Senja dan Kopi

Senja dan Kopi.

Selalu saja bersama, berdampingan, entah sebagai sahabat setia atau pasangan bahagia..

Maaf jika mungkin kau bosan dengan senja dan kopi yang selalu saja tertuang di sini. Di tiap laci memori yang memang sepertinya tertata apik hanya untuk mereka.

Jika kau ingin protes, silakan saja..

Toh, senja akan selalu sama. Rasa kopi juga tidak akan pernah berbeda

Kecuali…

Ketika secangkir kopi, selembar senja dan sejumput kecil rindu sebagai ‘pemanisnya’, tentu akan jadi berbeda rasanya.

Karena tiap tetesnya berisi tentang dirimu, ceritamu, dan mimpi yang pernah ada.

Yang tiap tetesnya menenggelamkanku dalam palung rindu paling jumawa. Dan yang membuat lembayung senjaku berubah jadi kelabu tua.

Kalau sudah begini, aku harus bagaimana?

 

*my another random thought. just trying to keep my brain busy 🙂

Obrolan Cangkir Kopi

“… kamu kayaknya perlu segelas kopi deh, Non. Blandongan?”

Kata-kata itu yang kerap kali dilontarkan olehnya kalau aku mulai mencurahkan emosi yang meluap-luap. Atau aku sedang ingin mengeluarkan secuil pemikiran yang mengganjal seharian.

Ia tak pernah menyambut emosiku dengan emosi lainnya. Ia justru akan meredam emosi ini dengan ajakan secangkir kopi dan obrolan panjang seharian. Aku tetiba teringat olehnya. Ia yang kini jauh berada di kota pelajar yang sedang melanjutkan studinya.

Aku jadi berpikir, apa yang menjadikan kopi begitu nikmat? Atau bagaimana obrolan begitu bersemangat dan mengalir dengan hangat dengan secangkir kopi?

Kalau banyak penikmat nikotin mengatakan kopi dan rokok adalah sahabat, buatku kopi dan sahabat adalah kawan karib yang melegenda. Bagaimana sebuah ide tercipta hanya karena obrolan warung kopi dan bagaimana masalah bisa terselesaikan hanya karena berbagi cerita dari satu cangkir kopi ke cangkir kopi lainnya.

Aku bukanlah pencinta kopi yang mengerti seluk beluk biji kopi hingga menjadi minuman lezat di pagi hari. Aku cukup menjadi penikmat kopi di mana saja, apapun bentuknya. Fresh atau siap saji, aku menikmatinya. Tak lupa seorang atau segerombolan kawan sebagai selingan saat menyesapnya.

Masih hangat dalam benakku, bagaimana perkenalan kami bermula. Secangkir kopi dan senja di sebuah kedai kopi di tengah sawah. Cerita bermula dari aku yang berkomentar tentang senja sore itu yang disambut oleh cerita tentangnya dan bagaimana ia mencintai kopi juga tembakau yang dihisapnya.

Tanpa terasa cerita demi cerita terangkai dengan manisnya dan selalu berakhir ketika senja nyaris tertelan gelapnya malam. Saat itu, aku menyudahi perjumpaan kami. Kucukupkan cerita sore itu dengan sebuah lambaian hangat sebelum kukayuh sepeda kumbangku dengan nada riang.

Begitu setiap hari. Setiap sore, kukayuh sepeda kumbang menuju kedai di tengah sawah. Di sana kutahu ia selalu menungguku dengan senyum dari bibir kehitaman dan nikotin yang terbakar di sela jemari kanan.

Dua cangkir kopi terseduh, menguarkan aroma harum yang memikat. Kusunggingkan senyum untuknya yang sudah bersabar menungguku. Sesapan pertama dan komentar tentang senja hari itu jadi pembuka. Dan menit-menit berikutnya mengalir begitu saja tentunya dengan cangkir kopi yang kembali terisi dari cangkir bergambar bunga mawar.

