Perihal Jabat Tangan

jabattanganBerkenalan dan mengenalkan diri, itu yang paling disuka saat menyusuri tempat baru. Mengulurkan tangan, menggenggam, dan tersenyum, sederhana saja. Tapi itu justru awal bermula apakah semua cerita bisa mengalir sesudahnya atau cukup diam dan menjaga jarak beberapa hasta. Setidaknya itu menurut saya.

Ada kalanya, mereka, orang-orang baru yang saya temui hanya ‘memberikan’ genggaman sekadarnya saja. Terkesan dingin, dan memberikan jarak dengan orang yang baru dikenalnya. Saya sendiri kadang merasa ‘tidak diterima’ ketika berjabat tangan dengan orang-orang seperti itu. Tidak ada hangat yang menjembatani pertemuan ini.

Tapi saya maklum, saya hanya makhluk asing untuk mereka. Pun mereka untuk saya. Tapi, buat saya itu penting, dimana kepercayaan biasanya mengalir pelan namun pasti melalu jabat tangan. Dan dari jabat tangan saya bisa menerka apakah saya bisa diterima atau tidak dihatinya. Itu saja.

Jakarta, 8 Januari 2013 ; 15.10
*foto dipinjam di sini

Advertisements

Kukis si Hidung Pesek

Pagi tadi dalam perjalanan menuju tempat mengais rupiah, saya bertemu dengan seorang anak kecil yang usianya mungkin sekitar 5 tahun. Anak ini lucu sekali dan cukup pintar menurut saya. Ia terus saja berceloteh riang, meskipun si ibu tampaknya sudah bosan menganggapi segala pertanyaan polosnya.

Pipinya gembil hampir saja saya tergoda untuk mencubitnya dan untung saja saya tidak lakukan. Saya terus menatap dan memperhatikan setiap gerak geriknya. Uuuhh.. benar-benar menggemaskan. Saat dia sadar saya tengah menatapnya dia tak lantas malu-malu seperti kebanyakan anak kecil lakukan.

Justru dia malah semakin menunjukkan sikap bersahabat, saya suka! Sambil asyik berkutat dengan ipod mencari-cari lagu yang sreg di hati, tiba-tiba saya sedikit mendengar si kecil ini bernyanyi. “si kukis…si kukis..” Entah apalagi lanjutannya. Semakin lama suaranya semakin terdengar.

Iseng-iseng, ipod saya matikan dan mulai mendengarkan apa yang sedang ia nyanyikan. Dan akhirnya terdengarlah sebuah lagu..
“kukis.. si hidung pesek.. kukis si hidung pesek..,”. What?! Lagu apa ini? gumam saya. Sambil terus menatap wajah anak ini, saya mencoba mendengarkan apa sih yang sebenaranya dia nyanyikan.

Tiba-tiba… saya menatap sebuah keganjilan, tiap kali ia menyebutkan “kukis, hidung pesek” ia selalu menatap saya. Terus berulang dan berulang. “Arrgggggghh..” ada apa dengannya?! Kenapa saat ucapan ‘hidung pesek’ dia harus menatap saya?! Dan tiap kali kata nya berganti dengan yang lain ia menatap ke arah lain dan saat kemabali ke ‘hidung pesek’ ia langsung menatap saya. Hiks..hiks..

Saat dia turun, dia menyempatkan diri menoleh ke arah saya memberikan senyum menampilkan jendela di giginya, sambil mengatakan “kukis si hidung pesek..” saya lantas membalas senyumnya dengan perasaan pasrah. (dasar anak kecil!)