Di Balik Helm Acit

Bola mata Acit menelusuri baris demi baris pada halaman khusus lowongan kerja di Koran pagi ini. Rutinitas tiap sabtu pagi yang mulai dilakukannyasejak enam bulan lalu. Ya, sejak tali pada toganya berpindah dari sisi kiri ke kanan oleh dekan Fakultas Teknik di kampusnya.

Ada notifikasi pada layar empat inchi ponselnya. Mama.

Cit, udah sarapan? Hari ini ada rencana apa, sayang? Pakde Kusno mau mampir ke sana. Kangen sama kamu tuh.

Indra hari ini masih berkutat dengan event di kantornya. Isi kulkas dan lemari cemilan bisa dibilang masih cukup aman. Mood memasak sedang melanglang buana entah kemana. Penjaja makanan yang lewat masih bisa mengakomodir gejolak liar naga di perutnya.

Ndak kemana-mana, Ma.. Kalau Pakde mau ke sini boleh aja. Mau datang jam berapa?

Berbincang dengan Pakde Kusno bisa menjadi hiburan di akhir pecan ini. Gaya bicara yang lepas dengan suara berat dan lantang adalah ciri khasnya. Persis seperti Papa.

Papa. Ah, tiap kali membicarakan pria paruh baya yang satu itu hati Acit selalu saja bergemuruh. Seperti ada amarah yang siap untuk meledak sewaktu-waktu. Tak ubahnya panen bom waktu di Afganistan. Entah sudah berapa lama sejak kali terakhir berbincang-bincang dengan Papa. Satu hal yang ia ingat betul, rasa panas yang melekat tepat di pipi kanannya sulit sekali dihilangkan dalam pikiran dan hatinya meski bekas sudah tak lagi tampak sehari sesudahnya.

Kunjungan Pakde Kusno sedikit banyak mengganti kehadiran Papa. Meski beliau paham ketegangan yang terjadi antara Acit dan Papa, tapi tidak pernah memaksa untuk membicarakannya. Tidak tanpa Acit yang memulainya. Dan seringkali, Acit yang terpicu emosi dan mengungkit masalahnya dengan Papa.

Seperti mengenai status Acit yg masih pengangguran. Memang agak mengherankan, dengan bekal IP 3.4 dan pengalamam magang di beberapa perusahaan, ditambah daftar keaktifannya dalam kegiatan kemahasiswaan, semestinya mendapatkan pekerjaan bukan hal yang sulit untuknya. Pakde Kusno secara halus selalu mengajak Acit menganalisa alasan penolakan perusahaan-perusahaan itu. Yang selalu berujung pada, “mungkin memang belum rejekinya, belum dapat ridho dari Allah.”

“Arrrggh..”

Acit melemparkan Koran pagi yang ada di tangannya. Ia malas melanjutkan pencariannya. Ia bergegas keluar kamar dan menyambar handuk yang tergantung di jemuran samping kamarnya.

“Sebaiknya aku ke kampus. Mungkin ada yang bisa kukerjakan di sana,” batinnya.

Tak berapa lama, ia sudah siap mengajak Lui-sepeda polygon merah kesayangannya- menuju kampus. Helm berwarna senada ia kenakan sebelum membelah jalan raya pagi ini. Acit selalu saja ‘melarikan diri’ bersama Lui jika sedang resah. Selain Pakde Kusno tentu saja yang ia jadikan sandaran cerita ketika hatinya benar-benar membutuhkan setitik damai.

Menyusuri sepanjang jalan menuju kampus selalu membawa angin segar dalam hatinya. Penjaja makanan serta segala macam rental dan toko yang menjadi sahabat setia kantong para mahasiswa terasa begitu akrab bagi Acit. Mungkin karena itu juga ia masih menyewa sepetak kamar di rumah kost Ibu Rahadi. Karena sebenarnya, ia tak mau pergi melangkah ke dalam suatu dunia baru, tanggung jawab baru. Apalagi untuk kembali ke Solo, dimana tanggung jawab besar menantinya lebih dari sekadar seorang karyawan.