Aku, dia, dan cangkir-cangkir kopi merangkai cerita. Hanya dengan obrolan sederhana tentang rasa, tentang bagaimana hidup itu semestinya dimata kami, manusia. Tentang persahabatan dan juga cinta, yang terkadang jumlah duka tidak pernah seimbang dengan suka.

Tapi satu hal yang pasti, obrolan cangkir kopi ini akan terus mengalir meski kami tak lagi bisa menikmati cangkir-cangkir kopi di tengah sawah bersama senja. Meski kesibukan menenggelamkan rasa pada akhirnya. Mungkin ada waktunya nanti aku dan dirinya bisa menikmati kopi kami kembali sambil bernostalgia tentang senja, rasa, dan cinta sesama.

Dan soal kopi yang menjadi sahabat setia kala bercerita, aku masih bertanya-tanya. Kubiarkan ia tetap menjadi rahasia. Maka, nikmati saja!

cangkir kopi

 

Senin, 3 Deseber 2012
Lagi-lagi, tulisan ini saya temukan diantara file-file tulisan yang belum sempat ter-posting tahun lalu.
*foto dipinjam di sini

Yang Mencoba Membunuhku Perlahan

Sore yang hangat, meski di luar hujan sedang mendekat. Tak banyak hal yang kulakukan selain merapatkan jaket tebal (duduk dekat ruang server bisa melatihmu hidup di Eskimo nantinya) dan memasang kaos kaki rajutan untuk mengahalau dingin.

Obrolan dengan seorang kawan di ujung Timur Pulau Jawa sore kemarin sukses membawa imajinasiku melanglang buana entah kemana. Pertanyaan kenapa aku menyukai senja sepertinya terjawab sudah olehnya tanpa perlu kujelaskan secara tertulis. Tapi sialnya, ia mulai membunuhku pelan-pelan.

Ya, ia membunuhku dengan cara sederhana. Mengirimkan rekam senja yang tertangkap dari lensa kameranya. Sial! Nafas seperti tertahan, lidahku kelu, mataku terbelalak berbinar mencoba membayangkan aku sedang berada di sana. Di tempat-tempat yang ia kirimkan untukkku.

Hah! Ia tertawa puas! Kurang ajar betul, tahu saja aku tak akan rela melewatkan senja di kota lain selain Jakarta. Puncaknya, ia mengirmkanku senja di Wamena. Untuk yang satu ini, aku tidak terima. Menikmati senja di Papua adalah mimpiku yang lainnya, berharap bersama Tuan (?) yang entah sedang ada di mana.

Dan inilah beberapa senja yang ia kirimkan. Kuharap bukan hanya aku saja yang sedang dibunuhnya pelan-pelan. Selamat kehilangan nafasmu, kawan! (Note: beberapa gambar hasil jepretan kamera ponselku).

Kemang, 5 Maret 2013

Tunggu di Sini Saja, Aku Menujumu!

waiting

Sore itu, ada seorang laki-laki datang dan menyengajakan diri duduk tenang di sampingku. Tiada kata, hanya diam saja. “Aku temani ya,” hanya sebuah tawaran sederhana yang terlontar di awalnya. Aku hanya melihatnya sekilas dan menganggukan kepala. Tak ada kata-kata untuknya.

Aku memilih untuk berdiam diri di dermaga tua. Menikmati sore yang menghantarkan senja ke peraduan terakhirnya. Menelusupkan angin dalam peparu yang tak seberapa leganya. Aku sedang tak ingin bicara. Aku sedang menikmati diamku untuk beberapa waktu.

Hingga tiba waktunya, aku beranjak pergi. Tak peduli dengan si pria berkuncir kuda yang sudah rela menemaniku sejak tadi. Ia pun tak tergerak hati untuk menahanku atau sekadar menanyakan akan kemana aku pergi malam itu.

Iya, malam sudah merayap datang. Kini, si pria berkuncir kuda hanya ditemani angin malam yang kurang ajar menusuk-nusuk tulang. Aku pergi dan enggan untuk menoleh apalagi kembali. Setidaknya cukupkan hariku saat itu.

