Panggil Ia Nona Wisya

Namanya Tya. Aristya Wisya.

Seorang perempuan penggila senja yang benci asap rokok. Ia bekerja sebagai seorang pengajar di salah satu sekolah internasional di bilangan Jakarta Barat. Sekolah kapitalis. Pengeruk harta orang tua murid tapi lupa membekali dengan etika. Selalu itu yang diungkapkannya ketika orang  bertanya.

Hampir setahun Tya bergabung di sekolah ini. Bukan suatu kebetulan sampai akhirnya ia menceburkan diri di dunia pendidikan. Semua ini memang sudah jadi rencana Tuhan yang ia jalani senang hati.

Dulu, Tya seorang kuli tinta. Kuli tinta di sebuah media cetak ternama di ibukota. Dunia kriminal sangat akrab dengannya. Kejahatan, pembunuhan sudah jadi makanan sehari-hari. Menyoal politik dan HAM biasa digasaknya tak kenal kompromi.

Usianya 27 kala itu. Matang secara pemikiran dan finansial. Tapi kemapanan yang dia dapati tak dibarengi dengan ketenangan hati yang sampai kini masih dicari.

Tujuh tahun sudah ia berkecimpung di dunia jurnalistik. Berawal dari seorang anak magang yang hanya ditugasi menjadi admin sebuah forum, hingga akhirnya menjadi wartawan sungguhan. Memegang kamera dan punya tanda pengenal.

Hingga suatu hari, ia harus menghadapi sebuah kenyataan pelik. Di mana harga diri hanya sebatas amplop tebal yang diselipkan seseorang lewat meja redakturnya. Dan kebenaran hanya berlalu bagai angin lalu.

“Ini surat pengunduran diri saya, Pak,” selembar amplop tipis dirongkannya kepada Pak Ed, pimpinan redaktur tempat Tya bekerja.

Tak ada jawaban. Pria bertubuh kecil pemilik suara bariton itu hanya menurunkan kaca matanya hingga di ujung hidung dan melihat Tya sekilas.

“Yakin, kamu?”

Hening. Anggukan mantap menjawab pertanyaan Pak Ed.

“Karirmu bisa melesat jauh di sini. Sayang kalau mundur sekarang,” lanjutnya sambil memain-mainkan surat pengunduran diri itu.

Ada sebersit keinginan menyanggupi untuk tinggal lebih lama. Tapi ternyata niat hati sudah bulat. Ia harus bergegas pergi sebelum zona nyaman ini membunuhnya pelan-pelan dalam bentuk kemewahan.

***

Pertengahan 2011 menjadi titik awal Tya menjalani hidup sebagai seorang pengangguran. Ia merasa bebas tanpa beban.

Tapi bukan berarti ia terbebas dari hantu perasaan. Ia tetap mencari apa yang hatinya butuhkan. Hingga akhirnnya ia memutuskan untuk mengasingkan diri, jauh dari keramaian. Soso, sebuah desa kecil di Blitar, menjadi tujuannya.

Di sana Tya tinggal dengan penduduk setempat. Sehari-hari ia mengabdikan dirinya menjadi tenaga sukarela di salah satu sekolah dasar di kaki gunung. Sulit sekali awalnya. Tapi akhirnya ia mulai terbiasa.

Tiap pagi ia berangkat ke sekolah yang jaraknya hampir 3 km tanpa kendaraan. Bersama dengan anak-anak desa tetangga, ia berjalan sambil mendengar celoteh renyah mereka. Celotehan riang yang hanya menyoal pekerjaan rumah dan tingkah adik mereka hari sebelumnya. Sederhana saja.

Siang hari ia memilih menghabiskan waktu di pematang sawah sambil menjaga sawah milik induk semangnya yang akan panen segera. Membiarkan pipi pualamnya tersapu angin siang dengan ditemani kicau burung yang bersautan di atas sana.

Sebulan, waktu yang ia niatkan di awal. Tapi menjadi delapan bulan ia mengabdikan diri. Hingga suatu hari, Mak Tuo, memberikan kabar bahwa ia sedang sakit dan ingin dijenguk segera. Dengan berat hati Tya meninggalkan desa, kembali ke ibu kota.

