Ada Sempurna di Ketidaksempurnaan

Siang ini, aku memilih ‘mengasingkan’ diri di salah satu sudut café yang lokasinya tak jauh dari kantor. Kebetulan sekali salah satu manager di tempat ini adalah kawanku. Jadi tak pernah masalah untuk datang ke sana meskipun aku hanya membeli segelas jus buah atau secangkir kopi karena makan siang biasanya aku membawanya dari rumah.

Tidak jarang aku menghabiskan siang, sore, bahkan malam di tempat ini. Jujur, suasana yang tercipta di sini membuat makan siang sederhana dalam kotak berwarna jingga jadi istimewa rasanya. Sebuah kebun terhampar luas yang dihiasi berbagai macam tanaman bunga. Kolam besar ada di salah satu sudutnya, membuat pandangan jadi terasa segar dengan riak yang terpantul di permukaannya.

Aku memilih duduk di salah satu meja yang menghadap kolam. Dengan sebuah payung besar menduhkan pandangan serta melindungiku dari paparan matahari siang ini. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan makan siangku. Cukup 15 menit saja. Sisanya, aku akan menenggelamkan diri dalam rentetan kata yang kubaca di dunia maya. Atau akan mengulik beragam rekam gambar untuk keperluan ilustrasi sore nanti.

“Ah, nggak mau ah.. Ulangi lagi!”

Sebuah teriakan dari arah kolam menggangguku. Kulihat sekilas, ada sekelompok perempuan berbaju serupa – merah muda – tengah menjalankan aksinya di depan kamera. Aku hanya tersenyum-senyum saja melihatnya.

Aku tenggelam lagi dalam media yang tengah kubaca sambil sesekali menyesap Flores Bajawa. Ah, Tuhan.. nikmat mana lagi yang harus kudustakan? Aku tersenyum sendiri, menikmati semua yang ada dihadapanku saat ini.

“Iiihh..kenapa sih? Gue gak suka. Ulangi lagi!”

Kembali suara itu tertangkap telingaku. Entah apa kali ini masalahnya.

“Pokoknya Lo kudu ambil bagian sini, jangan sebelah sini. Gue nggak suka,” kata-katanya barusan terdengar biasa saja. Tapi saat kulihat ia mengatakannya ada kesan mengintimidasi kawannya yang hanya bisa geleng-geleng kepala.

Aku jadi penasaran apa yang sedang ia debatkan. Kini, bacaanku tidak lagi menarik setelah melihat objek nyata yang tengah menarik urat di pinggir kolam sana. Ya, aku masih manusia yang punya rasa ingin tahu besar juga. Meskipun ini sebenarnya bukan urusanku juga.

“Aaaah, ini masih keliatan Je! Ulangi lagi, Ah!”

Perintah si wanita itu. Lambat laun aku menyadari satu hal. Ia menginginkan hasil rekam gambar di ponsel miliknya tidak boleh memperlihatkan bagian tubuhnya yang terlihat gemuk. Ia ingin tampak sempurna, langsing seperti kawan-kawan lainnya. Padahal menurutku, tidak ada yang salah dengannya. Ia masih juga cantik, tidak ada yang kurang. Dan menurutku, ia cenderung seksi. Terlebih dengan kandungan yang sepertinya sudah menginjak usia lebih dari 7 bulan yang membuat dirinya semakin cantik dimataku.

Oh percayalah, seorang wanita akan semakin cantik saat ia mengandung. Setidaknya itu obrolan yang pernah kutangkap diantara teman-teman priaku. Mereka justru tak peduli dengan lemak yang timbul karena porsi makan yang menjadi berkali-kali lipat banyaknya. Karena menurut mereka (pria) ada cinta yang tengah dilindungi di dalam rahim wanita. Itu yang membuat wanita selalu tampak berbeda ketika sedang berbadan dua. Atau aku bisa menyebutnya, sempurna.

Kemang, 14 Februari 2013

Coz I’m Pretty!

Cantik itu nggak melulu hadir dengan tampilan yang mewah, pakaian serba mahal plus glamor, make up tebal yang menyulap wajah jadi lebih mirip boneka. Cantik cukup bisa dilakukan dengan satu hal, menanamkan bahagia dalam hati dan pikiran.

Karena ketika kita merasa bahagia, orang lain akan merasakan kebahagiaan yang kita punya. Aura yang kita pancarkan juga akan membuat kita terlihat lebih cantik tanpa bantuan apapun. Seperti hari ini, hati saya sangat bahagia. Lebih bahagia dari biasanya. Dan saya merasa cantik hari ini (hehe, narsis dikit ya). Semoga orang lain pun mengamini.