Beberapa hari berlalu, aku kembali ke dermaga tua. Kudapati si pria yang sama sudah lebih dulu duduk di sana. Di tepian dermaga tempat aku bertemu dengannya kali pertama. Sebuah buku bersampul cokelat lusuh jadi kawan setia selain rokok kretek yang ia hisap dalam-dalam di sela ia membaca.

Ia menoleh saat aku datang tetiba. Sepertinya itu mengejutkannya, meski kedatanganku sudah seperti dugaannya. Tak ada kata ia lontarkan, hanya diam yang ia sajikan. Aku, memilih duduk di sampingnya. Masih juga diam. Begitu seterusnya hari-hari kami lalui dalam diam. Entah siapa yang lebih dulu duduk di sana. Aku atau dia.

Hingga suatu sore, aku tak menjumpainya di tepi dermaga tua. Hanya secarik kertas kekuningan yang tertahan kaleng minuman yang masih utuh. Di dalamnya ada sebuah coretan tangan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Jangan kemana-mana, tunggu saja di sini. Aku sedang menujumu…

Dan begitu hari-hari berlalu. Aku menunggu pria berkuncir kuda itu tanpa tahu kapan ia akan kembali dan memenuhi janji di kertas yang ia tinggalkan untukku.

Jakarta, 24 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-12
*foto dipinjam di sini

Senja di Ujung Kota

pendar jingga selalu meninggalkan jejak manis

Terlonjak senang  mendapati pendar warna jingga di ujung sana. Rona yang kian memerah bulat sempurna, tidak pernah kutemukan yang serupa di Jakarta. Hatiku seolah melompat berlari menujunya dan ingin mendekapnya erat agar petang tak segera menjemputnya. Aku memintamu memelankan aksi si panda, sahabat baikmu. Tapi sepertinya kau tak mengindahkan permintaanku kala itu.

Kamu tahu, kemana pun aku pergi, aku akan selalu  mencari senja. Senja yang berbeda di tiap kota yang kusinggahi. Dan pastinya senja itu akan memberikan cerita yang berbeda. Dimana aku menikmatinya, dengan siapa aku menghabiskan senja, tentu akan berbeda sensasinya.

Dan kini, disaat tujuh kali purnama telah terlewati agar aku dapat singgah sejenak di kota ini, kembali aku tidak bisa menangkap semburat jingga sang senja. Ia berlalu begitu saja. Karena memang waktu yang dimilikinya tidaklah banyak. Hanya hitungan menit yang menjepit detik hingga terhimpit. Aku berkejaran dengan petang yang ingin menelannya bulat-bulat tanpa sisa.

Sedangkan aku? Aku ingin menangkap senja dan mengabadikannya di dalam kotak mungil yang selalu kubawa kemanapun aku melangkah pergi. Berharap aku bisa menikmati senja kemanapun kaki kecilku melangkah, dimanapun senja kurindukan, atau ketika senja hilang tertelan awan hitam gembul yang berarak riang.

Atau mungkin ketika sebuah kenangan ingin kupanggil untuk sekedar menumpas rasa haus akan rindu yang berkepanjangan. Ya, itu alasan ku ingin menangkap senja dan menaruhnya dalam kotak mungilku.

Dan ketika senja sore itu tak bisa kutangkap, aku hanya bisa menatapnya lekat-lekat. Berusaha menyimpannya dalam benakku yang kian lama terkikis lupa yang kerap datang dengan kurang ajarnya. Kuharap senja ini tak juga ia makan dengan lahapnya. Setidaknya jangan sekarang!

Ada seuntai tipis damai yang menelusup ke dalam laci-laci hatiku yang sudah berselimut debu. Ia ibarat kemoceng rindu yang membersihkan semua laci kenangan yang enggan kubuka sejak dulu. Dan ia memilinnya dengan rapi sehingga tak ada alasanku tidak menyunggingkan senyum sore itu.

