejak tadi menguasai perasaan saya.

Tiba di rumah malam sudah terlalu larut, namun saya masih tetap disambut dengan sebuah pelukan paling hangat yang pernah saya rasakan selama ini. Benar kata orang, kalau pelukan itu menyembuhkan terlebih pelukan seseorang yang melakukannya dengan tulus atas nama cinta. Entah siapa saja orangnya.

Ah, saya traveler mellow? Entah apa kalian akan menyebutnya. Tapi satu hal yang pasti, ada banyak hal yang membuat semua ini terjadi. Dan pertahanan diri saya runtuh tadi malam. Saya butuh me-recharge diri saya kembali. Menyepi, mungkin jadi solusinya. Saya ingin berdiskusi dengan diri saya lagi apa saja yang sudah terjadi beberapa hari terakhir. Mungkinkah ini berkaitan dengan banyak firasat yang bersliweran belakangan? Entahlah.

 

Kemang, 26 Februari 2013

Khawatir

Aku terbangun saat malam belum beranjak terlalu dalam. Saat semua lelap masih mendekap erat manusia dan bukan para nocturnal. Ketika peri mimpi masih asyik bekerja menebar debu mimpi kepada siapa saja yang membutuhkannya. Aku justru terjaga.

Aku menatap hampa gelap yang mencekam. Aku takut dan gemetar. Kulayangkan pandang, yang ada hanya kekosongan. Kecuali dengkur tipis yang terdengar mengiringimu menuju bukit mimpi terdalam. Tak ada yang kurasa selain damai melihatmu. Hilang semua gundahku. Sirna semua resah yang mengikutiku dari alam mimpi.

Tapi, sepertinya itu bukan mimpi. Semua gundah dan resah yang selalu menghantui di alam mimpi hanyalah bentuk kekhawatiranku. Alam bawah sadarku menangkapnya dan menjejaliku meski aku sudah berada di dunia yang berbeda.

Aku khawatir. Khawatir akan kamu, pendampingku yang kini masih asyik merajut mimpi. Akankah kau masih seperti ini ketika usia senja merayapi kita nanti? Mencintaiku dengan sepenuh hati?

Akankah kau masih setia mendampingiku meski raut wajahku tidak lagi seperti usia belia. Ketika semua bedak dan segala kosmetik tidak bisa menutupi keriput yang makin hari makin merajut?

Akankah kau tetap mengecup keningku setiap pagi, kala matahari menyapa lembut ruang kamar kita dan kau akan bilang “kamu bidadari tercantikku” meski kaki tua ini sudah tidak bisa berfungsi semestinya?

Akankah kau mau menemaniku bermain di taman, melihat para malaikat kecil sedang bermain gembira dengan bebasnya, meskipun riuh suara para malaikat itu belum juga mampir di rumah kita dalam waktu yang cukup lama?

Akankah kau masih mau melihatku dengan pandangan manis itu meskipun tubuhku sudah menggelambir, dan tak akan seksi lagi saat harus mengenakan busana malam yang kau belikan di kencan kita pertama?

Akankah kau mencari pelabuhan lain ketika aku tak bisa memuaskan perutmu dengan masakan lezat hasi karyaku seharian bergelut dengan pisau dan kompor?

Akankah kau mencari telinga dan hati lain ketika aku tak bisa lagi mendengar keluh dan kesahmu di kantor ketika sakit bulanan menderaku dan membuatku sendu seharian?

Ah, sepertinya aku terlalu banyak khawatir!

Aku hanya bisa menjadi diriku yang berusaha sepenuh hati menjadi bidadarimu setiap hari. Meski aku tak akan pernah cantik sepanjang waktu, meski tua akan merayap mendekat dan mahkota di kepala ku sudah mulai berubah nantinya.

Aku akan menikmati damai yang kau berikan. Damai melihatmu mendengkur halus di kala malam, dan damai ketika melihatmu tenggelam dalam kubangan buku hingga larut di ruang baca. Aku akan menikmati itu semua. Menikmati masa-masa menjadi pendampingmu kini, dan entah sampai kapan tanpa perlu khawatir yang akan terjadi nanti.

Selamat merajut mimpi ksatriaku, lelaplah dalam mimpimu, aku akan segera menyusulmu. Tunggu aku!

bahagia itu melihatmu hangat terlelap dalam mimpi

Jakarta, 1 November 2012
Nonayangmerenungpagiini
Ps: percaya atau tidak ini adalah perasaan yang akan merayap datang pada setiap perempuan entah kapan

foto  diambil di sini.

Belakangan Ini

You can’t expect someone to stay if all you’re giving them reason to leave

Sudah empat hari terakhir, aku tak lagi ceria. Enggan menyunggingkan senyum jenaka seperti biasanya. Bahkan untuk membalas pesan di bbm pun aku enggan. Entah rasa malas apa yang begitu dewa menggayut manja pada diriku yang semakin meragu. Ragu pada diri sendiri, ragu pada orang disekitarku, ragu pada setiap pilihan yang dihadapkan dengan ku.

Malam tak lagi menyenangkan untukku. Dimana biasanya aku akan senantiasa bergelut dengan dunia maya, bersenda gurau dengan kawan-kawan ibu jari  yang sama-sama mencintai dunia malam hanya karena kami para nocturnal. Namun aku memilih untuk menarik diri dari kebiasaan. Bahkan untuk berbagi cerita dengan si pemilik Keenan pun aku enggan, bahkan aku cenderung malas dan sinis.

Belakangan ini, tidurku tak lagi nyenyak. Mimpi tak lagi sedap, bahkan sepertinya mereka enggan merayap, menelusup, menjawil ku untuk bermain di dunia para peri mimpi. Ada apa denganku?

Aku mencoba mencari jawaban dari setiap jengkal resah yang bercokol mantap di hati. Aku mencoba mengakrabi rasa marah hanya ingin mengetahui apa titik sulut kemarahan itu sendiri, agar aku tahu bagaimana cara memadamkannya. Dan aku mencoba menyelami setiap rasa takut yang menghujam hatiku bertubi-tubi hingga limbung rasanya tiap kali aku ingin berdiri pada rasa berani.

“Kamu takut karena aku akan menikah?”

Sebuah pertanyaan yang tepat langsung memanah hatiku, menancapkan mata panahnya yang tajam, sampai menimbulkan sebuah pertanyaan lagi. “Apa iya aku takut akan pernikahan nya?” Di satu sisi mungkin itu benar, tapi ada hal lain yang lebih mengganggu daripada itu.

“atau kamu marah karena ia meninggalkanmu dan memiliih bahagia dengan kekasihnya?”

Satu pertanyaan lagi datang. Kini lebih menusuk, tepat di jantung. Tunggu, ini bukan pertanyaan. Ini lebih mirip dengan tuduhan! Aku tidak marah, entah pada siapa ia memilih bahagia. Aku hanya kecewa. Sangat kecewa, bukan karena bahagia itu harus bersamaku. Hanya cara nya saja yang membuatku menyayangkan semuanya. Ia seperti lupa bagaimana pernah terpuruk karena rasa dan memilih berlari bersamaku demi mengeringkan luka. Dan kini ia berlari bersama bahagianya tanpa pernah berpamitan atau sekedar meninggalkan pesan singkat untukku yang harus menelan pil pahit bernama ‘kenyataan’. Iya, aku tahu, ini semua pilihan. Dia sudah memilih bahagianya. Hanya tinggal aku yang harus menata ulang kembali semua rasa dan membersihkan serpihan kecewa yang masih menyisa.

Aku, dengan semua resah yang ditinggalkan, dengan semua tangis yang dicurahkan, dengan semua marah yang diluapkan, berusaha bertahan. Memilin satu-satu rasa itu dan menggantinya dengan sebuah bahagia yang manis, meski tipis tapi selalu menyelimuti hati ini dengan apik. Tak peduli apa yang telah ditinggalkan mereka, aku siap berjalan menuju bahagiaku. Merentangkan tangan selebar-lebarnya dan mendekapnya hangat tanpa pernah ragu. Tidak sekalipun!

Imunisasi Penting (?)

pemberian vaksin polio (dok.google)

Seorang kawan menuliskan resahnya dalam jejaring sosial. Kalau tidak salah ingat, begini katanya: “Seberapa penting sih imunisasi? Kenapa di Indonesia masih digalakkan imunisasi, disaat negara-negara maju kayak di Eropa sudah tidak memberikan imunisasi pada bayi mereka. Sudah diimunisasi saja masih sakit.  Yang ngga diimunisai malah lebih sehat dan pintar dibanding yang ngga imunisasi.”

