Dibalik Kemegahan Lawang Sewu

“Kita mau ke mana, Tante?”

“Lawang Sewu”

“Yeay!”

“Tak kira kamu wedi, Ka. Taunya kamu malah hepi bikin keki,”

Kata-kata Tante Tris barusan justru bikin saya terpingkal-pingkal dan sakit perut karena tertawa. Ya memang, Tante Tris tidak mengetahui kalau saya ini pencinta hal-hal ekstrim dan berbau horor. Uji nyali macam ini tak mungkin saya lewatkan.

Perjalanan menuju Lawang Sewu tidak seberapa jauh. Lokasinya di pusat kota, berhadapan megah dengan Tugu Muda, lambang kota Semarang. Lawang Sewu memang sudah tersohor sejak dulu, selain karena banyak cerita mistis terjadi juga menjadi saksi bisu kekejaman pendudukan Jepang di Semarang saat pertempuran lima hari di Semarang pada tanggal 14 – 19 Oktober 1945.

Sore itu Lawang Sewu padat pengunjung. Banyak rombongan turis lokal datang ke sana. Padahal saat itu Lawang Sewu sedang dalam peremajaan. Sebelum masuk ke dalam, Tante Tris menanyakan lagi tentang kesiapan saya memasuki gedung yang dulunya digunakan sebagai kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij alias NIS.

Lawang Sewu dalam perbaikan

Lawang Sewu dalam perbaikan

Dengan mantap saya mengatakan siap untuk menjelajahi Lawang Sewu. Di pintu depan, ada sebuah meja yang ditunggui oleh beberapa pemuda. Mereka ini adalah pemandu Lawang Sewu. Tanpa seragam, tanpa atribut pemerintahan, saya jadi ragu apakah mereka memang orang yang dipercayakan untuk menajadi pemandu di sana atau hanya pemandu dadakan yang sering dijumpai di beberapa objek wisata.

Ada tarif yang dibandrol khusus jika ingin menjelajah Lawang Sewu, bahkan tarif itu dibedakan apakah saya datang pada saat siang atau malam. Apakah saya mengelilingi Lawang Sewu mau ditemani atau tidak oleh si penjaga tersebut. Terlepas dari pikiran negatif tentang mereka, saya berpikir kalau tarif ini untuk biaya pemugaran Lawang Sewu nantinya.

Lagi-lagi Tante Tris berperan di sini. Ia kembali menjadi ‘bendahara’ dadakan untuk perjalanan saya. Biaya masuk Lawang Sewu digratiskannya. Wuiihh..kembang kempis rasanya hidung ini karena senang.

Masuk ke dalam Lawang Sewu. Sore sudah mulai merayap datang, penerangan belum dinyalakan, atau memang tidak ada penerangan? Entahlah. Saya harus segera beradaptasi dengan cahaya seadanya, yang hanya bersumber dari cahaya matahari yang menelusup masuk dari celah-celah jendela.

LawangSewu4

“Hati-hati jalannya,Mbak. Masih banyak tangga di dalam karena proses perbaikan belum selesai dilakukan,” kata pemandu saya mengingatkan.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai Lawang Sewu, hampir semua cerita yang dikisahkan olehnya sama dengan panduan buku sejarah yang tersebar di dunia maya. Saya hanya takjub karena melihat begitu megahnya bangunan ini meskipun usianya sudah lebih dari 100 tahun.

“Di sini, jangan banyak bengong Mbak. Bisa hilang di salah satu ruangan nantinya,” ujar pemandu saya saat itu.

Saya yang memang sedang ‘tinggal’ dalam pikiran saya langsung terkesiap mendengar kata-katanya. Saya bergegas mengejar yang lainnya. Saat itu, di dalam gedung tidak terlalu banyak orang. Mungkin karena hari sudah terlalu sore.

Tak berapa jauh dari pintu masuk, tetiba kaki saya terhenti. Saya tidak bisa melangkah. Bulu kuduk saya meremang seperti sedang kedinginan. Saya tidak mengatakan pada Tante Tris, Ribka ataupun pemandu saya. “Bisa..Bisa..” kata-kata itu terus yang terucap dalam hati. “Saya pasti bisa jalan dan masuk ke dalam,” bisik saya meyakinkan diri sendiri.

“Kamu nggak apa-apa, Ka?” tanya Ribka melihat saya terhenti di salah satu ruangan sesaat sebelum mereka berjalan terlalu jauh.