Aku berhasil merajut senja dalam ingatan. Menikmatinya dengan alat pemberian Tuhan ini ternyata lebih membuatku merasakan sejuknya damai dibandingkan aku harus melihatnya dalam bingkai berukuran 5×10 cm.

Aku tak menyesal tidak bisa menangkap senja, toh senja tidak akan pernah sama sejak Seno mengeratnya untuk diberikan kepada Alina. Dan aku tetap bersyukur karena senja kali ini aku menikmatinya bersama semilir angin yang selalu membisikkan senandung rindu setiap waktu.

Stasiun Tugu, Jogja, 27 Oktober 2012
Nona Senja

Teruntuk: Kapten Bule’ si Kawan Timur

Hei, kapten! Iya, kamu. Jangan berlagak bingung, wajahmu tak lagi sedap ketika bingung. Kemana saja dirimu? Menghilang tanpa meninggalkan pesan kepadaku yang dirundung tanya berjuta-juta. Adakah kau merindukanku? Ah, kuyakin engkau terlalu gengsi untuk menyatakan rindumu untukku.

Mungkin memang harus aku lebih dulu yang menghembuskan embun rindu di jejaring sosialmu. Yang sepertinya sudah lama betul tak kau singgahi. Bagaimana tidak, induk laba-laba saja sampai betah beranak pinak di sana. Perlukah kukirimkan sejumput bulu-bulu ayam yang terselip diantara racauanku ini? Agar kau bisa berbenah diri untuk menemuiku, menyambutku di ‘rumahmu’?

Sebenarnya aku ingin marah padamu! Karena telah meninggalkanku dalam benak yang kini bisu. Aku merana, kehilangan kata dan musuh paling setia dalam setiap canda. Tapi sepertinya rindu yang terbendung jauh lebih menguasaiku dibanding amarah yang kini tampaknya mulai luntur. Aku merindu bermain kata denganmu. Berkubang dalam imajinasi dan impian yang dulu seringkali kita pilin bersama saat senja beranjak sirna. Atau kadang kau menyapaku dengan gelisah dan hausmu akan untaian kata yang menghantui beberapa waktu.

Kapten, apa yang kau lakukan kini? Masihkah kau berkubang dengan huruf dan tanda baca? Masihkah kau membiarkan jemarimu menari tanpa jeda? Aku ragu. Tak kutemukan jejakmu yang biasa kau torehkan di dinding ‘rumahku’. Apakah rupiah sudah melenakanmu dan merenggut waktu bermain dengan jemari dan imaji? Atau rutinitas telah mengekang semua luapan kata yang biasanya membanjiri kepala hingga ingin kau bungkam sejenak rasanya? Hmmm… Aku tak mau egois, memburumu dengan beribu tanya dan rasa kesalku. Sebelum kudengar kisahmu, aku ingin berbagi sedikit…umm, mungkin keluhku. Semoga kau berkenan membiarkan matamu bekerja sedikit lebih lama untuk membaca cericauku.

Kau tahu, keseharianku kini bergelut dengan kopaja. Bergelayutan setiap harinya, tidak ubahnya monyet saja! Tak jarang aku bersitegang dengan kernet kopaja yang sering ngeyel memadatkan isi kopaja meskipun kopaja sudah oleng ke kiri. Nyawa manusia tidak ada harganya di dalam kopaja, Kapten! Berdandan cantik pun percuma ketika dihadapkan dengan kopaja. Sia-sia saja rasanya. Peluh sebesar biji jagung berlarian menggayut manja pada wajah-wajah penuh harap dan kecewa.

Belum lagi kalau kopaja tua itu terbatuk-batuk di tengah jalan bebas hambatan, ah rasanya cemas merundung semua penumpang. Jangan sampai ia mogok dan membuat satu masalah baru lagi. Mana mungkin mencari kopaja lain di tengah jalan tol. Setidaknya itu doa sederhana penumpang kopaja tua.

