Pecel dan Es Kolak, Bibit Nostalgia

Kereta Argo Anggrek mulai merapat di stasiun Tawang, Semarang. Perjalananku hampir usai dengan kereta eksekutif ini. Aku sudah tidak betah duduk berlama-lama di dalam kereta yang sepanjang perjalanan hanya memutarkan lagu itu-itu saja. Seperti brain wash sehari!

Kuraih ransel merah hitam yang akrab menemani semua perjalananku. Semarang siang itu cukup panas. Atau mungkin memang setiap hari seperti ini? Entahlah, aku akan mengetahuinya nanti.

Kuraih telepon selular di saku celana, kucoba ingat pesan terakhir Ribka, kawan baruku. Ia adalah orang yang dikenalkan seseorang demi untuk menemaniku bepergian selama di Semarang. Aku hanya mengetahui wajahnya melalui jejaring sosial, jadi aku masih bertanya-tanya ‘yang mana orangnya ya?’.

Tiba-tiba.

“Eka ya?”

Tepukan halus dari seseorang berwajah oriental dengan kulit bersih mengagetkan lamunanku.

“Hai, Aku Ribka. Temannya Galih” ujarnya lagi menjawab semua tanya yang terlihat di wajahku.

“Oiya, ini mamaku.” lanjutnya memperkenalkan seorang wanita paruh baya yang masih anggun penampilannya.

Setelah berkenalan dan berbasa basi soal cerita selama di perjalanan, Ika- sapaan akrabnya- dan Tante Tris mengajakku ke suatu tempat.

“Kamu pasti laper kan? Makanan di kereta pasti gak bikin kenyang!” selorohnya yang langsung kuamini dengan segenap hati.

Tante Tris mengemudikan mobilnya secara perlahan. Terkadang ia bercerita tentang kota ini dulunya. Dan menceritakan beberapa orang tamu suaminya yang unik ketika diantarkan jalan-jalan mengelilingi kota tua Semarang. Ah, pantas saja Ribka dan mamanya sangat hangat. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran orang baru di rumah mereka. Dan tak pernah segan untuk mengantarkan entah teman suaminya atau pun kawan-kawan anaknya untuk berkeliling di kota Semarang hingga ke kota-kota terdekat lainnya.

Udara yang panas menyengat membuat peluh berlarian tidak karuan. Berkali-kali aku menyeka keringat yang menetes hingga ke leher. Padahal pendingin di mobil sudah diatur cukup besar.

“Panas ya, Ka? Hehe.. sabar nanti juga terbiasa,” tegur Tante Tris yang ternyata memperhatikanku sejak tadi dari kaca spion tengah. Aku hanya bisa cengar- cengir sambil masih mencoba menghapus keringat yang tersisa.

Mobil Panther berwarna hitam kini memasuki wilayah Pekunden. Kawasan pemukiman ini ternyata memilliki surga kuliner yang bisa membawa nostalgia masa muda. Itu sih menurut Tante Tris. Mungkin karena ia sudah menghabiskan separuh hidupnya di kota ini.

Warung sederhana milik Bu Sri yang sudah ada sejak 30th silam

Warung sederhana milik Bu Sri yang sudah ada sejak 30th silam

‘Warung Rujak Cingur Bu Sri’ nama yang tercetak di sebuah bangunan sederhana tepat di Jl.Pekunden Timur I No.2. “Lho? Jauh-jauh ke Semarang kok malah di bawa ke warung rujak cingur?” batinku dalam hati.

“Di sini memang bukan makanan khas Semarang Ka, tapi aku jamin kamu bakalan suka bahkan nagih!” kata Ribka seperti tahu tanya dalam benakku.

Suasana warung cukup padat pengunjung. Rata-rata yang datang selalu rombongan keluarga, dan sepertinya antara pengunjung dan juga penjual sudah kenal cukup lama. Bahkan ada juga yang datang dari Jakarta seperti aku, langsung disambut manis oleh si empunya warung. Sepertinya mereka sudah saling mengenal sejak lama. Ini semakin menarik!

Jejeran meja kayu dan bangku plastik sederhana menghiasi tiap sudut warung yang sekaligus rumah dari Ibu Sri. Tiupan semilir sejuk kipas angin di sudut ruangan cukup membuat ku berhenti sejenak dari mengelap peluh yang sudah banjir sejak menjejakkan kaki di kota ini.