Berbekal bolang-baling yang baru saja dibelinya di warung Mas Jo’ ia bergegas masuk ke dalam kampus. Langkah kakinya dipercepat menuju satu tempat yang dulu hanya dilihatnya sekilas tiap kali ia ingin ke ruang kemahasiswaan. Jobs Corner. Sebuah tempat di mana papan berukuran 2,5mx1,5m berdiri dengan banyak kertas menempel di tiap sisinya. Kertas-kertas bertuliskan info lowongan kerja.

Entah apa yang membuat Acit tergelitik untuk mampir dan membaca setiap kertas yang tertempel di sana. Desakan orang tua untuk segera mendapat pekerjaan kah? Mungkin saja. Perlahan ia menekuni setiap info yang terpampang di hadapannya. Mulai dari marketing sebuah provider kenamaan di Jakarta, menjadi penterjemah buku, guru privat, hingga menjadi relawan di salah satu panti jompo.

Tak ada satupun yang membuat hati Acit tergerak untuk mencari tahu lebih jauh. Hingga matanya tertumbuk pada satu pengumuman bertuliskan “Dicari penyiar untuk Radio Geronimo”. Lama ia membaca informasi yang tertera di sana. Ada rona bahagia terpancar dari matanya, sudut bibirnya tertarik membentuk senyum tipis namun manis. Segera ia mencatat alamat email yang tercantum di sana, renggana@geronimofm.com.

Ia pun melanjutkan langkahnya menuju Lab Aerodynamic. Kantung bolang-baling diletakkannya di meja ruang asisten Lab. Hari sabtu seperti ini, dijadikan para asisten untuk kumpul-kumpul menghabiskan waktu. Terutama mereka yang masih jomblo, fasilitas internet gratis membuat mereka betah mengais rokok batangan yang dibeli renceng di koperasi.

Bolang-baling gahar diserbu mereka, tandas seketika. “Piye, mba? Tes kemarin berhasil, tah?” Acit menjawab dengan cubitan pada hidung Anji yang lumayan mancung itu. “Helah piye, tho? Ditakon kok yo malah nyubit. Mukamu kusut udah jadi jawaban wis. Eh, apa itu karena belum mandi ya, mba?” konyol ia julurkan lidahnya pada Acit. “Ndak usah banyak omong. Bantuin aku aja nih, aku mau tanya-tanya soal Geronimo.” Nyaman Acit selonjorkan kaki nya ke atas pegangan bangku kosong di sebelahnya. Lab ini bagaikan rumah keduanya. Biarlah ia bermain di sini dulu. Toh Pakde baru sore nanti datang ke kos.

“Waah, mau jadi penyiar tho, Mbak? Emang suaramu enak didenger yo?” goda Anji yang membuat Acit langsung mendaratkan sebuah jitakan di kepalanya.

“Wong jenenge yo usaha, siapa tahu aku beruntung,” jawab Acit sekenanya. Tapi sejujurnya, ia menggantungkan sedikit lebih banyak harapan pada lowongan kali ini. Ia mulai mencari tahu tentang Geronimo dan tentang lowongan yang akan coba ia isi nantinya. Penyiar. Salah satu mimpi yang pernah ia punya dulu sekali, yang pernah ia coba hingga akhirnya Papa menghalanginya karena menurut Papa menjadi penyiar hanya akan mengganggu kuliah saja.

Sigh!

“Lagi-lagi Papa,” gumamnya.

Papa yang dulu selalu mendukung segala mimpi Acit tiba-tiba menjadi batu besar pada setiap langkahnya. “Papa kan sudah bilang, kuliah jangan main-main. Kamu memang pintar, tapi jangan sombong. Menghabiskan waktu bergaul dengan orang-orang semacam itu gak ada gunanya. Apalagi mulai ikut apa itu, naik gunung, demo, panitia ini itu. Kapan kamu belajarnya?” Omongan Papa saat ia tengah aktif berorganisasi di tingkat tiga kuliahnya membuat Acit mengernyitkan kening, dan juga bibir mungilnya.