“Eh..oh, Umm..iyah nggak apa-apa kok.”

Saya hanya menjawab untuk meyakinkan mereka bahwa saya tidak apa-apa. Ketika akhirnya saya bisa menggerakkan kaki, baru dua langkah kaki saya kembali terhenti. Seperti ada yang mencengkram pergelangan kaki saya.

Deg! Perasaan saya tidak karuan. Bukan rasa takut yang menghinggapi, tapi lebih ke perasaan aneh. Bingung mengapa kaki saya tak bisa digerakkan tiba-tiba. Seolah ada seseorang yang menahan langkah saya agar tidak berjalan terlalu dalam.

Kali ini Ribka tidak melihat perubahan air muka saya. Ia sedang asyik berbincang-bincang dengan pemandunya. Sedangkan Tante Tris sedang sibuk dengan telepon dari suaminya.

Badan saya semakin dingin. Saya merasa ada seseorang yang kini tengah berdiri di samping saya. Mencengkram kuat pundak saya dan mengajak saya keluar dari gedung ini, segera! Saya ingin memanggil Tante Tris untuk menceritakan apa yang saya alami. Tapi saat memanggilnya, justru berbeda yang keluar.

“Tante, Saya ingin keluar,”

Kata-kata  yang meluncur barusan seperti tidak terkontrol. Dalam hati saya tidak mau mengatakan hal itu. Lagipula suara saya cenderung berat dan datar. Macam suara laki-laki saja.

“Kenapa, Ka?” tanya Ribka saat itu.

Tante Tris yang melihat saya langsung mengajak saya keluar dengan segera dan mengatakan pada pemandu kami untuk menyudahi kunjungan kali ini.

***

“Mbak tadi takut ya? Padahal saya belum ajak ke penjara bawah tanah,” tanya pemandu saya setengah meledek.

Saya hanya tersenyum datar menanggapinya. Tak berapa lama pemandu saya pamit dan meninggalkan kami di halaman Lawang Sewu.

Saya tidak banyak bicara setelah keluar dari Lawang Sewu. Saya mengabaikan apa yang baru saja terjadi pada diri saya dan menerima cemoohan Ika dan si pemandu wisata bahwa saya merasa ketakutan. Padahal saya tidak merasakan itu sama sekali. Saya malas menceritakan detil yang saya alami.

Saya memilih mengabadikan bangkai kepala kereta yang ada di samping Lawang Sewu. Konon Lawang Sewu pernah menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang PT Kereta Api Indonesia. Jadi tak heran jika ada kepala kereta di sana.

Kepala lokomotif yang ada di halaman Lawang Sewu

Kepala lokomotif yang ada di halaman Lawang Sewu

Selain itu, Lawang Sewu juga pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Matahari nyaris tenggelam, perut saya sudah menjerit minta diisi. Pecel tadi siang ternyata tak bisa mengganjal perut hingga malam. Beranjaklah kami meninggalkan Lawang Sewu. Dalam hati saya bertekad kembali ke sini dan menjelajahi setiap sudut ruangan yang ada di Lawang Sewu.

***

“Ka, kamu tadi kenapa minta keluar?” tanya Tante tris tiba-tiba sambil melirik saya di kaca spion tengah.

“Ng…nggak apa-apa kok, Tante.”

“Kamu tahu kenapa tadi tante langsung nggiring kamu?”

Deg! Pertanyaan Tante Tris ini membuat saya bertanya-tanya dan mengalihkan perhatian dari jalanan. Saya mengingat-ingat kembali kejadian sore tadi di Lawang Sewu.

“Tante lihat seseorang diri di samping kamu waktu kamu panggil tante waktu minta keluar. Dia kayak minta tante bawa kamu keluar dari gedung itu. Makanya tante langsung giring kamu,”

“Waktu tadi kita masuk Lawang Sewu, perasaan Tante sudah nggak enak. Pas kamu minta keluar dan tante lihat ‘itu’ feeling tante memang benar.”

Hening lama. Tak ada yang berkomentar, saya dan Ika hanya saling tatap sedangkan Tante Tris terlihat tegang dibelakang kemudi. Saya bingung harus berkomentar apa untuk memecahkebisuan yang kini menggantung di udara.

Niat mengunjungi Gereja blenduk yang dihujani cahaya lampu kota saat malam, urung saya lakukan. Sepertinya tidak malam ini, besok mungkin jadi hari baik untuk saya bepergian kembali.

