Katanya, Selalu Ada Pelangi Setelah Badai

Seperti judul yang saya buat, selalu ada pelangi setelah badai. Setidaknya itu yang agak nyerempet kondisi saya saat ini. Setelah gonjang ganjing Batavia Air kemarin yang sempat bikin jantung kebat kebit, panik dari pagi sampai malam, bingung nggak rampung-rampung, dan segala jenis resah yang diaduk jadi satu adonan paling yahud! Akhirnya ada juga kabar baik untuk hari ini.Penghujung bulan Januari 2013.

Hal yang paling jelas adalah untuk semua materi pekerjaan akhirnya selesai (Oh GOD! Setelah berbulan-bulan kena revisi tiada akhir!). Saya hanya tinggal ‘mendampingi’ sekilas saja. Tapi satu hal yang paling menonjol adalah, project NOAH dan Nicky Astria akhirnya rampung. Sudah bisa lanjut lagi untuk pengembangannya.

Dua buah project ini terbilang project baru yang datang di akhir tahun 2012. Setelah proses tender yang lumayan bikin perut mules karena harus lembur sampai malam dan pagi untuk rekan-rekan saya (untungnya jadi the only one lady in team, nggak perlu lembur sampai pagi. Hehe). Akhirnya program ini sudah siap dijalankan.

Cukup puas melihat hasilnya yang sudah dijalankan di beberapa platform. Meskipun saya melihat banyak sekali yang perlu dibenahi sana sini. Tapi sejauh ini, kerja tim R&D sangat baik karena dalam tempo singkat sudah bisa menghasilkan satu sistem yang ciamik. Bravo, guys!

Nah, untuk kalian para pembaca, tunggu saja pengembangannya muncul di pasaran ya! 😉

Jakarta, 31 Januari 2013
Nona yang cukup senang hatinya 😀

Advertisements

Jakarta: STING Back To Bass Tour 2012

stingbacktobasstour

Dentum irama yang mulai mengalunkan nada If I Ever Lose My Faith, kontan membuat seluruh penonton di Mata Elang International Stadium (MEIS) Ancol bersorak menyambut kehadiran Gordon Matthew Thomas Sumner atau yang lebih dikenal dengan nama STING, Sabtu malam, 15 Desember 2012 lalu.

Meskipun usianya sudah lebih dari setengah abad, ternyata tidak menjadikan STING kehilangan pesonanya di atas panggung. Ia tetap bisa memukau jutaan pasang mata dan membuat mereka semua bernyanyi bersama di awal acara.

Every Little Thing She Does Is Magic menjadi lagu kedua yang dibawakan, yang langsung disambut sorak sorai penonton dengan gegap gempita. Aksi panggungnya pun tetap menarik dan sangat enerjik. Betotan bassnya dalam Englishman In New York di lagu ketiga seperti menggiring saya menuju kenangan masa kecil yang cukup melekat. Sedikit berbeda dengan lagu yang biasanya ia bawakan, kali ini Englishman In New York diberi sedikit sentuhan reggae yang membuat lagu ini terdengar ‘fresh’ dan santai.

Kejutan Kecil

Di konsernya kali ini, STING banyak memadukan berbagai elemen musik mulai dari jazz, reggae, hingga worldbeat yang ia kemas cantik dalam setiap musik yang dibawakan dalam konsernya. Pria yang pernah meraih 16 grammy award ini memang terkenal piawai dalam memadukan berbagai jenis musik serta terkenal ‘jago’ soal musik instrumental. Tak heran jika banyak penonton dibuat terpukau oleh musik-musik yang ia bawakan, karena selalu mendapat kesan ‘baru’ dalam tiap penampilannya.

STING tampil dengan iringan seorang keyboardis, drummer, serta gitaris yang selalu mendampinginya dalam setiap konser. Seorang pemain biola yang jauh lebih muda dari usia STING membuat sentuhan penampilan mereka jadi semakin keren. Belum lagi backing vocal wanita yang tak kalah ciamik suaranya saat mendampingi STING dalam bernyanyi.

sting

Usia Bukan Penghalang

Setelah 18 tahun sejak konser terakhirnya di Jakarta, ia menyapa seluruh penonton yang hadir malam itu dengan sapaan hangatnya. Tampak guratan-guratan halus di wajahnya karena termakan usia. Meskipun begitu, pria asal Inggris ini tetap saja memiliki pesona yang luar biasa sehingga membuat semua orang yang hadir malam itu terpana.

Penampilannya yang casual, hanya dengan kaos lengan panjang plus celana jeans justru makin memperlihatkan tubuhnya yang atletis dan membuat seluruh penonton wanita berteriak histeris.Tak tampak sekali usia menjadi masalah bagi seorang penyanyi professional sekelas STING. Apalagi saat tiga buah lagu dibawakan tanpa henti oleh STING bersama band-nya, Hung My Head, Fields of Gold, Driven To Tears dan Message in A Bottle yang membuat konser semakin meriah.