Kala itu keluarganya baru saja pindah ke Solo, sebuah keputusan besar yang hingga kini Acit tak mengerti alasannya apa. Belum lagi ditambah berita bahwa Papanya mendirikan usaha pabrik furnitur yang mengkhususkan pada dekorasi perkantoran. Mengapa harus Solo? Dan mengapa harus meninggalkan adiknya sendirian di Jakarta?

Dan bahkan belum puas Papa mengekang kegiatan Acit, hubungannya dengan Indra pun harus rela menjadi bahan pertengkaran setiap kali ia pulang. “Mental pegawai! Mana bisa dampingi kamu buat pimpin pabrik ini.” Hah? Siapa yang mau memimpin pabrik? Apa sih yang sedang direncanakan Papa?

Apapun yang berkaitan dengan Papa selalu saja membawa Acit ke dalam lamunan panjang. Mengacaukan mood-nya seharian dan entah apalagi yang akan membuatnya enggan menyunggingkan senyum. Papa, ibarat musuh bebuyutan untuk Acit beberapa tahun terakhir.

“Nji, aku pinjam laptop mu ya. Mau bikin surat lamaran, malas bikin di kosan,” ujar Acit bahkan sebelum Anji menyetujuinya ia sudah duduk nyaman bersama dnegan lapto kesayangan Anji.

Tak perlu waktu lama untuknya membuat surat lamaran itu. Ia kirimkan beserta contoh suara yang ia rekam baru saja dengan telepon genggam miliknya. Ia melirik jam tangan Swatch miliknya.

“Astaga! Pakde Kusno!” pekik Acit yang membuat Anji bertanya keheranan.

“Kenapa, Mbak?”

“Aku pamit ya, Pakde ku mau datang ke kosan sore ini,” bergegas ia pamit kepada Anji dan segera menyambar Lui yang tengah mengenyakkan diri di dekat pohon angsana tua depan lab.

Pakde Kusno datang sore ini, kalau sempat kamu mampir ke kosan ya. O ya, tadi aku kirim lamaran ke Geronimo. Doakan ya.

Sebuah pesan singkat ia ketikkan dengan tergesa dan langsung dikirimkannya ke Indra. Komunikasi mereka memang tidak seperti pasangan kebanyakan. Cukup dengan info singkat tentang kegiatan hari itu cukup membuat mereka tetap merasakan dekat. Sederhana saja.

Lui tiba-tiba dihenyakkannya pada halaman rumah Ibu Ruhadi. Kenapa terdengar suara tawa Papa di ruang tamu? Dan sepatu Indra pun tampak berdampingan di rak samping pintu. Yang datang sebetulnya siapa? Pakde atau Papa?

“Assalamu’alaikum.. Loh, sudah sampai, Pakde?” Acit langsung mencium tangan Papa dan Pakde bergantian, namun tetap tak menyapa Papanya. Wajah penuh pertanyaan dia lempar ke Indra yang sedang tersenyum nakal penuh rahasia. Mau pecah rasanya kepala kalau menjadi satu-satu nya orang yang tidak mengerti apa yang terjadi.

“Wa’alaikumsalam, Cit. Darimana, Cit? Kata Mama kamu ndak ada rencana apa-apa, eh kok malah keluyuran. Nih, makan dulu Sosis Solonya. Kasihan cacing kelaparan di perut kamu diajak naik sepeda terus.” Menatap sekotak cemilan kesukaannya, Acit masih mencoba menerka apa yang sedang terjadi.

“Helm kamu udah ndak pantas dipakai, Nak. Papa bawakan yang baru nih.” Tersedak Acit menerima helm dari tangan Papanya. Suara Papa terdengar berubah. Lebih lembut dari biasanya. Seperti dulu, kala beliau masih menjadi sahabat terbaik tempat Acit bercerita.

“Tadi Papa muter-muter cari yang cocok untuk kamu bareng Indra,” lanjut Papa yang membuat Acit semakin sulit menelan makanannya. Acit melemparkan pandangan tajam kea rah Indra.