Tya menggeret koper tua dengan diantar isak tangis warga yang sudah mencintai dirinya sejak kali pertama.

“Mba Tya bakalan balik ke sini, kan?” tanya Yu Jum, si induk semang dengan derai air mata yang sepertinya enggan berhenti.

“Doakan saja, Yu. Nanti saya kabari,” jawabnya terbata. Menahan desakan air mata yang sudah menggantung di pelupuk mata.

Tya kembali ke Jakarta. Berbekal kenangan yang ia rangkai perlahan sejak delapan bulan silam.

“Bekal cukup untuk persediaan bahagia di ibu kota,” gumamnya lirih.

***

Di Jakarta. Ia senang berkumpul kembali dengan Mak Tuo. Wanita paruh baya yang sudah dianggapnya seperti orang tua sendiri. Kalau bukan karena permintaannya, mungkin Tya enggan menginjakkan kaki di Jakarta kembali.

Tiga hari kepulangan Tya, kondisi kesehatan Mak Tuo berangsur pulih. Ah, rindu rupanya alasan Mak Tuo meminta Tya untuk kembali. Bukan sakit tua seperti dugaan dokter padanya.

“Kamu nak punya tujuan apa, Tya?” tanya Mak Tuo di suatu sore.

Alih-alih  menjawab pertanyaan segera, Tya justru melemparkan pandangan ke luar jendela.

“Menganggur di rumah indak enak. Coba kau tanya kawan-kawan kau, siapa tahu mereka ado kerja untuk kau,” imbuhnya dengan nada khawatir.

Tya menghela nafas. Kata-kata ini sudah pernah dipikirkannya dulu sekali. Sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berhenti jadi awak media.

“Saya akan bekerja. Tapi ndak akan di bidang yang sama. Mak Tuo sabar ya,” hanya itu yang dikatakannya. Senyum dilemparkannya berharap sedikit menenangkan Mak Tuo yang gusar beberapa hari belakangan.

Semesta seperti mendengar ucapan Tya.

Seorang teman memintanya mengajar di salah satu sekolah elit di Jakarta. Tanpa ragu, Tya menyanggupinya.

“Harusnya ini bukan jadi hal yang sulit. Toh aku pernah mengajar di Soso,” ucapnya dalam hati.

Tya tak pernah tahu apa yang sedang menantinya. Siapa yang akan dihadapinya. Bukan hanya murid-murid seperti di desa kecil bernama Soso. Tapi murid-murid yang akan mengubah cerita hidupnya.

Seratus delapan puluh derajat, mulai besok.

bersambung…

Advertisements

Penghabisan

“Bangsat!”

“Ya elo itu bangsat!”

“Eh , gue nggak kayak elo, Njing!”

Keduanya kemudian tertawa. Percakapan yang aneh buat telingaku. Mereka saling mengumpat di setiap perbincangan. Tidak sekalipun kata-kata itu absen dari mulut mereka yang mengepulkan asap putih pekat dengan aroma yang tajam dari Malboro merah miliknya.

Aku hanya menggeleng melihat kelakuan dua sahabat itu.

Dua laki-laki. Mereka tak bisa dibilang jelek pun tak bisa diakui terlalu tampan. Tapi mereka cukup layak dikategorikan lulus dibawa kondangan. Si putih berbadan tegap dengan rambut kekinian, potongan cepak di kiri dan kanan, belahan rambut ke samping dengan poni yang sedikit panjang. Jambang tertata rapi menghiasi wajah ovalnya dengan kumis tipis yang membuatnya semakin gagah dengan kemeja slim fit yang selalu digulung lengannya.

Sedangkan sahabatnya, berbadan lebih kecil tapi sangat proporsional. Cenderung lebih santai dengan penampilannya yang tak pernah lepas dari kaos Coconut Island yang digandrunginya dulu. Rambut ikalnya yang terpangkas rapi membuat dirinya tampak semakin manis.

Mereka selalu datang ke café ini. Ya, aku memang sering melihat mereka singgah di café ini. Tidak sekali-dua kali saja, tapi puluhan kali. Dalam satu minggu mereka bisa datang berkali-kali. Tidak hanya mereka berdua saja, kadang mereka datang dengan rekan bisnisnya atau mungkin wanita incarannya.