Kadang aku begitu merindukan desa kecil yang pernah kita tinggali tahun lalu. Setahun lalu, Kapten! Tak terasa betul waktu terbang meninggalkan kita dengan berjuta kenangan manis. Mana pernah kutemui macet yang demikian mengular di jalan raya. Aku merindukan gowes ceria, menghirup udara pagi dan diburu waktu hanya takut terlambat dan mentraktir kawan-kawan segelas Joshua atau sarapan mi goreng racikan Mba Ida. Hehe..

O ya Kapten, di Jakarta sekarang ini sudah memasuki musim penghujan. Ribuan serdadu langit biasa menyapa ketika petang menjelang. Kalau sudah begitu, sudah dipastikan bahwa beberapa daerah di Jakarta akan lumpuh total. Banjir? Oh, bukan kapten! Hanya genangan, tapi imbasnya bisa melumpuhkan banyak jalan di Jakarta. Perjalanan menuju dekapan hangat bunda pun harus tertunda selama dua hingga tiga jam dari total empat puluh lima menit seharusnya.

Kamu tentu ingat, betapa aku menyukai hujan bukan?! Ingat saat kita mengayuh sepeda ke lapangan dekat dengan kuburan, dan mengabadikan momen itu dalam bidikan kameraku dengan pemandangan lembayung senja ditengah hamparan perkebunan tebu sebagai  latarnya? Tetiba hujan datang, mengguyur kita. Kita berlarian, dan segera menyambar sepeda tua sewaan yang entah berapa kali bermasalah dengan rodanya. Haha, tapi kita menikmatinya! Umm..maaf, aku ralat. Aku yang sangat menikmatinya, dan kau hanya bergeleng-geleng kepala melihat kelakuanku yang menikmati terpaan lembut prajurit air sore itu.

Aku juga masih ingat betul, obrolan kita yang lebih mirip perdebatan mengenai ‘orang buta dan warna’ yang tidak pernah berakhir sampai kepulanganku ke ibukota. Nasi gila racikan Mak Eka tidak pernah terasa sedap tanpa bumbu perbincangan kita tiap malam. Sayangnya, waktu tidak pernah berpihak pada kita dan selalu saja habis ketika perdebatan sedang menuju puncaknya. Dan, kita harus berpisah karena jam malam yang diberlakukan asramaku kala itu.

Ah, maafkan aku! Membuatmu mengingat semua kenangan manis di sana. Mencungkil-cungkil kenangan yang selalu membuatku haru adalah candu ketika Jakarta begitu hebat merajamku dengan penat. Sesak terhimpit waktu sampai kadang membuatku lupa untuk sekedar memutar kembali apa saja yang patut kusyukuri seharian ini.

Hmm..sepertinya cericauku sudah ngelantur kemana-mana. Kucukupkan dulu saja, aku tak mau kau mati bosan mendengar suaraku bercerita dan membuat matamu pegal membacanya. Aku menantikan ceritamu dari timur sana. Seperti apa kondisimu saat ini? Apakah masih tak berdaging seperti dulu? Hehe.. apapun ceritamu, kutunggu! Meski senja telah beranjak petang yang membuatku harus bekerja ekstra agar mata ini bisa beradaptasi dengan layar mungil di hadapanku.

Salam Rindu,

Nona Senja

Ps: Tulisan ini dibuat demi menebus rindu kawan lama yang sekarang berada di Indonesia Timur. Semoga kau berkenan membacanya, kawan! ^^

Untitled

Tidak banyak yang kulakukan sesiangan selain mencoba meyakinkan mata ini untuk bertahan lebih lama agar tidak berkedip. Menahan amarah syaraf mata yang sewakttu-waktu bisa saja memuntahkan bola mata karena sudah bosan menahanku agar tetap terjaga. Sejujurnya bukan hanya bola mataku saja yang terpukau, namun sepertinya seluruh pengindraan yang kumiliki terserap auranya. Yang membuatku merasakan kacau! Kacau yang menyenangkan. Pertanyaan berseliweran mengalahkan sibuknya jalanan tiap pagi. Mengapa ia begitu tenang di tengah riuh rendah suara orang-orang namun sekaligus menghanyutkan aku dalam lamunan?