Seperti menangkap sinyal tanya Acit, Indra mencoba membuka suara.

“Iya, tadi Papa ke kantorku dan ajak aku cari helm untuk kamu. Lha wong yang lama udah retak sana sini kebanyakan dipake nyungsep pas down hill sih,” canda Indra yang sama sekali tidak bisa membuat tanya dikepala Acit luntur sedikit saja.

“Papa… Indra… Helm ini? Ada apa sih sebenarnya? Acit nggak ngerti!” kata-katanya sedikit meninggi.

Indra merangkul bahu Acit dan mengajaknya untuk duduk bersama. Ada hangat yang tertahan di pelupuk matanya. Ada haru yang perlahan menelusup di hatinya. Ini terlalu manis untuk dijadikan kejutan sore, Acit merasa tak siap. Meski ini sebuah bahagia… sepertinya.

“Kamu inget gak bulan lalu aku sempet ada event di Solo?” Acit berusaha mengangguk dengan mata yang bergantian menatap Indra dan Papa bergantian. “Aku mampir ke rumah. Kebetulan pas Papa sedang membongkar mobil. Jadi ya aku ngobrol sama Papa sambil ikut benerin mobil.” Dari seringai yang terbentuk di bibir Indra, Acit mulai bisa meraba arah pembicaraannya. Meski masih sangsi apakah itu benar-benar terjadi.

“Kamu tahu kan udah lama banget Papa pengen si Kudo itu dimodifikasi. Cuma belum ketemu waktu sama bengkel yang cocok aja. Nah, Nak Indra kebetulan punya kenalan di Solo yang bisa bikin Kudo jadi gagah. Yaa, senggaknya gak bikin Papa malu lah pas antar Mama ke pasar.” Suzuki Escudo keluaran 94 punya Papa memang sudah sedikit memalukan kondisinya. Pantas saja Papa dan Indra bisa akrab begini. Kalau sudah mengenai otomotif, antusiasme dan semangat Indra langsung membumbung tinggi. “Yah, karena itu setiap wiken aku ke Solo. Menemani Papa ke bengkel temenku. Maaf ya aku bohong kalau bilang ada event di luar kota.”

Acit semakin lahap menyantap Sosis Solo, menutupi debaran jantungnya yang semakin penasaran akan muara cerita ini. “Papa banyak bicara sama Nak Indra. Bukan hanya soal Kudo, tapi juga soal keinginan kamu yang ingin merambahi beberapa mimpi kamu. Papa juga jelaskan, usaha supply sayuran dan buah-buahan Papa mengalami penurunan omset. Makanya Papa melihat peluang usaha furnitur perkantoran yang sedang naik daun sebagai alternatif. Papa sudah diskusi dengan beberapa teman dan relatif. Solo menjadi pilihan karena selain itu kampung halaman Papa dan Mama, juga karena biaya produksinya lebih murah dibandingkan di Jakarta.”

Lalu Pakde menambahkan, Papa sebetulnya khawatir dalam memulai usaha barunya ini. Karenanya beliau ingin Acit segera lulus kuliah dan membantu Papa menjalankan bisnisnya. Hanya saja, gengsi Papa terlalu tinggi untuk menyampaikan pada Acit. Papa takut putri kesayangannya merasa kecewa bahwa Papa yang diidolakannya gagal mempertahankan usaha di Jakarta dan membutuhkan bantuan putrinya.

Tiba-tiba, Sosis Solo yang sudah dingin karena perjalanan Solo-Yogya kembali terasa hangat di mulut Acit. “Tapi dengan sikap Papa yang keras terhadap Acit itu sudah bikin Acit kecewa,” sanggahnya dengan segera, masih berusaha memungkiri hatinya yang memanas. Entah karena iba bahwa selama ini Papa menanggung segala kekhawatiran atau karena merasa tersinggung tidak dianggap cukup dewasa untuk dilibatkan dalam permasalahan keluarganya.