 Saatnya Unjuk Gigi

Setelah De Do Do Do De Da Da Da – lagu yang pernah dipopulerkan bersama The Police- dibawakan,  STING mulai menunjukkan aksinya dalam bermain bass. Petikan dawai-dawai bassnya sangat lembut namun pasti. Seperti tak mau kalah, aksi-aksi pemain band lainnya juga membuat semua orang terpana. Jari-jari lentik yang memencet tuts hitam putih dari kibordisnya David Sancious, seperti menari bebas tanpa beban. Menjentikan jari dan menguntai nada-nada yang membuat saya semakin melongo  dibuatnya. . Bergantian dengan sang gitaris kepercayaannya, Dominic Miller dan drummer Vinnie Colaiuta yang meski menua tapi gebukan drumnya masih mantap.Gesekan biola dari violinis Peter Tickell penuh energi dan membuat semua penonton bertepuk tangan dengan riuhnya.

4 Encore!

Awalnya, Roxanne dijadikan sebagai lagu penutup konsernya. Tapi sepertinya, 18 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi penggemarnya melihat aksi panggungnya terakhir kali di Jakarta tahun 1994 silam. Akhirnya, Dessert Rose yang ditunggu-tunggu banyak penonton jadi pembuka encore yang langsung disusul oleh Every Breath You Take yang membuat penontn semakin enggan meninggalkan kursinya. Disaat semua penonton mengira konser benar-benar usai, STING melantunkan Next To You yang membuat penonton berhamburan kembali ke depan panggung.

Lampu panggung telah padam. Penonton benar-benar sudah mengira konser STING kali ini usai. Disaat  penonton tengah bersiap, STING kembali ke tengah panggung dan memainkan dawai-dawai gitarnya melantunkan lagu Fragile yang diambil dari album keduanya yang pernah di rilis tahun 80-an. Seolah STING menutup konsernya ini dengan penuh kerinduan serta meninggalkan jejak terdalam bagi siapa saja yang menyaksikan. “How fragile we are.. how fragile we are…

Hanya sayang, When We Dance yang banyak sekali orang nantikan tidak dibawakan malam kemarin. Tapi secara keseluruhan, penampilan STING benar-benar menjadi obat rindu yang mujarab bagi siapa saja yang ‘mengenal’ lagu-lagu miliknya sejak awal ia berkarir di dunia musik.

Jakarta, 17 Desember 2012

*terima kasih Pak Boss yang memberikan tiket ini sebagai hadiah akhir tahun 😀

Foto saya pinjam dari Antara dan Kompas Online.

Sepenggal Maaf

Hai, kamu! Teman, sahabat, keluarga yang ada di luar sana… Maafkan aku karena absen beberapa hari ini, dengan tak lagi ‘bersuara’ seperti biasanya. Aku kehilangan suaraku, sehingga cerita tak lagi terlontar dari mulut ini. Sedih rasanya.. Bercerita itu kebutuhanku, meskipun jemari ini selalu mewakilkannya tapi tetap saja aku juga membutuhkan suaraku..

Kadang aku kesal, ketika mencoba membacakan cerita yang ada hanya parau saja yang terdengar. Aku bosan karena harus berdiam diri ketika lagu-lagu manis dilantunkan. Apalagi lagu-lagu kesayangan yang tiap minggu pagi kudendangkan bersama dengan anak-anak di rumahku. Capek karena setiap harinya harus menahan sesak di dada karena batuk tak juga reda.

Salah satu temanku bilang, aku masih bisa membagikan cerita lewat obrolan singkatku dengannya. Tapi terkadang, jempol ini seperti ‘protes’ jikalau sering bersentuhan dengan bendang mungill hitam di hadapanku sekarang. Dan biasanya kalau sudah begitu aku akan pamit undur diri. Tak peduli cerita itu sudah selesai atau mungkin baru pembukanya saja.

Di sela-sela rasa kesal, aku merenung. Mungkin memang ini yang kubutuhkan sekarang. Mengistirahatkan diri sejenak, libur dari aktivitas biasanya dan memberikan suaraku jeda untuk bisa melantunkan cerita seperti biasanya. Mungkin kemarin aku terlalu memaksakan ia-suaraku- untuk bekerja ekstra, dan lupa untuk memberinya waktu sebentar saja.

Mungkin, aku harus belajar  untuk tak lagi tidur ketika malam hendak berganti pagi. Dan mungkin, aku harus belajar untuk berkata ‘TIDAK’ jika ada yang ingin mencoba mencuri suaraku dini hari. Yaa..mungkin… mungkin.