Seporsi pecel, rujak cingur dan juga es kolak telah dipesan oleh Ribka untukku. Pilihan menu yang ada di warung bu Sri sejak lebih dari 30 tahun silam ini beragam, diantaranya pecel kangkung, rujak Surabaya, rujak buah yang dicacah atau rujak iris. Sedangkan untuk pelengkapnya ada es kolak dengan campuran degan alias kelapa muda atau dengan bubur sumsum. Sederetan minuman segar yang tak kalah menggiurkan seperti es degan, es bubur, es dawet, es blewah, es campur dan es sirop bisa jadi pilihan yang segar di cuaca panas kota Semarang ini.

Pecel Surabaya dengan balutan saus kacang yang legit

Pecel Surabaya dengan balutan saus kacang yang legit

Sepiring cekung berisi pecel sudah tersaji dalam waktu sekejap. Irisan janganan alias sayur-sayuran rebus berselimut bumbu kacang berwarna kecokelatan menebarkan aroma harum yang bikin liur ini hampir menitik.

Suapan pertama langsung terasa renyah daun kangkung , daun kol, juga tauge yang direbus dengan tingkat kematangan yang pas. Kangkungnya bukan kangkung akar, melainkan kangkung sawah yang memiliki bentuk daun yang cukup tebal. Bumbu pecelnya terasa gurih-gurih manis dengan jejak pedas yang terasa lamat-lamat. Jejak petis yang tersisa di lidah juga sangat kuat, dan sepertinya petis yang digunakan adalah petis udang asli Surabaya yang membuat aksen pecelnya jadi lebih legit. Ah, sedap!

Tidak berbeda dengan pecelnya, rujak cingur yang disajikan juga tak kalah nikmatnya. Potongan nanas, bengkoang dan mentimun besar-besar, tak ketinggalan potongan cingur yang juga tebal, dan sayuran, membuat saya sejenak lupa kalau saat ini sedang berada di Semarang, bukan Surabaya. Hehe..

Rasa gurih dan pedasnya pecel yang tertinggal di tenggorokan segera terbilas dengan semangkuk es kolak yang manis legit. Aku memilih es kolak tanpa campuran apa-apa, karena masih terlalu ‘asing’ dengan campuran semacam degan dan juga bubur sumsum. Tapi Ribka meyakinkanku kalau es kolak degan takkan pernah mengecewakan. Hmm.. mungkin aku harus mempertimbangkan sarannya.

Es Kolak

Es Kolak

Es kolak disajikan di dalam mangkuk yang cukup besar untuk porsiku. Potongan pisang kepok, kolang kaling, kuah kolak serta ditutup dengan sirup merah dan es batu benar-benar bisa menghapus rasa panas yang menyerang sejak tadi.

Buah pisangnya matang sempurna, dengan tekstur daging buah yang kenyal lembut, rasanya makin legit antara campuran kuah kolak dengan campuran sirup merah yang menggugah selera. Sluurp!

Ah, jamuan Ribka di awal kedatanganku di kota Semarang ini benar-benar memuaskan! Sambil asyik ngobrol, mataku tertumbuk dengan pesanan meja sebelah yang sepertinya menggiurkan. Rujak potong dan gado-gado siram!

“Rujak potong di sini juga enak lho, Ka! Kamu mau coba ngga?” teguran Ribka seperti mengetahui apa yang sedang aku pikirkan saat itu.

Sayang saja perutku sudah tak sanggup menampung lebih banyak makanan. Mungkin kalau masih tersisa satu tempat, aku harus menghitung kancing demi memutuskan antara gado-gado siram atau rujak potong yang menjadi jawabannya. Haha..

O ya, semangkuk pecel ini dibandrol dengan harga Rp 7.000 sedangkan es kolak Rp 6.000, dan kurasa ini harga yang cukup murah dengan rasa yang buatku ketagihan! Dan sepertinya aku tahu harus kemana menebus rindu ketika menginjakkan kaki di kota Semarang ini lagi. Warung pecel bu Sri yang akan selalu membawa kenangan akan kota ini. Kota Semarang dengan sentuhan Surabaya.

Semarang, Maret 2009
*perjalanan 3 tahun lalu baru sempat dituliskan kembali sekarang

Advertisements