“Papa nggak tahu kan Acit berjuang mati-matian menunjukkan sama Papa kalau segala kegiatan itu tidak akan membuat Acit lupa kewajiban Acit sebagai mahasiswa. Papa juga gak tahu kan Acit sempat dirawat karena kehabisan cairan habis ujian. Semuanya demi Papa membuka mata kalau Acit bisa, Pa”, dan ia pun mulai terisak.

Suasana lalu menjadi sepi terisi kecanggungan. Papa masih terdiam menatap Acit yang membiarkan Indra memeluknya. Beliau yang selalu rela maju menerjang siapapun yang menyebabkan gadis kecilnya menangis kini harus menerima kenyataan bahwa kali ini, beliaulah yang menyebabkan airmata di wajah gadisnya.

Kemudian tangannya menggapai tangan Acit yang masih dalam pelukan Indra. Pelan, Acit menjawab permintaan maaf lewat sentuhan itu, dengan menggenggam tangan Papanya.

“Acit kangen Papa,” kata-kata Acit menggantung di udara, membuat pelupuk mata Papa menghangat. Langit sore ini memang tidak seberapa indahnya, tapi justru memancarkan hangat yang istimewa untuk Acit dan juga Papanya.

Jakarta, 28 Februari 2013

#AWeekofCollaboration with Didiet Prihastuti

Advertisements

Menulis Duet

Membuat diri konsisten untuk menulis saja saya masih membutuhkan cambukan ekstra, apalagi harus menulis duet?! Itu yang ada di benak saya ketika @wulanparker, seorang teman yang saya kenal di dunia maya mengajak saya untuk menulis kolaborasi. Tertantang? Pastinya. Tapi saya cenderung takut untuk memulainya. Secara yang saya hadapi adalah teman-teman yang sudah lebih dulu nyemplung  di dunia tulis menulis sejak lama. Dan saya harus mengalahkan rasa malas dan moody saya untuk bisa mengimbangi partner menulis saya. Ini sulit!

Kemarin, ketika saya melihat tautan #AWeekofCollaboration saya tergelitik untuk mengikutinya. Saya langsung nyolek Wulan untuk menjadi partner saya dalam menulis hari itu. Tema yang dibawakan adalah Gelap. Hmm.. sepertinya tidak begitu sulit. Itu baru sepertinya..

Perjalanan menulis pun dimulai.

Saya membuka cerita di awal, kemudian dilanjutkan Wulan begitu seterusnya. Satu hal yang saya sadari, kami berdua tidak membuat kesepakatan untuk menulis tentang apa. Semua mengalir begitu saja. Apa yang ada di benak saya, saya tuangkan dan apa yang ada di benak Wulan ia juga tuangkan. Sampai akhirnya kami berdua menyadari satu hal, kami sebenarnya memiliki latar cerita yang jauh berbeda. Haha.. Ini menarik! Saya berusaha kembali ke jalur yang seharusnya, pun Wulan mencobanya.

Pada akhirnya, tulisan duet saya yang pertama selesai dengan cerita yang jauh dari yang saya dan Wulan bayangkan. Sebuah akhir cerita yang tidak pernah  direncanakan dan konflik yang berbeda dengan apa yang ada di kepala.

Ini jadi sebuah tantangan yang asyik untuk ditaklukkan. Ini juga jadi sarana saya untuk mengembangkan diri. Semoga saja. O ya, dengan begini saya juga belajar bagaimana menulis dengan gaya bercerita orang lain. Atau mungkin saya menciptakan satu gaya bercerita yang baru? Hmm..mungkin saja kan?

O ya, terakhir, saya ucapkan terima kasih untuk @wulanparker atas kesempatannya. Saya sangat tunggu ‘perjalanan’ dalam bercerita selanjutnya. Semoga kita menemukan gaya baru yang seru untuk diceritakan ya 😉

 

Kemang, 28 Februari 2013

Debar Untuk Bulan

Dan bukankah kegelapan tak pernah berdaya di hadapan setitik cahaya?

Sebuah pesan singkat yang kudapat malam ini sungguh kontras dengan pemandangan langit di atasku. Bulan bulat penuh dengan iringan awan hitam yang menaunginya perlahan tersapu angin yang bertiup ringan dari selatan.

Adalah aku yang selalu ingin menjelma malam untuk dapat menemanimu yang tengah bertugas malam ini, Bulan.

Kembali kubaca pesan lanjutan yang baru saja masuk ke dalam kotak surat elektronikku. Tak pernah kupungkiri, aku selalu senang menerima pesan-pesan yang dikirimkannya. Selalu penuh sanjung dan memujaku begitu rupa. Ah wanita.. Ya, aku masih wanita. Aku menyukai bentuk pujian yang membuatku merasa istimewa.

🙂

Hanya ikon itu yang kukirimkan untuknya. Untuk Banyu, pria yang tak pernah kutemui sejak kali pertama aku mengenalnya di dunia maya tiga bulan lalu. Aku tak pernah mengatakan kalau ini adalah sebuah kebetulan, tapi ini adalah rencana Tuhan yang mengenalkan aku padanya.

Seperti memilih menjadikannya rahasia, aku menyimpan sendiri senyumku sebab segala hal menyenangkan yang dilakukan Banyu. Jika pun ingin berbagi, aku memberikannya kepada cermin.

Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Banyu terus mengajakku berbincang apa saja yang bisa menggubah tawa dan menyulut semangat yang begitu hangat memeluki aku. Sepanjang hari, tanpa henti.

Terkadang aku dililit ingin yang melebihi bahagia yang aku nikmati sendiri. Aku ingin menatap lekat mata Banyu. Aku ingin menikmati pikat cara bicaranya sekali lagi. Namun, aku pun tak tahu apa yang bisa aku lakukan saat ini.

Kadang ada keinginan untuk mengajaknya bertemu tapi selalu saja ada yang membuatku meragu. Aku terlalu takut untuk memulainya lebih dulu. Aku tak pernah tahu, apakah ia hanya seorang pria yang memang senang menjual kata-kata sebagai senjata menaklukan wanita atau ia memang orang yang selalu penuh cinta?

Kepada Bulan Andina, adakah kau memiliki keinginan untuk bertemu denganku sekali saja?

Pesan yang masuk baru saja membuat tanganku gemetar. Ia seperti membaca hati dan pikiranku saat ini. Benakku seolah dibacanya. Ah, semua tanya aku hapus segera. Berkali-kali kuketikkan pesan balasan, tapi selalu saja kuhapus. Aku belum siap.

Aku yakin, wajahku pasti sudah memerah. Aku tak bisa bayangkan jika ini terjadi saat aku bertatap mata dengannya. Dengan pria yang sungguh telah membuatku didesak rasa penasaran. Bahkan kadang terlalu berlebihan.

Terima kasih Banyu Anggara. Rona merah di pipiku sepertinya berisyarat anggukan istimewa untukmu.

Entah mantra apa yang mendadak aku rapalkan hingga tiba-tiba saja aku berani mengirimkan balasan seperti untuknya. Aku menjamu derap jantung yang semakin kencang. Aku memejam dan meringis menahannya agar jantungku tak buru-buru meloncat keluar.

Ah, apakah ini kelelahanku yang terlalu lama bersembunyi dalam maya yang seharusnya bisa aku perjuangkan menjadi nyata?

Tuhan, adakah engkau sedang mempermainkan perasaanku saat ini? Kuharap engkau tidak sedang bermain dengan hatiku yang sepertinya sudah lama berselimut debu. Maaf, aku bukan sedang mengancamMu, tapi aku hanya inginkan sesuatu yang sedikit lebih nyata untukku angankan. Bukan sekadar mimpi yang membuat hari-hariku semakin dilanda sendu karena harapan itu terlalu semu.

“Mba Bulan… kok ngelamun lagi? Hayooo..mikirin siapa?” sebuah suara dari balik pintu mengagetkanku.

“Ah, kamu mengagetkanku saja Mel!” jawabku sambil berbalik menujunya.

“Masih sakit, mbak?”

Ada getir halus menelusup perlahan memudarkan senyum yang sejak tadi terkembang di ujung bibirku.