Lawang Sewu setelah proses pemugaran. (foto pinjam dari google)

Lawang Sewu setelah proses pemugaran. (foto pinjam dari google)

Semarang, 25 Maret 2009

Pecel dan Es Kolak, Bibit Nostalgia

Kereta Argo Anggrek mulai merapat di stasiun Tawang, Semarang. Perjalananku hampir usai dengan kereta eksekutif ini. Aku sudah tidak betah duduk berlama-lama di dalam kereta yang sepanjang perjalanan hanya memutarkan lagu itu-itu saja. Seperti brain wash sehari!

Kuraih ransel merah hitam yang akrab menemani semua perjalananku. Semarang siang itu cukup panas. Atau mungkin memang setiap hari seperti ini? Entahlah, aku akan mengetahuinya nanti.

Kuraih telepon selular di saku celana, kucoba ingat pesan terakhir Ribka, kawan baruku. Ia adalah orang yang dikenalkan seseorang demi untuk menemaniku bepergian selama di Semarang. Aku hanya mengetahui wajahnya melalui jejaring sosial, jadi aku masih bertanya-tanya ‘yang mana orangnya ya?’.

Tiba-tiba.

“Eka ya?”

Tepukan halus dari seseorang berwajah oriental dengan kulit bersih mengagetkan lamunanku.

“Hai, Aku Ribka. Temannya Galih” ujarnya lagi menjawab semua tanya yang terlihat di wajahku.

“Oiya, ini mamaku.” lanjutnya memperkenalkan seorang wanita paruh baya yang masih anggun penampilannya.

Setelah berkenalan dan berbasa basi soal cerita selama di perjalanan, Ika- sapaan akrabnya- dan Tante Tris mengajakku ke suatu tempat.

“Kamu pasti laper kan? Makanan di kereta pasti gak bikin kenyang!” selorohnya yang langsung kuamini dengan segenap hati.

Tante Tris mengemudikan mobilnya secara perlahan. Terkadang ia bercerita tentang kota ini dulunya. Dan menceritakan beberapa orang tamu suaminya yang unik ketika diantarkan jalan-jalan mengelilingi kota tua Semarang. Ah, pantas saja Ribka dan mamanya sangat hangat. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran orang baru di rumah mereka. Dan tak pernah segan untuk mengantarkan entah teman suaminya atau pun kawan-kawan anaknya untuk berkeliling di kota Semarang hingga ke kota-kota terdekat lainnya.

Udara yang panas menyengat membuat peluh berlarian tidak karuan. Berkali-kali aku menyeka keringat yang menetes hingga ke leher. Padahal pendingin di mobil sudah diatur cukup besar.

“Panas ya, Ka? Hehe.. sabar nanti juga terbiasa,” tegur Tante Tris yang ternyata memperhatikanku sejak tadi dari kaca spion tengah. Aku hanya bisa cengar- cengir sambil masih mencoba menghapus keringat yang tersisa.

Mobil Panther berwarna hitam kini memasuki wilayah Pekunden. Kawasan pemukiman ini ternyata memilliki surga kuliner yang bisa membawa nostalgia masa muda. Itu sih menurut Tante Tris. Mungkin karena ia sudah menghabiskan separuh hidupnya di kota ini.

Warung sederhana milik Bu Sri yang sudah ada sejak 30th silam

Warung sederhana milik Bu Sri yang sudah ada sejak 30th silam

‘Warung Rujak Cingur Bu Sri’ nama yang tercetak di sebuah bangunan sederhana tepat di Jl.Pekunden Timur I No.2. “Lho? Jauh-jauh ke Semarang kok malah di bawa ke warung rujak cingur?” batinku dalam hati.

“Di sini memang bukan makanan khas Semarang Ka, tapi aku jamin kamu bakalan suka bahkan nagih!” kata Ribka seperti tahu tanya dalam benakku.

Suasana warung cukup padat pengunjung. Rata-rata yang datang selalu rombongan keluarga, dan sepertinya antara pengunjung dan juga penjual sudah kenal cukup lama. Bahkan ada juga yang datang dari Jakarta seperti aku, langsung disambut manis oleh si empunya warung. Sepertinya mereka sudah saling mengenal sejak lama. Ini semakin menarik!