Tidak perlu susah-susah menduga apakah saya menang lotre atau sedang jatuh cinta. Saya hanya sedang mencoba berpikir positif setiap pagi menanamkan bahagia di hati dan pikiran saya. Sehingga saya merasa cukup percaya diri untuk memulai aktivitas setiap hari.

Do I look pretty, today? YES! Haha.. *dilarang protes!*

simple but makes comfort  :D

simple but makes me comfort 😀

Jakarta, 1 Februari 2013
Mengawali Februari dengan mencoba menghipnotis diri, saya ‘cantik’ setiap hari. Bahagia itu sederhana bukan? 😀

Tunggu di Sini Saja, Aku Menujumu!

waiting

Sore itu, ada seorang laki-laki datang dan menyengajakan diri duduk tenang di sampingku. Tiada kata, hanya diam saja. “Aku temani ya,” hanya sebuah tawaran sederhana yang terlontar di awalnya. Aku hanya melihatnya sekilas dan menganggukan kepala. Tak ada kata-kata untuknya.

Aku memilih untuk berdiam diri di dermaga tua. Menikmati sore yang menghantarkan senja ke peraduan terakhirnya. Menelusupkan angin dalam peparu yang tak seberapa leganya. Aku sedang tak ingin bicara. Aku sedang menikmati diamku untuk beberapa waktu.

Hingga tiba waktunya, aku beranjak pergi. Tak peduli dengan si pria berkuncir kuda yang sudah rela menemaniku sejak tadi. Ia pun tak tergerak hati untuk menahanku atau sekadar menanyakan akan kemana aku pergi malam itu.

Iya, malam sudah merayap datang. Kini, si pria berkuncir kuda hanya ditemani angin malam yang kurang ajar menusuk-nusuk tulang. Aku pergi dan enggan untuk menoleh apalagi kembali. Setidaknya cukupkan hariku saat itu.

Beberapa hari berlalu, aku kembali ke dermaga tua. Kudapati si pria yang sama sudah lebih dulu duduk di sana. Di tepian dermaga tempat aku bertemu dengannya kali pertama. Sebuah buku bersampul cokelat lusuh jadi kawan setia selain rokok kretek yang ia hisap dalam-dalam di sela ia membaca.

Ia menoleh saat aku datang tetiba. Sepertinya itu mengejutkannya, meski kedatanganku sudah seperti dugaannya. Tak ada kata ia lontarkan, hanya diam yang ia sajikan. Aku, memilih duduk di sampingnya. Masih juga diam. Begitu seterusnya hari-hari kami lalui dalam diam. Entah siapa yang lebih dulu duduk di sana. Aku atau dia.

Hingga suatu sore, aku tak menjumpainya di tepi dermaga tua. Hanya secarik kertas kekuningan yang tertahan kaleng minuman yang masih utuh. Di dalamnya ada sebuah coretan tangan yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Jangan kemana-mana, tunggu saja di sini. Aku sedang menujumu…

Dan begitu hari-hari berlalu. Aku menunggu pria berkuncir kuda itu tanpa tahu kapan ia akan kembali dan memenuhi janji di kertas yang ia tinggalkan untukku.

Jakarta, 24 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-12
*foto dipinjam di sini

Menjahit

Ada sebuah tulisan yang terbaca olehku siang ini, yang  ditujukan untuk seorang kawan di luar sana. Saat membacanya entah apa yang berkecamuk di kepalaku. Tapi satu hal yang pasti, aku jadi merenung karenanya. Mencoba untuk mencermati kata-kata yang terangkai indah di sana.

Ini dia:

Keterampilan pertama wanita adalah harus bisa ”menjahit”. Karena bagaimanapun keadaannya sudah menjadi kodrat wanita harus menjahit hatinya sendiri.

Sedangkan pria tentu tidak harus bisa menjahit, karena sudah menjadi kodratnya akan dijahitkan oleh wanitanya, atau dibiarkan saja lukanya karena bangga dengan parutnya

Dan hari ini, aku tengah menyiapkan benang dan jarum terbaik yang kupunya untuk bisa menjahit setiap luka yang tertoreh pada lelakiku nantinya. Mencoba menghilangkan parutnya serupa bedah plastik tercanggih yang pernah ada di dunia ini.

Hai lelakiku di luar sana, jika memang kita sudah dipersatukan nanti pastikan hanya jarum dan benang yang terangkai dari jemariku lah yang akan menutup lukamu. Luka dari setiap duka yang pernah ada agar engkau tetap bisa menjadi manusia seutuhnya dan menjagaku sebagaimana Tuhan mengutuskan mandatnya padamu. 🙂

Jakarta, 1 November 2012
Nona Senja teruntuk Tuan (?)

