Perasaan Siang Ini

Aroma mi instan rasa soto masih kuat menguar di udara. Membelai perut-perut yang kelaparan tak bisa memamah biak apapun kecuali angin yang sejak tadi terhirup tanpa sadar. Hujan sejak pagi enggan berhenti sejenak saja membuat banyak orang malas untuk menggerakkan tubuhnya bahkan sekadar untuk mencari sesuatu yang bisa membuat penghuni lambung berhenti berdemo sementara waktu.

Kamu masih saja asyik mengunyah mi instan rasa soto di hadapanmu. Tak peduli pandangan sinis dia yang sejak tadi ingin meminta kuah mi instanmu sedikit saja. Kamu seperti tak peduli padanya. Menikmati mi instan rasa soto dalam duniamu saja.

Tiba-tiba…

“Kamu ngga tahu perasaanku saat ini sih,” katamu padanya ketika ia mencoba menarikmu dalam dunia nyata.

“Memang apa yang kamu rasakan?” akhirnya ia bertanya.

“Kamu tahu, betapa berharganya suapan terakhir dari setiap mangkuk mi instan, kan? It’s priceless! Dan aku mengacaukannya!”

Seolah tak mengerti akan racauanmu, ia kembali bertanya “maksudmu?”.

“Aku menggigit sesuatu. Dan itu rasanya pahit. Aku tak mau membayangkan apa itu,” mukamu pasi saat menjawabnya.

“Sepertinya aku telah menamatkan hidup seekor lalat siang ini. Lalat yang sejak tadi ingin nimbrung makan mi instan bersamaku sepertinya berhasil masuk bersama kuah mi instan tanpa kutahu,” penjelasanmu membuat ia terbahak-bahak hingga mulas rasanya.

“Haha..itu balasan setimpal untuk orang yang pelit hanya sekadar berbagi kuah mi instan!” tawanya membahana ke seluruh penjuru ruangan yang makin membuatmu keki dan menjadikan bibir tipismu makin manyun beberapa senti.

PS: cerita ini fakta adanya. nama pelaku tidak dicantumkan untuk menghindari hal-hal yang sangat diinginkan. Hihihi…

Advertisements

Saat Monyet dan Kingkong BBM-an

monyet

Simba : “PING!”
“PING!”
“PING!”

Sigarf : “Hai..hai, kamu.. ada apa?”

Simba : “Kamu baik-baik saja, kan?”

Sigarf : “Iya, ada apa memang?”

Simba : “Aku sedang baca e-news, dan ada berita tentang orang yang terkena penyakit Pseudoaneurisma Sinus. Dan kebetulan namanya persis sama nama kamu, cuma ngga ada fotonya aja.”

Sigarf : “Ha? Seriously?”

Simba : “Iya”

Sigarf : “Memangnya itu penyakit apa?”

Simba : “Hidungnya mengeluarkan darah terus menerus. Mimisan tapi ngga selesai selesai..”

Sigarf : “Waduh! Serem banget. Alhamdulillah, aku ngga mimisan. Aku cuma lagi ingusan ngga kelar-kelar. Keluar terus kayak keran bocor..”

Simba :Hadeuuh.. too much information, woy! #jitak”

Sigarf : “Hahaha…#ngakaksampemarseille”

Simba :I’ll send you my huge warm hug now *peluk*”

Sigarf :Really? Uwuw..i really need that now! Sneezing all the time and feeling cold killing my mood. Arrggh.. #anakmanja”

Simba : “Kalau kita dekat, aku pasti langsung peluk kamu erat sekali sekarang. Untuk sementara, biar ikon ini yang wakili aku yaa.. Umm..ngomong-ngomong, kamu sudah mandi kan?”

Sigarf : “Sudah. Kenapa?”

Simba : “Yaa..kalau kamu belum mandi aku ogah peluk kamu! Kan kamu habis jadi monyet kopaja. Hahaha.. #jebakanbatman”

Sigarf :Kampreeeeeettttt!!!! Dasar kingkong jelek! #ngambek”

Simba : “Hahahaha.. Love you, monyet! 🙂 *huff..ini nih yang bikin aku ngga pernah bisa lupain kamu*”

Sigarf : “#monyetterhuraberkacakaca”

Simba : “Hahaha.. #peluk Kamu jaga diri ya, jangan kalah sama flu nya. Katanya mau nyusul aku di sini?! Finland itu dingin lhooo… Nanti ingus kamu bisa beku pas keluar mirip kayak stalakmit hahaha”

Sigarf : “Hanjiiirrr!! Ngeri bener. Hahaha.. Siap, kingkong! Tunggu monyetmu ini yaaa..“

Simba : “Selalu. Menunggu penuh cinta. #tsahh “

Sigarf : “Awuwuwu… kingkongnya puitis, tiba-tiba meleleh. Tapi yang meleleh ingusnya. Ahahaha”

Simba : “Iyuuuuhhh.. TIDUR SANA!”

Sigarf : “Hahaha.. *kisses*”

Kandang Beruang, 12 Desember 2012
*terinspirasi dari obrolan dengan seorang teman di luar sana. 🙂

*foto diambil di sini

Pertemuan dan Perjalanan

Setiap ada pertemuan pasti ada kisah. Ada warna yang bakal ditorehkan, baik itu warna pelangi atau mungkin warna mati. Dan pertemuan diawali gak melulu harus dengan jabat tangan serta sapaan ringan seperti “Hai”.

Pertemuan bisa saja berupa ketidaksengajaan dari sebuah perjalanan. Perjalanan yang tidak selalu dengan kaki, namun bisa juga dengan tuts keyboard hitam usang yang kini tengah saya gunakan. Namun toh tidak mengurangi makna sebuah perjalanan itu dan  tidak menghilangkan jejak pertemuan yang kini sedang saya ramu.

Ya, perjalanan saya di dunia maya yang tanpa sengaja membuat saya singgah dan betah duduk berlama-lama sambil menyesap segelas cokelat hangat atau mungkin sambil terus memamah biak camilan lebaran yang enggan berkurang dari toples kaca-di halaman rumah milik seorang kawan baru, bernama Teguh Puja.

Pertemuan di ‘rumah mungil’ miliknya menarik saya untuk berbincang-bincang lewat jalur yang lebih gampang. Tapi tetap masih dalam dunia maya tentu saja. Yang tanpa saya sadari ia pernah mampir di pojokan kedai kopi saya di sarang yang lama.

Kini, (atas sarannya) saya sudah memiliki sarang baru. Sarang dimana saya bisa tetap bermain dengan kata, berceloteh tentang apa yang sedang saya rasa, saya duga, serta memanjakan jari jemari ini dengan untaian huruf-huruf pemanis keyboard hitam. Dan pastinya menenggelamkan diri dalam samudera kata yang dirangkai oleh kawan-kawan dunia maya lainnya.

Hmm..ini seperti sebuah perjalanan baru dengan tujuan baru dan armada yang baru. Tapi Nahkoda nya tetap sama, hanya saja kini perjalanan itu tidak lagi ditemani secangkir kopi, melainkan lantunan suara saya yang tengah berceloteh yang tergambar dari rajutan huruf-huruh mungil.

Riang, sendu, risau atau mungkin marah akan jadi penghias yang selalu ada. Anggap saja itu sebuah kejutan! Terapi jantung yang asyik tanpa khawatir berakhir di rumah sakit. Dan jika kamu ‘mendengar’ suara saya di sarang ini, anggap saja itu sebuah dongeng. Dongeng yang mungkin bisa menyumbangkan secuil warna manis untuk kamu memulai perjalanan setiap hari.