Jejeran meja kayu dan bangku plastik sederhana menghiasi tiap sudut warung yang sekaligus rumah dari Ibu Sri. Tiupan semilir sejuk kipas angin di sudut ruangan cukup membuat ku berhenti sejenak dari mengelap peluh yang sudah banjir sejak menjejakkan kaki di kota ini.

Seporsi pecel, rujak cingur dan juga es kolak telah dipesan oleh Ribka untukku. Pilihan menu yang ada di warung bu Sri sejak lebih dari 30 tahun silam ini beragam, diantaranya pecel kangkung, rujak Surabaya, rujak buah yang dicacah atau rujak iris. Sedangkan untuk pelengkapnya ada es kolak dengan campuran degan alias kelapa muda atau dengan bubur sumsum. Sederetan minuman segar yang tak kalah menggiurkan seperti es degan, es bubur, es dawet, es blewah, es campur dan es sirop bisa jadi pilihan yang segar di cuaca panas kota Semarang ini.

Pecel Surabaya dengan balutan saus kacang yang legit

Pecel Surabaya dengan balutan saus kacang yang legit

Sepiring cekung berisi pecel sudah tersaji dalam waktu sekejap. Irisan janganan alias sayur-sayuran rebus berselimut bumbu kacang berwarna kecokelatan menebarkan aroma harum yang bikin liur ini hampir menitik.

Suapan pertama langsung terasa renyah daun kangkung , daun kol, juga tauge yang direbus dengan tingkat kematangan yang pas. Kangkungnya bukan kangkung akar, melainkan kangkung sawah yang memiliki bentuk daun yang cukup tebal. Bumbu pecelnya terasa gurih-gurih manis dengan jejak pedas yang terasa lamat-lamat. Jejak petis yang tersisa di lidah juga sangat kuat, dan sepertinya petis yang digunakan adalah petis udang asli Surabaya yang membuat aksen pecelnya jadi lebih legit. Ah, sedap!

Tidak berbeda dengan pecelnya, rujak cingur yang disajikan juga tak kalah nikmatnya. Potongan nanas, bengkoang dan mentimun besar-besar, tak ketinggalan potongan cingur yang juga tebal, dan sayuran, membuat saya sejenak lupa kalau saat ini sedang berada di Semarang, bukan Surabaya. Hehe..

Rasa gurih dan pedasnya pecel yang tertinggal di tenggorokan segera terbilas dengan semangkuk es kolak yang manis legit. Aku memilih es kolak tanpa campuran apa-apa, karena masih terlalu ‘asing’ dengan campuran semacam degan dan juga bubur sumsum. Tapi Ribka meyakinkanku kalau es kolak degan takkan pernah mengecewakan. Hmm.. mungkin aku harus mempertimbangkan sarannya.

Es Kolak

Es Kolak

Es kolak disajikan di dalam mangkuk yang cukup besar untuk porsiku. Potongan pisang kepok, kolang kaling, kuah kolak serta ditutup dengan sirup merah dan es batu benar-benar bisa menghapus rasa panas yang menyerang sejak tadi.

Buah pisangnya matang sempurna, dengan tekstur daging buah yang kenyal lembut, rasanya makin legit antara campuran kuah kolak dengan campuran sirup merah yang menggugah selera. Sluurp!

Ah, jamuan Ribka di awal kedatanganku di kota Semarang ini benar-benar memuaskan! Sambil asyik ngobrol, mataku tertumbuk dengan pesanan meja sebelah yang sepertinya menggiurkan. Rujak potong dan gado-gado siram!

“Rujak potong di sini juga enak lho, Ka! Kamu mau coba ngga?” teguran Ribka seperti mengetahui apa yang sedang aku pikirkan saat itu.

Sayang saja perutku sudah tak sanggup menampung lebih banyak makanan. Mungkin kalau masih tersisa satu tempat, aku harus menghitung kancing demi memutuskan antara gado-gado siram atau rujak potong yang menjadi jawabannya. Haha..

O ya, semangkuk pecel ini dibandrol dengan harga Rp 7.000 sedangkan es kolak Rp 6.000, dan kurasa ini harga yang cukup murah dengan rasa yang buatku ketagihan! Dan sepertinya aku tahu harus kemana menebus rindu ketika menginjakkan kaki di kota Semarang ini lagi. Warung pecel bu Sri yang akan selalu membawa kenangan akan kota ini. Kota Semarang dengan sentuhan Surabaya.

Semarang, Maret 2009
*perjalanan 3 tahun lalu baru sempat dituliskan kembali sekarang