Oh, maaf sebelumnya. Aku bukan penguping setiap cerita mereka. Tapi obrolan mereka yang selalu mencolok membuat telingaku terpasang dengan sadarnya tanpa perlu aku sengaja. Apalagi kalau obrolan mereka tentang wanita.

Suatu hari, mereka duduk agak berbeda dari tempat biasanya. Kali ini, mereka duduk dekat dengan jendela. Sesekali mereka melongokkan kepala ke arah luar, kemudian berbicara setengah berbisik, kemudian tertawa, lalu mengamati ke luar lagi.

Ah, sudah kuduga. Ada sosok perempuan cantik tengah menikmati secangkir latte sambil memainkan gadget di tangannya. Tampaknya ia tak tahu kalau sedang diperhatikan oleh dua pemuda dari dalam.

Mila.

Perempuan yang sering kulihat di akhir pekan. Pengunjung setia café ini sejak beberapa minggu terakhir. Selalu memesan latte dan duduk di teras depan café setiap pukul 4 sore. Dia tidak cantik, tapi enak dipandang. Senyumnya manis dan tertawanya renyah. Ia ramah dan mudah melebur dengan orang yang baru dikenalnya.

“Gue apa elo yang maju duluan?”

“Gue lah. Elo belakangan. Yang  lihat pertama dia yang maju. Deal?”

“Ah brengsek! Okelah, jatah gue besok. Tapi lo nggak akan menang dari gue”

“Anjing! Pede bener lo! Tapi gue nggak akan nyerah. Lihat aja nanti”

Dua pemuda yang sama bersulang dengan cangkir kopi yang sudah habis setengahnya. Aku geleng kepala melihat kelakuan mereka.

Dua bulan kemudian…

“See…! Gue menang dari lo. Mila lebih memilih gue ketimbang elo, Nyet!”

Suara pria tampan berkulit bersih terdengar jumawa. Si pria manis berkulit sawo matang hanya manyun merutuki nasibnya yang kalah dari karibnya. Ia sadar betul kalau taruhannya kali ini adalah sebulan gaji yang harus ia bayarkan demi mendapatkan gadis manis bernama Mila.

“Iya.. iya.. puas lo? Bangkek! Tapi gue nyicil yak, gila sebulan ke depan mau makan apa gue?!”

“Eits, itu resiko Bung! Taruhan tetap taruhan. Like it or not, you must obey!”

Si pria manis makin menekuk mukanya berlipat-lipat. Aku geli melihat wajahnya yang lebih mirip dakocan kalah perang ketimbang pria manis yang pernah kulihat wajahnya beberapa bulan lalu.

“Pssttt.. Malam ini gue kencan sama Mila. Ini saatnya gue bener-bener dapetin dia!”

Si pemenang taruhan setengah berbisik pada temannya sambil menyorongkan sebotol kecil berisi cairan entah apa namanya.

“Gilak, Lo! Lo mau ngerjain dia?”

“Hahaha.. ayolaaahhh.. Gue bukan orang yang suka dengan commitment. Perempuan lugu itu cuman selingan malam gue. Ya mirip-mirip sama Sally, Dita, ataupun Jean. Kenapa lo jadi kaget sih?”

Si pria hitam hanya geleng-geleng kepala.

“Nanti gue bagi dia buat lo. Tenang aja, gue inget temen kok!”

Kata-kata si pria putih membuat senyum pria hitam terkembang sempurna. Aku yang mendengar ceritanya terasa panas. Dasar lelaki!

Mila datang dengan dress kembang-kembang merah muda. Ia tampak segar dengan pulasan warna mata senada. Ia mengecup pipi si pria putih dan menyalami si pria hitam. Si pria putih dengan senyum sumringah memesan latte favorit Mila, dan membisikkan sesuatu kepada barista café.

Aku tak tahan lagi mendengar bualannya. Kupingku rasanya panas, hatiku turut terbakar olehnya. Geram melihat kelakuan bejat dirinya.