Khawatir

Aku terbangun saat malam belum beranjak terlalu dalam. Saat semua lelap masih mendekap erat manusia dan bukan para nocturnal. Ketika peri mimpi masih asyik bekerja menebar debu mimpi kepada siapa saja yang membutuhkannya. Aku justru terjaga.

Aku menatap hampa gelap yang mencekam. Aku takut dan gemetar. Kulayangkan pandang, yang ada hanya kekosongan. Kecuali dengkur tipis yang terdengar mengiringimu menuju bukit mimpi terdalam. Tak ada yang kurasa selain damai melihatmu. Hilang semua gundahku. Sirna semua resah yang mengikutiku dari alam mimpi.

Tapi, sepertinya itu bukan mimpi. Semua gundah dan resah yang selalu menghantui di alam mimpi hanyalah bentuk kekhawatiranku. Alam bawah sadarku menangkapnya dan menjejaliku meski aku sudah berada di dunia yang berbeda.

Aku khawatir. Khawatir akan kamu, pendampingku yang kini masih asyik merajut mimpi. Akankah kau masih seperti ini ketika usia senja merayapi kita nanti? Mencintaiku dengan sepenuh hati?

Akankah kau masih setia mendampingiku meski raut wajahku tidak lagi seperti usia belia. Ketika semua bedak dan segala kosmetik tidak bisa menutupi keriput yang makin hari makin merajut?

Akankah kau tetap mengecup keningku setiap pagi, kala matahari menyapa lembut ruang kamar kita dan kau akan bilang “kamu bidadari tercantikku” meski kaki tua ini sudah tidak bisa berfungsi semestinya?

Akankah kau mau menemaniku bermain di taman, melihat para malaikat kecil sedang bermain gembira dengan bebasnya, meskipun riuh suara para malaikat itu belum juga mampir di rumah kita dalam waktu yang cukup lama?

Akankah kau masih mau melihatku dengan pandangan manis itu meskipun tubuhku sudah menggelambir, dan tak akan seksi lagi saat harus mengenakan busana malam yang kau belikan di kencan kita pertama?

Akankah kau mencari pelabuhan lain ketika aku tak bisa memuaskan perutmu dengan masakan lezat hasi karyaku seharian bergelut dengan pisau dan kompor?

Akankah kau mencari telinga dan hati lain ketika aku tak bisa lagi mendengar keluh dan kesahmu di kantor ketika sakit bulanan menderaku dan membuatku sendu seharian?

Ah, sepertinya aku terlalu banyak khawatir!

Aku hanya bisa menjadi diriku yang berusaha sepenuh hati menjadi bidadarimu setiap hari. Meski aku tak akan pernah cantik sepanjang waktu, meski tua akan merayap mendekat dan mahkota di kepala ku sudah mulai berubah nantinya.

Aku akan menikmati damai yang kau berikan. Damai melihatmu mendengkur halus di kala malam, dan damai ketika melihatmu tenggelam dalam kubangan buku hingga larut di ruang baca. Aku akan menikmati itu semua. Menikmati masa-masa menjadi pendampingmu kini, dan entah sampai kapan tanpa perlu khawatir yang akan terjadi nanti.

Selamat merajut mimpi ksatriaku, lelaplah dalam mimpimu, aku akan segera menyusulmu. Tunggu aku!

bahagia itu melihatmu hangat terlelap dalam mimpi

Jakarta, 1 November 2012
Nonayangmerenungpagiini
Ps: percaya atau tidak ini adalah perasaan yang akan merayap datang pada setiap perempuan entah kapan

foto  diambil di sini.

27

 

Happy birthday to you..
Happy birthday to you..
Happy birthday… Happy birthday..
Happy birthday to you…

Lantunan lagu sederhana yang sudah akrab di telinga sejak usia setahun kini terdengar riang mengalun dari voice note yang dikirimakan beberapa orang teman. Senyum tersungging rasa haru merayap lambat seketika lagu selesai mengalun.

Hari ini memang hari lahirku. Lebih tepatnya tanggal lahirku, tapi belum jam kelahiranku. Tapi ucapan mengalir sejak malam berganti. Senin menjadi selasa. Tanggal 3 menjadi tanggal 4. Usia 26 menjadi 27.

Hari ini usiaku bertambah satu, kontrakku justru berkurang satu. Usia ku kini tidak lagi terbilang belia. Usia yang banyak orang bilang adalah usia matang dan sudah cukup untuk membina rumah tangga atau bahkan membesarkan anak-anak lucu yang mungkin sedang belajar jalan bersama ayahnya.