Hanya sekitar 9 jengkal telapak tanganku yang cukup lebar, untuk bisa mengukur seberapa jauh kini ia duduk di hadapku. 9 Jengkal yang terasa 900 meter tatapan mataku terhadapnya yang hanya dibalas dengan tatapan pada buku yang sejak tadi tidak pernah ia khianati.

Aku tidak mengenalnya, ia pun tidak mengenalku. Namun rutinitas pandang memandang (tentu saja aku memandangnya dan ia tetap serius berjibaku dengan buku dihadapnya) ini  sudah bisa membuatku berdesir. Tak perlulah aku memaksa ia memalingkan wajahnya sesaat hanya untuk melihatku yang justru membuatku sesak nafas dan mungkin akan berakhir di UGD rumah sakit terdekat karena memerlukan oksigen tambahan.

Aku sudah cukup senang hanya dengan melihatnya dari tempatku saat ini. Tak peduli dengan sekelilingku yang ramai dan mengganggu. Fokusku hanya satu, ia yang kini duduk terpaku menghadap ke luar jendela menikmati senja.

Segerombolan siswi ABG yang sepertinya baru pulang dari sekolah kini sibuk di sudut ruangan mengeluarkan berlembar-lembar tugas sekolah sambil tetap asyik bergosip tentang siapa makhluk tampan tiap angkatan. Di sudut lainnya, tiga orang pria tambun setengah tua sibuk dengan tabel-tabel entah apa namun sepertinya itu mewakili rupiah yang akan mereka hasilkan.

Aroma tembakau menguar kuat dari seorang pria yang tengah menghisap dalam-dalam cerutu yang baru saja didapatnya dari seorang kawan yang baru menyelesaikan lawatannya. Dari tawanya yang lepas sepertinya cerutu ini memang tengah ditunggunya sejak lama. Seperti menunggu pujaan hati di dermaga sepi yang kini akhirnya datang mengunjungi. Dan aroma kopi yang menguar setiap hari di kedai ini menjadi akrab denganku sejak beberapa tahun terakhir.

Aneh! Aku jadi memperhatikan detil sekitarku. Aku yang biasanya cuek kini lebih senang melihat sekelilingku. Bahkan siapa saja yang sering datang dan pesanan yang menjadi pilihan mereka pun aku ingat betul.

Seperti ia yang suka sekali cappuccino hangat dengan satu sachet brown sugar ditemani sepotong kue jahe kuno yang akan  dibaui sebelum potongan itu mampir di mulut. Seberapa banyak potongan kue yang akan ia makan juga tergantung dari cara ia membauinya.

Ia pun tak pernah beranjak dari sofa merah yang berada di sudut ruangan dekat dengan jendela, sehingga jalanan di luar bisa terlihat sangat jelas. Meski demikian, ia tak pernah merasa terganggu dengan orang yang berlalu lalang atau berhenti sebentar hanya untuk melihat apa yang ada di balik jendela besar itu. Kakinya terangkat dan terlipat ke sisi kanan. Dan disitu ritualpun di mulai. Lembar demi lembar buku akan ia lahap tanpa terusik. Jenis buku yang ia baca pun tak pernah sama tiap harinya. Terakhir yang aku ingat ia tengah asyik membaca sebuah buku tua yang warna sampulnya kontras sekali dengan kulit nya yang berkilau saat matahari sore menerpanya.

Ah, aku sulit mendeskripsikan dia! Cantik yang menurutku luar biasa! Apalagi kalau ia sedang memainkan tangkai kacamatanya dan membetulkan posisi duduknya agar lebih rileks. Aku terbuai!