Melihat si pelayan menyuguhkan latte, aku bergegas menuju meja Mila dan pria-pria brengsek itu. Semenit sebelum Mila meneguk latte hangat pesanannya, kukerahkan seluruh energi yang kupunya untuk mencegahnya.

Aku sudah tahu target yang hendak kutuju. Lengan si pria putih kusengat sekuat tenaga hingga akhirnya ia menumpahkan cangkir latte milik Mila. Aku kehilangan sungutku. Habis sudah hidup milikku, tapi setidaknya bukan hidup Mila. Perempuan pencinta latte yang kusuka.

 

*Tulisan ini dibuat tanggal 3 Juli 2013 saat melihat seekor kumbang kecil mati saat menikmati makan siang. Dan mungkin kategorinya flash fiction, hehehe…

Untuk Arum

“I was here, I was there, and I was everywhere.”

Perjalanan bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Buatku, perjalanan adalah upaya memanggil kembali damai yang terenggut macet dan penat Ibukota.

            Membawaku melintasi tempat-tempat yang indah, membuatku isi hidupku penuh riuh dan berwarna…

“Padi?” suara dari samping kanan membuyarkan lamunanku.

Seorang pria menyunggingkan senyum sambil mengulangi pertanyaannya, “Perjalanan-nya Padi, kan?”

Dahiku berkerut. Kulemparkan pandang penuh tanya padanya.

Earphone kamu jatuh sebelah.”

Ah, iya. Lagu lawas awal 2000-an, teman asyik bepergian.”

Aku tak terbiasa bercakap akrab dengan orang asing. Di dalam bus antarkota pula. Kuputuskan untuk diam dan meresapi Perjalanan ini, dengan harapan orang asing itu tak memaksaku menanggapinya lagi.

“Mau ngapain ke Dieng?”

            Duh, suara itu lagi!

“Ehem!”

“Perjalanan bus ini berakhir di Dieng.”

Sorry, may I just … sleep?””

“Oh, sure. Sorry.””

Cengir lebar terpahat sempurna di wajahnya.

Aku menyamankan dudukku, bersiap pura-pura tidur. Entah kenapa aku merasa sedang diawasi. Aku tetap pura-pura terpejam.

Kali ini saja, kumohon, bebaskan segalaku dari Mahendra. Dieng semestinya steril dari dia, dari kepekatan udara yang telah terkontaminasi oleh kenangan tentangnya. Batinku tanpa mengindahkan orang di sebelahku.

***

            “Mbak Arum!””

Toni melambai begitu melihatku turun dari bus. Di sebelahnya, Jeep Willys tua terparkir gagah. Aku tersenyum mendekat, sebelum suara lain membuat langkahku tertambat.

Hei, Bro!””

Pemuda asing itu merangkul Toni, meninggalkan aku yang memandang penuh tanya untuk kesekian kalinya.

“Wah, ternyata kalian barengan. Sudah saling kenal?”

“Reza.””

Pemuda itu mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya ragu-ragu.

“Arum.””

Reza kembali menerbitkan senyumnya. Dengan sigap, dia lemparkan ransel hitam ke jok belakang.

Yuk, berangkat!””

“Sial! Kenapa harus barengan lagi, sih?””gerutuku.

Aku duduk di samping Toni. Aku lebih banyak diam. Antara lelah dan malas berbicara dengan lelaki yang, sejak dalam perjalanan, menggangguku dengan pertanyaan basinya.

Kulemparkan pandangan jauh, membiarkan angin pegunungan membelai pipiku dan mengisi peparuku. Aku memejamkan mata mencoba mengumpulkan keping bahagia yang ditebarkan semesta.

Woy! Kok bengong?””

Tepukan halus di pundak mengagetkanku, membuyarkan lamunan dan membuatku kesal.

Kualihkan pandangan sinis seolah berkata “”Senggol, bacok!”” ke arahnya. Perlahan, Reza pun langsung mundur dan mengangkat tangannya tanda tak akan menggangguku lagi. Semoga.

“Mba Arum kalau capek memang suka bengong dan agak galak. Santai aja, nanti juga terbiasa.”