Usia dimana kebanyakan wanita ngeri menghadapinya, tapi justru tidak denganku. Aku justru berbahagia menyambut usia baru. Merasa senang dengan perpaduan dua angka yang menurutku menghasilkan sebuah angka baru yang tinggi nilainya. Sembilan!

Aku bersyukur dengan semua rasa yang kumiliki hingga detik ini. Semua rasa bahagia yang kunikmati karena aku masih memiliki orang-orang yang menyayangiku begitu besarnya. Memiliki rasa sedih yang mengingatkanku bahwa ada rasa bahagia yang jauh lebih indah. Dan ada rasa kehilangan yang membuatku semakin bersyukur bahwa aku masih memiliki Tuhan yang akan selalu ada dimanapun aku  dan kemanapun aku melangkah.

Kini, di usia baruku pintaku sederhana meskipun tetap saja tidak satu. Tentu sehat yang ingin kudapat setiap harinya agar aku bisa terus berbagi senyum bahagia untuk mereka di luar sana. Dan meminta Tuhan menjaga ia yang akan diberikan tugas mulia menjagaku di dunia dalam kondisi apapun. Aku tahu, saat ini aku tak mau menanyakan ‘kenapa’ karena aku tidak ingin menggugurkan ranting pahala yang sudah ada. Tapi aku hanya memohon agar ketika saat itu tiba, kami berdua memang menjalankannya dalam jalurmu, Tuhan.

Sebelum kupejamkan mata, selamat bertambah usia Aku. Semoga tidak melulu keakuan yang kutorehkan, kuharapkan kekamuan yang terselip dalam senyuman. Dan kekitaan yang terukir mantap menata masa depan.

I’m Leaving But Not Moving

Meninggalkan kota yang sudah menemani ku selama ini sungguh membuat dada ini sesak. Meski diri ini meninggalkannya hanya untuk sementara dan menggunakan hak yang setelah satu tahun belum terusik seharipun. Mungkin karena kepergian ku kali ini tidak diiringi dengan hati yang senang. Tapi justru sedang terbebani akan hal-hal yang benar-benar membuat kepala seperti mau pecah. Bingung!

Keputusan ini memang sangat sulit. Tapi aku harus berani mengambil jalan ini. Pergi untuk sementara waktu. mencoba mencari setiap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terus menghantui beberapa minggu terakhir. Mencoba menenangkan diri, dan mencoba untuk tidak memikirkan dia yang telah mencuri setiap jengkal hati dan pikirsan. Hmm.. sepertinya akal sehat ku pun telah ia ambil tanpa sekalipun aku tahu.

Semua orang mempertanyakan. Semua orang bingung atas apa yang aku lakukan. Pergi dengan meninggalkan sebuah pesan elektronik di email sahabat-sahabatku. Tanpa memberitahukan kemana tujuan kaku ini melangkah pergi. Meskipun akhirnya aku menyerah juga dan memberitahukaan keberadaan saat ini.

Mencoba menenangkan diri dan mencoba lepas dari magnet yang telah ia pautkan kepada ku sejak beberapa bulan terakhir ini. Tapi apa daya? Semuanya sangat berat. Disaat terakhir ingin menjauhkan segala macam yang menyangkut sosok yang satu ini. Justru ia malah kembali dalam kehidupan ku dengan segudang pertanyaan ‘kenapa?’.

Aku takkan pernah sanggup untuk mengabaikan pesan darinya. Pesan yang menanyakan kenapa aku tidak mengatakan sebelumnya tentang kepindahan ini. “Segitu buru-burunya ya, sampai gak sempet bilang aku?” Pesan singkat dan sederhana ini mengusikku semalaman.

Berkali-kali aku coba ketikkan pesan balasan, namun selalu kuhapus dan urung untuk dikirimkan. Sampai akhirnya aku hanya mampu menuliskan “im leaving but not moving dear”. Hanya itu yang bisa ku katakan padanya. Dengan perasaan hancur dan tak bisa berkata-kata lagi. Ingin sekali rasanya aku mengatakan alasan kepergianku yang sebenarnya padanya. Itu semua karena ‘dia’.

Entahlah, apakah aku akan sanggup menjalani semuanya? Yang aku tahu, TUHAN selalu menemaniku. Membantuku dengan keresahan ini. Semoga jalan terbaik untukku akan segera terbuka. mm.. mungkin sudah terbuka namun aku belum mampu melihatnya. Semoga itu tak kan lama.. And i’m leaving now, but not moving.. So, wait for me.. The new me!!!