Kawan, doakan aku segera pulih yaaa… Dan semoga si suara segera kembali kepadaku.

“Hai suara..aku merindukamu,,,jangan pergi terlalu lama yaaa…biar kita bisa kembali bercerita ;)”

Mocca Last Show, Annabelle and the Music Box

Dentuman irama drum mengawali perjumpaan istimewa pada Jumat, 15 Juli 2011 malam itu. Sekitar 2.000 penonton yang memadati Hall A Basket , Senayan, Jakarta sontak bertepuk tangan. Keriuhan kian menjadi tatkala sorot lampu menerangi panggung. Sosok yang ditunggu-tunggu pun tampak, Arina Ephipania sang vokalis Mocca tersenyum menatap semua yang hadir. Diiringi Indra Massad (drum), Achmad Pratama (bass), dan Riko Prayitno (gitar), Arina membuka penampilan malam itu membawakan Dream.

Entah mengapa, rasa haru seketika menyergap. Dari barisan gold seat, saya memandang kagum Arina dan kawan-kawan. Dalam hati merasa bersyukur bisa bergabung dengan Swinging Friends —sebutan untuk fans Mocca—menyaksikan perhelatan bertajuk ‘Mocca Last Show, Annabelle and the Music Box’ malam itu. Meski nge-fans berat dengan Mocca, ini adalah pertama kalinya saya menyaksikan mereka secara langsung. Sedihnya, konser ini sekaligus menjadi farewell party Mocca yang memutuskan vakum untuk waktu yang tidak ditentukan. Ya, kepergian Arina ke Long Beach, California, Amerika Serikat untuk menikah dan menetap di sana, memaksa band indie asal Bandung itu beristirahat sementara waktu.

Dongeng sebelum tidur

Mocca tampaknya memang ingin konser terakhirnya benar-benar berkesan bagi Swinging Friends. Disajikan dalam kemasan music and cabaret show, konser yang dimulai sekitar pukul 20.30 WIB ini tampil unik. Sementara tim kabaret Bosmat dari SMUN 7 Bandung mengisahkan gadis bernama Annabelle dengan kotak musiknya, secara berselang-seling Mocca menyanyikan lagu-lagu yang sesuai dengan alur cerita. Hmmm.. saya serasa seperti dibacakan dongeng sebelum tidur.

Annabelle diceritakan menemukan sebuah kotak musik yang membawanya ke sebuah negeri bernama Swinging Land. Perjalanan Annabelle hingga menemukan pujaan hati bernama Bob, diiringi lagu-lagu hits Mocca seperti Secret Admirer, Listen to Me, Dear Diary, My Only One, Swing it Bob dan lain-lain.

Oh ya, hadir pula duet kocak Ringgo Agus Rahman dan Soleh Solihun yang didapuk sebagai story teller. Nah, spontanitas dan kelucuan dua ‘orang gila’ ini sukses membuat penonton termasuk saya, terpingkal-pingkal hahahaha..

Penuh kejutan!

Penonton memang sudah tahu bahwa di konser ini Mocca akan berkolaborasi dengan beberapa artis dan band indie. Tapi toh tetap saja penonton tak henti dibuat surprised saat kolaborasi satu per satu dimunculkan.

Kejutan pertama adalah kolaborasi dengan Ade Paloh ‘Sore’. Duetnya bersama Arina menyanyikan This Conversation tidak kalah keren dengan versi aslinya yang dibawakan bersama penyanyi jazz senior Bob Tutupoli.

Endah n Rhesa menjadi kejutan berikutnya. Saat keduanya muncul ke panggung tepuk tangan pun membahana. Dalam kolaborasi ini, Me and My Boyfriend disajikan sedikit berbeda. Dan ini yang paling membuat heboh. Saat keduanya melakukan battle permainan gitar dan bass, penonton semakin histeris! Sebagian malah ada yang sampai berdiri dari tempat duduknya memberikan aplause. Wuiih keren banget! Bahkan sampai sekarang pun saya masih terngiang akan momen itu. Sumpah bikin merinding! :D

The Object of  My Affection yang dilantunkan berkolaborasi dengan permainan gitar Float pun tak kalah ciamik. Sayang, di tengah lagu tiba-tiba sound system bermasalah, mengakibatkan suara melengking dan sember. Untungnya sih tidak berlangsung lama. Penonton sempat terganggu, tapi toh tidak sampai menyurutkan antusiasme dan kekaguman mereka menyaksikan pertunjukan ini.

Dramatis!

Let Me Go menjadi bagian lain yang juga berkesan bagi saya. Saat lagu dimainkan, hujan turun begitu derasnya di luar ruangan pertunjukan. Secara kebetulan, layar besar yang menjadi latar panggung menampilkan gambar tetes-tetes air yang jatuh dari langit. Tak ayal, lantunan suara Arina yang lembut menyanyikan lirik yang ‘dalem’ dan menyentuh, menyihir penonton. Suasana jadi mellow melow gimanaa gitu.. :D

Nah, rupanya situasi ini ditangkap oleh duet storyteller Ringgo dan Soleh. Saat kembali membacakan narasi setelah penampilan lagu tersebut keduanya pun mengoceh. “Itu tadi adalah bagian dari skenario. Kita memang meminta kepada Gusti Alloh supaya pas lagu itu diturunkan hujan, biar lebih dramatis!” kata Soleh dan Ringgo yang langsung disambut derai tawa penonton.

Terlepas dari situasi tersebut, show Mocca ini menurut saya memang cukup dramatis. Mulai dari tata panggung, pencahayaan, properti, tata suara dan latar panggung, semuanya berpadu mendukung isi cerita dan memunculkan suasana seperti di negeri dongeng. Ya, saya serasa ikut berada di Swinging Land! :D

Arina jadi sombong?

Dengan format acara berupa kombinasi pementasan musik dan kabaret, jujur saya khawatir Arina menjadi ‘sombong’. Yang saya maksudkan sombong disini adalah hilangnya interaksi antara Arina dengan Swinging Friends. Setelah 12 lagu dimainkan dan kisah Annabelle tamat, Arina belum juga menyapa penonton. Kemanakah Arina yang terkenal sangat ramah itu?

Kekhawatiran saya pun akhirnya terbantahkan. Sesi kedua dimulai dan Arina mulai menyapa penonton. “Terimakasih untuk semua yang sudah menyempatkan hadir. Yang naik motor, kereta, angkot, bis bahkan mungkin yang sampai harus sampai nipu-nipu bosnya demi menyaksikan last show Mocca, kami ucapkan terimakasih,” ujar vokalis imut itu dengan logat sunda yang menjadi ciri khasnya.

Dan coba tebak, siapakah yang tampil di awal sesi ini? White Shoes and the Couples Company! Whoaa.. kejutan belum berakhir rupanya. Arina dan Sari sang vokalis White Shoes tampil menyanyikan I Would Never. Hasilnya, penampilan lagu yang aslinya dibawakan berduet dengan band indie asal Swedia Club 8 ini membuat penonton ikut asyik bernyanyi.

Arina dan Sari pun selanjutnya ‘bertukar lagu’. Dengan gaya jadul yang menjadi ciri khasnya, Sari mengembuskan nafas baru pada lagu What If.  Sementara Arina, membuat Senandung Maaf milik White Shoes terdengar lebih lembut. Wiiih…

Do what you wanna do!

Menyanyikan Do What You Wanna Do, menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu Swinging Friends. Dalam setiap konsernya, lagu ini seolah menjadi bagian paling intim antara Mocca dan penggemarnya. “Swinging Friends pasti sudah tahu ya harus ngapain kalau lagu ini. Tapi yang baru pertama kali gak apa-apa, Arina kasih tahu,” kata Arina.

“Kalau Arina begini (menyerahkan tangan terbuka ke penonton) artinya ikuti yang Arina nyanyikan. Tapi kalau begini (menarik tangan ke dada) jangan, biar Arina yang nyanyi. Nah, siap yaa,” lanjut Arina.

Arina sangat tahu, ini salah satu cara membuat penonton senang dan merasa dilibatkan. Serasa seperti anak kecil, saya dan penonton lain tak sabar menunggu aba-aba dari Arina. Bagian do what you wanna do dan say what you wanna say pun berulang kali dinyanyikan lantang para penonton hingga lagu berakhir. I love that moment!

Arina pun menangis…

Life Keeps On Turning menjadi lagu ke-23 sekaligus penutup Last Show Mocca. Lirik lagu ini, meski aslinya bercerita tentang putus hubungan pacaran, sangat mewakili kepergian Arina ke negeri Paman Sam. Selesai bernyanyi, Arina, Indra, Riko, dan Toma saling berpelukan. Saat itulah Arina tak lagi bisa menahan haru. Wanita yang akan melangsungkan pernikahan September mendatang ini mulai terisak.

Sambil menyalami Swinging Friends yang berebut mendekatinya ke tepi panggung, Arina tampak berkali-kali menyeka air mata dan mengucapkan terimakasih. Banyak penonton yang juga tampak berkaca-kaca dan meneriakkan nama Arina. “Jangan nangis Arina, sukses ya!” teriak gadis di samping saya. Duuh.. saya pun dibuat larut terharu jadinya.. Entah kapan Mocca akan aktif lagi.. We’re gonna miss you..

Ps: Tulisan ini dikutip dari kawan saya yang juga berada di lokasi, Nisbroth.