“Umm.. sudah mendingan. Pain killer aku boleh ditambah dosisnya?”

“Jangan mbak, dokter bilang dosis itu sudah cukup untuk kondisi mbak Bulan sekarang,”ujarnya sambil merapikan beberapa mangkuk obat yang sudah kuhabiskan baru saja.

“Mbak Bulan harus terus semangat ya! Ini bukan akhir dari segalanya, Mbak,” kata-kata Mela, suster yang merawatku menggantung di udara.

Aku hanya mendengar kata-katanya sekilas sambil melihat wajahku dalam cermin dan sesekali melihat balutan putih yang membebat kaki kananku.

Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku hanya menikmati gerimis manja yang sore itu menemani perjalananku. Tak juga terlalu gontai langkahku. Namun, kemudian aku tak ingat lagi. Kabarnya, sebuah sepeda motor tak lagi bisa dikendalikan sang pengemudi. Aku menyeberang tanpa melihat kanan kiri.

Mungkin, aku terlalu bersemangat memenuhi janjiku. Mungkin, aku terlalu bersemangat menuruti rasa penasaranku. Mungkin, aku sangat ingin menggemakan tawa atas pertemuanku dengannya. Iya, seorang yang telah memiliki janji menemuiku. Banyu.

Hatiku pilu jika mengingat kejadian itu. Terlebih harus menerima kenyataan bahwa aku harus merelakan kaki kananku untuk selamanya. Aku marah. Aku kecewa. Kadang ada sesal yang menggayut manja perlahan. Apakah ia begitu layak untuk mendapatkan sebuah pengorbanan seperti ini?

Tapi lagi-lagi entah mantra apa yang membuatku tidak pernah bisa melayangkan benci padanya. Tidak sedikitpun. Ternyata diam-diam aku bergantung padanya. Ada jutaan semangat dan senyum yang selalu ia kirimkan melalui pesan singkat ke nomorku. Sederhana, tapi aku merasakan cinta yang tulus darinya. Oh Tuhan, semoga ini bukan rasaku saja.

Telepon genggamku berdering. Satu nama yang aku tunggu akhirnya kunjung menghubungiku. “Selamat sore, Nona,” sapanya dari seberang. Ada tenang yang menghangat di sekujur tubuhku. Banyu, iya Banyu. Aku tak pernah berpura-pura tersenyum menyambut sapanya. “Oke, aku akan datang, menemuimu sebentar lagi ya.”

Satu jam, dua jam, aku menantikan kedatangan Banyu, menjengukku. Senja sudah menepi. Ada yang mengetuk pintu kamar rawatku. Aku mengangkat sedikit kepalaku. Menengok siapa yang datang. Aku tersenyum. Senyuman istimewa yang kujanjikan pada diriku sendiri untuk kuberikan kepadanya, yang menjanjikan pertemuan itu. Banyu. Senyum untuk Banyu. “Hai, masuklah. Terima kasih sudah datang menjengukku,” aku melihat Banyu melangkah mendekat ke arah pembaringanku.

Tapi kemudian aku mengernyit. Ada kejut yang semena-mena menyapa. Seorang gadis berjalan di samping Banyu. Aku bertanya-tanya siapa gadis yang bersamanya itu. “Bulan, kenalkan, ini Aluna,” aku menyambut uluran tangan gadis itu. Pikiranku berkelana, menerka-nerka apa hubungan Banyu dengan gadis itu. Pandanganku tertumbuk pada kalung yang menggantung di leher Aluna. Liontin membentuk nama Banyu ada di sana. Apa ini maksudnya? Aku menggigit bibirku. Jadi, aku tetaplah akan membayangkan Banyu dalam gelap? Tak akan pernah ada terang. Tak akan pernah menjadi nyata.

Aku tak ingat lagi. Seketika semuanya menjadi gelap. Aku biarkan semua impian itu terlelap.

Kemang, 27 Februari 2013

Ini adalah project pertama saya di #AWeekofCollaboration with Wulan Martina