Keterangan Toni kuhadiahi tatapan dingin.

“Memang Mba Arum ini punya kebiasaan mesam mesem sendiri ya, Ton?”

Pertanyaan Reza langsung diamini Toni sepenuh hati.

Brengsek!

            Aku memilih mengabaikan ledekan mereka, tenggelam dalam lagu yang terputar dari mp3 player milikku.

             Kau buat sempurna awalnya, berakhir bencana…

 Playlist ini seperti berkonspirasi dengan suasana hatiku saat ini. Karma milik Coklat ini sepantasnya kuhadiahi untuk Mahendra.

Entah sudah berapa lama sejak aku menginjakkan kaki di sini. Terakhir kali kuingat, aku membawa pulang cukup banyak ‘perbekalan’ untuk bertahan hidup di Ibukota. Dieng memang selalu jadi tempatku ‘melarikan diri’ dari penat, entah karena pekerjaan, atau urusan cinta.

Ah…

Ada rasa sakit yang menusuk pelan hatiku saat mengucap kata ‘cinta’. Apa iya aku sudah hilang rasa untuk urusan satu itu?

Mahendra. Ya semua ini karena Mahendra.”

Ada kilat benci di ingatanku. Ada rasa muak yang mengakar tiap kali menyebutkan nama itu. Juga ada jijik yang aku tak bisa hilangkan saat berjumpa dengannya.

Aaarrrggh!

“Mbak, kamu nggak apa-apa? Kita sudah sampai.”

Teguran Toni membawaku kembali ke dunia nyata. Saat kucoba menenangkan diri, kudapati Reza tengah memperhatikanku dengan tekun.

“Kamu unik,” celetuknya.

Kukernyitkan dahi, tak mengerti ucapannya.

“Kamu bisa mesam mesem persis kayak orang jatuh cinta. Tapi bisa berubah seperti ingin membunuh orang dalam waktu singkat. Benar-benar unik! Hanya pemain watak yang bisa melakukannya.”

Aku diam. Tidak ada gurat wajah mencela dari kata-katanya. Ia tidak sedang meledekku ataupun menggangguku.

Apa iya wajahku seperti orang yang ingin membunuh?

***

Aku hanya ingin berteman dengan tenang selama di Dieng. Membaur bersama kehidupan kampung, bercengkerama dengan kakek nenek, juga Toni. Guyonan sepupuku itu selalu berhasil membuat dunia senduku merekah.

Semestinya, liburanku tanpa pemuda bernama Reza ini. Dia penyusup ketenanganku. Aku sulit menyukai orang baru. Tapi, bukankah baru itu hanya sedetik? Setelah itu semuanya menjadi hal yang lama?

“Kalau kamu bawa masalahmu kemari, sia-sia semua liburan ini.”

Suara itu mengusik lamunanku, lagi. Aku tak berminat melirik sumber suara, meski kutahu dia tengah duduk berjarak dariku.

“Aku sering berkunjung ke Dieng setiap aku merasa kehidupan terlalu pongah.”

Reza masih saja berkicau. Kulirik sekilas. Cih! Dia senyam-senyum memandang perbukitan sambil sekilas memandangku.

“Di pemberhentian bus tadi, sudah kutanggalkan semua penatku. Dieng terlalu indah untuk diabaikan hanya karena hal-hal tak menyenangkan. Nanti, setelah aku kembali, penat tak akan mengikutiku lagi. Beres,” nadanya berubah enteng.

Hhh…

“Kamu sok tahu, nggak segampang itu!”

Monolog Reza akhirnya kusambar juga.

“Tentu saja mudah. Tinggal diikhlaskan, nggak perlu dibuat susah,” sahutnya.

Aku mendengus sebal. Dia benar-benar sok tahu! Aku semakin tidak suka padanya. Sedikit banyak, aku mulai tersindir kata-katanya.

“Wah, wah. Ternyata benar ‘kan yang aku duga?!”

Dia bertepuk tangan tiba-tiba, diiringi senyum sumringah.

Alisku mengerut memandang tingkahnya. Cowok ini selalu bicara nggak jelas juntrungannya.

“Gadis patah hati, gelagatnya selalu sama. