Kalau Rindu Mau Bilang Apa?

28 Juni 2013

Ini adalah tahun kedua saya gantung pena serta kamera sebagai pewarta. Tidak ada yang spesial memang. Tapi terkadang ada hal-hal rutin yang saya rindukan. Seperti halnya tiap kali menyambut puasa. Ya, persis seperti minggu-minggu ini.

Dulu, awal puasa saya sudah punya setumpuk jadwal yang padat merayap lajunya. Sejak hari pertama saja, undangan sudah duduk manis di atas meja kerja saya. Belum lagi yang melalui telepon ataupun email. Tak sedikit yang saya tolak karena saya sudah keburu umbar janji dengan pihak lain.

Atau biasanya saya akan berbagi tugas dengan rekan saya. Tapi kalau lokasinya cukup jauh untuk dijangkau, biasanya memang saya menolak untuk meliput. Bukan sok jual mahal. Masalahnya, hampir semua orang yang mengundang menggunakan materi yang sama.

Jadi begini, biasanya tiap hotel, resto atau produk akan menyelenggarakan sebuah festival menyambut Ramadhan. Festival kuliner yang setiap tahunnya selalu sama. Timur Tengah.

Sudah dapat dipastikan kalau hidangan yang disajikan ya mirip-mirip. Meskipun terkadang ada juga yang mengambil tema Meksiko ataupun mengusung tema Pasar Rakyat. Awal-awal sih seru. Tapi kalau hampir tiap hari diundang ke sebuah acara yang bertema sama, lama kelamaan saya bosan juga. Malah cenderung ndak nafsu dengan hidangannya. Apalagi kalau lidah ini sudah mencicipi masakan, yang membuat priring saya tak pernah kosong semenit pun, alias enak di awal bulan Ramadhan. Itu bahaya! Karena biasanya tolak ukur lidah tanpa sadar akan membandingkan dengan hidangan tersebut. Dan biasanya hidangan di tempat lain jadi sangat biasa saja.

Kini, setelah dua tahun absen. Saya kangen. Boleh kan saya kangen? Tahun lalu, seorang kawan PR saya di sebuah hotel ternama masih tetap mengundang saya untuk melakukan jamuan berbuka. Tentunya di luar jadwal undangan media. Entahlah tahun ini. Terakhir kali saya bertegur sapa dengannya, saya tahu kalau dia sedang membenahi urusan hotel yang ada di Singapura dan Brazil.

Hmm..saya jadi rindu masakan Libanon. Rindu manisnya baklava yang terlampau jumawa. Rindu asam segarnya Lassi mangga dari India yang pernah saya cicipi di salah satu hotel bintang lima di Sudirman sana. Kangen kebangetan dengan sop buntut di salah satu sudut resto hotel yang ada di bilangan Kuningan. Yang selalu jadi pelarian ketika saya bosan mencicipi masakan Timur Tengah.

Rindu ikutan menari tarian sufi. Tarian dimana saya harus berputar.. berputar.. dan terus berputar dengan menggunakan rok kebesaran. Dan yang pasti saya rindu kawan-kawan saya. Kawan-kawan suka dan duka dalam mencari berita. Kawan bercerita di sela-sela tugas yang membabi buta. Kawan berkeluh sambil menikmati satu scope es krim di pinggir kolam di lantai lima apartmen di bilangan Thamrin sana.

Ah.. intinya saya rindu. Bukan pada apa yang pernah saya dapat tapi dengan siapa saya pernah menghabiskan banyak cerita.

Rindu, Aku Pulang

Ada kerinduan yang datang pagi ini. Bukan kerinduan akan makhluk malam seperti bertahun-tahun silam. Bukan kerinduan akan angin selatan yang sekarang enggan berhembus diantara bilik hati. Dan bukan juga kerinduan akan nyanyian parau si gagak hitam di tengah rimbunnya pepohonan.

Rindu ini bukan seperti kerinduan yang kusebutkan.

Rinduku sederhana saja. Aku rindu mencumbu jejeran aksara yang terangkai dari jemari yang bebas menari seketika saat angin rindu menelusup di dada. Rindu berdialog dengan makhluk kerdil di kepala yang menuntun jemariku yang lugu untuk bernyanyi tanpa nada, tanpa suara.

Dan aku begitu rindu menggauli tuts hitam usang yang kini terduduk lesu di sudut meja pualam di tengah gelapnya ruang kerja.

Aku ingin pulang. Pulang ke pelukan ‘rumah’ku yang saat ini senyap tanpa kata dan menebus rindu yang mulai berkecamuk dengan liarnya. Aku tak ingin lagi berdusta pada dunia bahwa aku baik-baik saja. Tidak. Aku tidak baik-baik saja.

Aku merindu..

Aku ada dalam buai cinta seorang panglima yang mencoba membumikan semua cerita. Aku tak mau terbuai akan kata-katanya hingga lupa menuangkan kata-kataku sendiri yang berjejalan di kepala.

Kini, aku siap kembali. Menjadi aku yang berdendang riang dalam balutan kata-kata dan menarikan jemari seperti sedia kala.

Untukmu, siapa saja di luar sana, aku pulang.

Kemang, 11 April 2013

Bales Kangenku Dong!

(cerita sebelumnya di sini)

Bip..bip..

“Apa kabar Jogja pagi ini?”

Bip..Bip..

“Jogja masih sama. Tenang, nyaman, dan selalu dirindukan.”

Bip..bip..

“Berarti Jogja itu mirip sama kamu.”

Bip..bip..

“Kenapa begitu?”

Bip..bip..

“Karena kamu selalu bisa membuatku nyaman saat berada di sampingmu, membuatku tenang dengan renyah suaramu, dan selalu menaburkan rindu di hatiku yang sedikit berdebu.”

Bip..bip..

“GOMBAL!”

Bip..bip..

“Gombal itu kain lap. Dan kain lap itu digunakan untuk membersihkan debu hatiku, agar benih cintamu makin tumbuh subur dan bersemi dalam hati.”

Bip..bip..

“NORAK!”

Bip..bip..

“Aku kangen kamu, Ra!”

Kali ini pesan yang masuk tak langsung dibalasnya. Amara memilih untuk membiarkan pesan singkat itu tetap berada di dalam kotak pesan tanpa perlu dibalas. Tidak sekarang.

Bip..bip..

“Ra? AKU KANGEN KAMU AMARA! Please come home soon, dear…”

Lagi-lagi isi pesan yang sama. Amara hanya menghela napas, dan mencoba untuk mengetikkan pesan balasan. Tapi jemarinya seperti terhenti. Ia tak tahu harus mengetikkan apa sebagai balasan.

 Bip..bip..

“Amara please, balas kangen aku! Kalau kamu nggak mau bales, aku akan jemput paksa kamu, lho!”

Pesan terakhir terlihat mengintimidasi, tapi justru membuat batin Amara senang. Dengan semangat Amara langsung mengetikkan pesan balasan.

“COBA SAJA KALAU KAMU BERANI DATENG!”

Sent.

Amara senyum-senyum sendiri membaca pesan yang dikirmkannya. Dalam hati ia ingin tahu reaksi si pengirim pesan dengan tantangannya barusan.

Bip..bip..

“Aku sudah siap menjemputmu. Aku sudah berada di dekatmu sejak tadi, meja no.9 arah jam 5 dari posisimu saat ini.”

Mata Amara terbalalak membaca pesan barusan. Segera ia mengedarkan pandangan ke arah yang dimaksud. Mata almondnya menangkap sesosok pria berbadan tegap yang ia kenal, berkemeja biru laut sedang berjalan ke arahnya.

“Amaranggana Wisya, kalau kamu nggak mau balas kangenku, aku yang akan menjemputnya sendiri dan membawanya pulang.”

Amara tersenyum mendengar kata-kata pria yang menghujaninya pesan singkat sejak beberapa hari terakhir. Mas Dipo. Sosok pria yang ingin menyembuhkan sakit hati Amara, kini ia datang untuk menjemput rindunya.

Jakarta, 17 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-6

Bahagia

Kamu tahu apa itu bahagia? Ah, aku rasa kamu lebih tahu arti bahagia sejak lama ketimbang aku yang baru saja merasakannya. Hmm..aku sedang berbahagia. Bahagia sekali. Sebahagia prajurit langit yang tengah mengehntakkan kakinya di bumi. Iya, sebahagia mereka.

Bahagia yang sederhana, bukan saja karena aku bertemu kembali dengan hujan, yang membuatku senang akan sebuah hangat dekapan, tapi aku bahagia karena tahu banyak kabar dari penjuru negeri ini datang di istanaku sore tadi.

Meskipun tak melulu kabar baik, walaupun ada cerca terselip, namun tetap saja membuatku senang membaca dan membayangkan mereka ketika menuliskannya. Hehe..

Ini bermula ketika sebuah surat kulayangkan untuk Bule yang ada di Indonesia Timur sana. Ia yang saat itu tengah haus akan sebuah dorongan menulis kreatif, sengaja kukirimkan surat itu. Awalnya hanya sekedar pemuas rindu dan penyalur hobi saja, tapi lama kelamaan ini jadi sebuah ritual yang jadi candu untuk aku dan dia.

Suatu ketika, aku lupa membalas suratnya. Seminggu, dua minggu, hingga sebulan. Sampai akhirnya ia melayangkan surat rindu lainnya. Membuatku merasa bersalah karena belum sempat membalas suratnya yang kini lebih cocok menjadi sarang laba-laba ketimbang kertas bertuliskan aksara.

Lalu, apa yang ia lakukan? Ia ‘mencambukku’ dengan sebuah tulisan pengakuan. Sebuah tulisan yang aku bacakan kepada seseorang si suatu malam. Dan ternyata, orang tersebut membalas surat itu. Di dalam surat itu, Bule memang menantang kami, para pejuang bahasa di dusun yang letaknya ribuan kilometer dari Jakarta.

Satu persatu, kamipun saling membalas surat dan menceritakan kegiatan kami kini. Bahkan untuk kawan-kawan yang katanya tak bisa menulis akhirnya pun tergerak untuk menuliskan bentuk rindu mereka. Mencoba merangkai aksara yang dulunya enggan direngkuh meski waktu berserakan tidak tersentuh. Kini, kesibukan datang merayap tapi memilin kata berusaha didekap.

Tak pernah terbayangkan kalau kami sebenarnya terpisah di penjuru negeri ini. Berbeda tanah yang di pijak, berbeda zona waktu, dan berbeda kesibukan. Hanya satu yang aku dan kawan-kawan lain tahu, bahwa rasa yang kami miliki masihlah sama. Rasa memiliki yang tak akan hilang meskipun jarak dan kesibukan menenggelamkan kami sedemikian rupa.

Kini, aku mencoba menyatukan semua rasa dalam cangkir kenangan yang akan selalu terisi kerinduan. Dan aku menyebut satu persatu kami ini sebagai penikmat secangkir rindu selain cangkir cangkir kopi yang telah tersesap dan pergi.

Dan aku bahagia karenanya. Bahagia karena tahu, kemana rindu akan selalu bermuara dan akan terobati sesudahnya. Bahagia karena ternyata kata-kata bisa mengubah seseorang jadi luar biasa. Dan menginspirasi mereka untuk terus berkarya seperti mereka yang telah menginspirasiku begitu rupa. Dan lagi-lagi, Bahagia Itu Sederhana bentuknya.

karena-bahagia-itu-sederhana

Jakarta, 14 Desember 2012

*ingin menikmati kumpulan rindu kami? kunjungi cangkir rindu kami dan sesap perlahan hingga rindu terobati dan pergi.

Foto dipinjam di sini

Secangkir Rindu untuk Sahabat

secangkir rindu tersaji di meja aksara untuk siapa saja yang ingin melepas dahaga akan cinta

secangkir rindu tersaji di meja aksara untuk siapa saja yang ingin melepas dahaga akan cinta

Entah ini kali keberapa aku membaca tulisan kawan cungkring nan tampan layaknya manusia imigran dari tanah nya para londo. Hehe.. Rio namanya. Kesibukan menenggelamkanku sehingga urung berkali-kali membalas suratnya beberapa waktu lalu.

Semalam, seseorang memintaku membacakan surat milik Rio. Tentu dengan gaya membacaku, yang menurutnya bisa jadi pengantar tidur paling ampuh. Hmm.. tampaknya aku harus mulai memikirkan tarif membaca jika ada yang perlu lullaby sebelum tidur nih. Hehe

Setelah membaca lagi dan lagi, ada rasa hangat yang asing hinggap di hati. Entah apa itu namanya. Rindukah? Mungkin saja. Karena ada senyuman yang tersungging tiap kali ibu jariku beradu dengan benda mungil berlayar sentuh ini ketika aku dan dia bertukar kabar. Ketika ia mulai mengeluhkan semua resahnya karena sulit menelurkan pikiran dalam sebuah tulisan.

Setelah selesai berbincang-bincang si Coach yang kerap kali dipanggil Kuch ketimbang Coach, aku  jadi tergelitik untuk membuka catatan pribadiku selama berperjalanan ke desa kecil di belahan timur pulau Jawa. Di salah satu desa dimana aku mulai kembali menata kehidupanku, menata kembali peta yang pernah robek beberapa waktu lalu dan mulai kembali menghadapi hidupku seperti sedia kala.

Aku tidak akan menceritakan apa yang aku kerjakan di sana, bagaimana kehidupanku di sana atau bagaimana akhirnya aku terdampar di desa kecil namun mulai menggeliat menjadi sebuah desa ‘modern’ dengan caranya.

Aku hanya ingin sedikit bernostalgia dengan mengenang celoteh ngelantur yang pernah aku lakukan dengan beberapa kawan selama di sana. Ya, kawan-kawan tunggu.,. mereka saudara buatku. Saudara yang aku miliki meskipun hanya beberapa waktu kami habiskan bersama.

Aku masih ingat betul kali pertama bagaimana akhirnya aku bisa ‘masuk’ dalam lingkaran pertemanan mereka. Secangkir kopi. Ya, secangkir kopi menyatukan obrolan kami yang awalnya kaku menjadi seperti aliran air dari hulu sungai menuju hilir hingga laut lepas.

***

Sore itu, setelah berkeliling desa dengan menggunakan sepeda kumbang, aku menyempatkan diri mampir di sebuah kedai kopi sederhana yang memang sering aku singgahi sendirian. Entah itu sekedar membaca buku, memesan ketan susu, atau memesan secangkir kopi. Ketika sedang asyik berjibaku dengan buku, ternyata ada segerombolan anak dari asrama lain datang. Aku mengenal mereka.

Sungkan awalnya mengajak mereka untuk duduk satu bangku dan bertukar cerita dalam satu kali sesapan kopi. Tapi, akhirnya salah satu mereka bisa duduk dan mulai membagi ceritanya. Ada hal yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Namun yang pasti persahabatanku dimulai di sana. Di kedai ketan tercinta.

Hari demi hari berganti, cangkir demi cangkir kopi telah terisi. Ditemani ketan susu ataupun ketan bubuk atau sebatang tembakau yang disulut bergantian oleh mereka yang sering aku protes karena aromanya. Cerita pun mengalir tidak hanya membahas problematika negara tapi juga keluarga hingga cinta.

Kini, kami semua sudah terpisah di berbagai kota di seluruh Indonesia. Selalu saja ada rindu yang menggayut manja, minta untuk ditimang dan dibuka kembali. Entah siapa saja yang mulai menyulutnya.

Banyak pelajaran hidup yang aku dapat dari mereka. Belajar melihat kembali manusia dari sudut pandang yang berbeda. Melihat suatu hubungan bukan hanya sekedar memberi dan menerima. Dan makin meyakinkanku bahwa berbagi itu membuat hidup jauh lebih bahagia.

Dan kini, cerita kembali dirajut dengan mesra meski medianya tidak lagi sama. Bukan lagi kopi dan ketan susu atau sepeda ceria yang mengawali cerita, tapi sebentuk kerinduan yang membuncah yang selalu jadi alasan utama  untuk kami memilin romansa.

Meskipun ekspresi tak pernah terlihat lagi sama, tapi nada bicara masih kudengar sama di udara. Dan kini aku memulainya dengan celotehan sederhana dalam media aksara yang kurangkai untuk menebus rindu akan kamu, dia, mereka, dan kebersamaan kita. Selamat merindu dan bercumbu dengan aksara, kita! Cangkir rindu ini untuk kita habiskan bersama dalam tawa bahagia.

Jakarta, 6 November 2012

*tulisan ini merupakan balasan surat dari Rio, sahabat bule saya 🙂

*foto diambil di sini

Senandung Rindu dari Negeri Angin

Langit sore berselimutkan lembayung senja, sayup-sayup terdengar rintih suara tak bertuan. Siapakah gerangan yang tengah meniupkan rindu kian merana hingga menyayat hati  siapa saja yang mendengarnya?

Mataku berkelebatan. Kepalaku menoleh ke kiri dan kanan berusaha mencari sumber suara yang menyanyikan nada rindu. Genangan air sehabis hujan semalam seolah membantunya dengan senandung rindu dari riak air tipis nyaris membeku.

“Tak perlu kau resah mencari sumber suara ini, Iliana”

Kata-kata ini seperti sengaja ditujukan padaku. Lagu lembut terjaring dari mata yang memicing berusaha melawan teriknya matahari sore yang sepertinya sedang asyik melakukan tugas hariannya.

Aku lelah, nyaris menyerah, dan cenderung marah. Tak juga kutemukan asal suara yang lagi-lagi membuat hatiku tersayat akan senandungnya. Senandung merindu yang tak jua bertemu ujungnya. Aku hanya ingin mencoba meredakan pilu yang tengah dirasakan si pemilik rindu. Hanya itu.

Aku tak ingin lirih suara itu mempengaruhi senja yang tengah menari sebelum petang mengajaknya kembali pulang. Senja yang tengah kunikmati saat ini, dengan waktu yang kumiliki hanya beberapa ucapan kata saja sebelum jingga tertelan dan malam kembali merayap datang.

“Siapa gerangan engkau Tuan, yang begitu pilu memilin rindu dan membuatku tersayat akan lirih suaramu?”

Ucapku dalam diam. Memandang dalam kecemasan. Cemas karena waktuku tinggal sepenggal saja. Senja, tolong jangan beranjak pergi. Tolong melambat sejenak. Tolong senja.

“Usah kau khawatirkan senja, Iliana. Ia akan tetap meninggalkanmu sendiri. Aku hanya ingin menyampaikan sebuah lagu, semoga sudi engkau mendengarnya”

Aku tertegun membisu dengan apa yang baru saja mampir di telingaku. Bahkan si suara mengetahui apa yang baru saja aku katakan? Bulu kuduk meremang tak tertahan. Menjalar jadi sebuah rasa penasaran yang semakin kuat bercokol di kepala.

Aku memejam, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk berkata lagi kepadanya. Kepada si pemilik suara.

“Lagu? Lagu apakah gerangan, jikalau boleh aku tahu?”

Tidak ada jawaban terdengar. Sunyi ini mencekam, menakutkan. Anginpun seperti membeku tidak bersuara, waktu seolah berhenti berdetak seketika. Gesekan daun-daun perdu yang sejak tadi berisik seperti ingin menyuarakan hak nya kini terdengar senyap. Aku termangu. Apakah ini halusinasiku saja?

***

“Iliaaanaaaaaaaa….”

Aku terkesiap. Lagi-lagi lirih suara itu datang menyapaku. Jendela kamarku yang menyisakan celah sempit dan suara itu makin jelas terdengar menelusup ke bilik kamar dan mengisinya dengan lirih suara mencoba mengisi kekosongan malam itu.

Ilianaaaaa……”

Kembali suara itu menyebar ke seluruh ruangan yang hanya memendarkan cahaya remang dari sebuah lampu meja berbentuk beruang. Ada sapuan angin lembut yang mengecup pipiku, dingin. Aku bergidik, namun mencandunya lagi. Kini ia menjelajahi jemari dan lenganku yang hanya berselimut piyama sutera berwarna jingga. Deru suara lembut ini mencoba memelukku! Menyerap rasa hangat dan menggantinya dengan dingin yang nyaris membuatku beku.

Aku merindumu, Iliana”

Kalimat itu menggantung di udara. Meninggalkan sebuah tanya besar untukku, siapa gerangan ia yang tengah jatuh merindu?

Aku tidak bertanya padanya. Aku memejamkan mata dan meresapi rasa dingin yang kini sudah menjalar hingga ke telapak kaki kecilku. Dingin ini membuatku beku, tapi hatiku justru terasa sesak dengan rasa hangat seperti magma bumi yang siap memuntahkan laharnya.

Kudekati jendela kamarku yang hanya menyisakan celah sempit. Ketika kubuka, angin itu berjejalan masuk ke dalam ruangan, menyergapku yang masih berdiri terpaku di ambang jendela kamar. Dorongannya kuat seolah mendekapku erat, meski yang kurasa hanya dingin yang menusuk di seluruh tubuh. Kusunggingkan senyum, membuka kedua lenganku dan mencoba menyambut angin dengan pelukan terhangat.

Dan ia pun kembali berbisik lirih.

Terima kasih, Iliana. Terimalah sepucuk rindu dari negeri angin untukmu,kekasihku. Kuuntai dalam nada sendu, menemanimu menuju mimpi terdalammu..”

Sebuah rindu yang telah beku mencoba melebur dalam dekap hangat kekasihnya, Iliana.

angin

Jakarta, 29 Oktober 2012

*fiksi ini harusnya diikutsertakan dalam kontes yang diadakan @katabergerak. Tapi saya lupa untuk mengirimkannya hingga lewat batas terakhirnya.

*foto diambil di sini

Pada Mas Weby, Saya Menaruh Hati

“…tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata..”

Penggalan lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki yang dinyanyikan oleh Arwanto Weby di Ultah Akber ke-2 siang itu kontan membuat bulu kuduk saya meremang, dan air mata berjatuhan tanpa pernah meninggalkan jeda.

Mungkin kalau orang yang melihat saya kala itu menganggap saya terlalu melankolis, sentimentil, atau apapun. Tapi, inilah saya. Tanpa pernah bisa saya tutupi jejaknya, saya telah jatuh hati padanya. Pada Arwanto Weby.

Saya tidak mengenalnya. Bahkan tidak pernah bertemu muka langsung dengan penggerak kelas Akademi Berbagi asal kota Surabaya ini. Tapi saya merasa ‘dekat’ dengan segala pergerakannya untuk Akademi Berbagi khususnya kota Surabaya, dan saya seolah tahu siapa dia melalui cerita kawan-kawannya sesama relawan Akber.

Ia memiliki semangat yang tinggi. Dan ia mempunya mimpi yang tak pernah mati. Itu gambaran saya tentangnya pertama kali. Dengan segala keterbatasan-yang pada saat itu saya tidak ketahui-mencoba membuat Indonesia yang lebih baik dengan caranya.

Saya mencoba menyusuri jejaknya, jejak tentangnya yang ditorehkan kawan-kawan dari seluruh Indonesia yang mengenal dirinya baik secara langsung ataupun dunia maya. Jauh sebelum kabar kepergiannya gencar di dunia maya, saya coba mencari tahu tentang dirinya secara diam-diam. (ya, kini saya akui saya pengagum rahasia dirinya :D) Bahkan saya bertekad untuk mencari dia ketika saya berkesempatan berkunjung ke kota Surabaya.

Tapi ternyata, Tuhan berkehendak lain. Ia mencukupkan saya mengenal sosok Mas Weby  melalui kawan-kawannya dan dunia maya saja. Tapi buat saya, itu sudah lebih dari cukup untuk mengenal dia saat ini, bahkan mendapatkan virus semangat yang selalu saya tenggak habis ketika keluh mulai membayangi dan saat semangat mulai redup menerangi hari.

Yaa.. pada Mas Weby saya pernah menaruh hati. Mencoba mengenalnya secara langsung meskipun Tuhan ternyata belum mengijinkan. Mencoba ‘mencuri’ semangatnya yang tak pernah meredup meski ginjalnya tak lagi sepasang.

Dan hari ini, entah apa yang merasuki saya hingga ingin menuliskan secarik surat rindu untuk Mas Weby.

Damai selalu di sisiNya ya Mas.. Terima kasih untuk pelajaran hidupnya yang terekam manis di kawan-kawanmu. Semangatmu ternyata masih sangat ‘terasa’ meskipun kini kamu tak lagi ada.. :’)

Yang Merindukanmu..

weby2

*Tulisan ini saya tujukan untuk Arwanto Weby, salah seorang penggerak Akber Surabaya yang telah berpulang Juli 2012 silam. Ini hanya sebentuk kerinduan untuknya yang saya kagumi tanpa pernah mengenalnya secara nyata.
Kemang, 30 November 2012, 16.00

*foto diambil di sini