Aku ingin menyapanya. Aku ingin menegurnya. Aku tak mau kehilangan kesempatan yang sebenarnya sudah datang sejak lama, namun keberanianku seperti menguap dan lupa untuk disublim kembali. Tapi sepertinya hari ini aku harus maju tanpa harus menunggu keberanian itu terkumpul seutuhnya. Aku tidak tahu bagaimana memulai perkenalan dengan manis, namun sebongkah nekat kurasakan sudah cukup untuk bisa mengucapkan ‘Hai’ dan menanyakan ‘Boleh kenalan?’ Ya, kurasa itu cukup!

Baru kumundurkan kursiku untuk mencoba membuat satu langkah pertama yang menentukan masa depanku, saat kuatur nafasku tiba-tiba ia terlonjak seperti mengingat sesuatu. Dengan tergesa-gesa ia membereskan barang-barangnya dan meninggalkan aku yang masih terpaku dan menyesal karena terlambat sepersekian detik untuk menujunya.

***

Sabtu siang, kedai kopi yang sudah ramai sejak pagi menyisakan satu tempat. Sebuah sofa merah di sudut jendela masih belum terisi. Sejak tadi pelayan sengaja menaruh papan ‘reserved’ di meja entah karena memang sudah dipesan atau memang tempat itu sudah jadi tempat andalan ia- si gadis manis yang sudah mencuri hatiku sejak pertama- pelanggan kedai kopi paling setia.

“Klining”

Pintu kedai terbuka, aroma vanilla masuk menusuk penciumanku yang kusambut dengan gembira. Ya, ia si gadis penunggu sofa merah beraroma vanilla yang selalu saja asyik dengan dunianya. Bahkan sedetikpun ia tidak terusik dengan tatapanku yang sudah ditangkap sinyalnya oleh Aji, pelayan kedai kopi minggu lalu.

Ia duduk, membuat diri senyaman mungkin, menoleh dan tersenyum ke arah Aji, pelayan kedai kopi yang langsung disambutnya dengan anggukan. Tangan Aji pun mulai bergerak lincah bergumul dengan mesin kopi dihadapnya. Seolah ia punya kode rahasia khusus yang langsung ditangkap radar pelayan kedai kopi.

Jantungku berpacu cepat, diburu oleh keinginan yang sempat tertunda. Namun otakku berpikir lebih keras berdialog dengan hati apakah aku harus menghampirinya sekarang, nanti, atau ..? Belum sempat lagi otak ini membuat berbagai kemungkinan, kudapati ia tengah mengeluarkan sebuah buku besar bersampul cokelat tua  tanpa ada judul di depannya.

Aku tertegun. Buku apa gerangan yang tengah ia keluarkan? Dibuka lembar pertama. Ada binar indah yang terpancar, di lembar-lembar selanjutnya kutemukan senyum manis tersungging dan pipi yang bersemu semerah senja. Entah di lembar keberapa ia terhenti dan mulai mengeluarkan sesuatu dari saku tas rajutan miliknya. Sebuah pensil.

Yak, sebuah pensil yang kini membantu jemarinya menari-nari di atas lembaran kertas berwarna kecokelatan jika mataku tak salah tangkap soal warna. Tapi tunggu! Untuk gadis manis yang kuduga cukup modern, kenapa pensil kayu yang diserut kasar ujungnya justru jadi pilihannya disaat banyak orang sudah beralih ke pensil mekanik?

Oke. Setiap detil yang ada pada dirinya memang sudah menghipnotisku begitu rupa. Coba lihat saja mengapa aku begitu peduli dengan pensil yang ia gunakan. Bahkan untuk kepala beruang yang jadi penghias ujung pensil kayu itu.

Ia menulis, mengguratkan tulisan pada setiap halaman buku dengan pensil kayu berserut kasar sambil sesekali tersenyum dan tenggelam dalam pikirannya. Pipinya bersemu merah begitu kontras dengan senja yang perlahan turun menyapu tubuhnya.

Ingin sekali ku menghampirnya, menyapanya, dan menjalankan misiku yang tertunda. Namun, keindahan sore ini begitu langka! Haruskah aku meninggalkan pesona indah yang Tuhan kirimkan sore ini hanya demi sebuah nama?

to be continued…

(3 September 2012)