Agak kaget juga ketika membacanya, belum lagi komentar yang masuk kala itu malah mengamini pernyataannya. Sejujurnya, saya sendiri tidak tahu menahu atau tidak terlalu paham mengenai hal ini. Tapi saya tergelitik untuk mencari tahu lebih mengenai imunisasi ini.

Apa iya, imunisasi tidak penting? Sejauh pengetahuan saya, imunisasi memang wajib diberikan sejak bayi karena tubuh bayi masih sangat rentan dengan penyakit. Sedangkan imunisasi membantu kekebalan tubuhnya untuk bisa bertahan dari virus ataupun bakteri yang ada di udara. Memang, saat selesai diimunisasi bayi pasti akan sedikit demam.

Tapi bukankah itu wajar? Tubuh yang panas itu bukankah adaptasi imunitas tubuh dengan vaksin yang diberikan? Menurut saya, vaksin seperti polio ataupun hepatitis itu cukup riskan jika tidak diberikan. Karena kita tidak pernah tahu apakah daya tahan tubuh si kecil cukup baik atau tidak. Kita tentu tidak ingin mengambil resiko dengan bertaruh nyawa buah hati kita, bukan? Apalagi penyakit seperti meningitis kerap kali saya dengar menyerang bayi-bayi saat ini.

Lantas, adakah hubungan menurunnya kekebalan tubuh pada anak yang diimunisasi dengan anak yang tidak kenal imunisasi sama sekali? Karena menurut penuturan kawan saya, salah seorang adiknya justru tidak pernah mengalami sakit yang begitu hebat, padahal sejak kecil tubuhnya tidak ‘berkenalan’ dengan imunisasi. Hal ini dikarenakan orang tuanya khawatir jika anak ini demam setelah pemberian imunisasi si anak akan mengalami kejang (kasus demam sebelumnya memang pernah berakhir kejang).

Hmm..ini fenomena yang pelik. Secara kawan-kawan saya adalah para ibu muda yang masih awam soal menyoal hal ini. Dan tentunya ini bisa jadi pelajaran buat saya ketika jadi Ibu nanti. Adakah dari kawan-kawan yang bisa menjelaskan mengenai imunisasi ini? Apakah masih penting imunisasi diberikan untuk bayi, dan jenis imunisasi apa yang tidak boleh dilewatkan? Ditunggu sekali informasi serta komentarnya 🙂

“Please Give Me a Reason To Love You, JAKARTA!”

Petikan kalimat diatas sempat jadi perbincangan yang HOT antara saya dengan beberapa teman. Ini adalah ungkapan rasa kecewa dan juga rasa bosan yang sudah begitu menggunung.

Hal ini bermula dari perjalanan saya menuju sebuah perhelatan yang nota bene berjarak sekitar 15-20 menit dari tempat saya saat itu. Tapi entah ada apa dengan hari itu (Jumat, 5 Juni 09) membuat seluruh jalanan tampak seperti ‘showroom mobil’. Padat tak bergerak yang tersisa hanya deru kendaraan bermotor yang bergumul dengan beragam polutan.

Saya yang mencoba membunuh rasa bosan dengan berbagai cara akhirnya menyerah dengan kondisi seperti itu. Dan eng..ing..eng.. saya tiba 2,5 jam kemudian! Arrrggghh!!!!

Hal ini pun berulang kembali esoknya, DAMN!!! Saya pun lantas menuangkan isis hati saya pada situs pertemanan yang saya punya..Voila.. banyak sekali yang memberikan komentar. Dari yang serius, sampai yang nyeleneh gak keruan..(thanks guys!)

Tapi ada satu komentar yang mampir bukan di situs tersebut tapi justru di inbox HP saya. “Lo lagi kenapa? Kok statusnya seperti itu?” Wuih.. seperti mendapat tiupan angin surga rasanya. Ternyata ‘makhluk malam’ saya ini cukup perhatian, meskipun dia tidak secara langsung mengungkapkannya.

Satu kalimat yang ia sampaikan pada saya terakhir,” Jangan pindah yah, gw masih butuh lo disini.. sebagai guide gw cari tempat makan enak.. hehehe” (gedubraaaaaaakkk..) Perasan saya sudah melambung, eh ternyata buntutnya ‘nggak’ banget, tapi menghiburlah.. :p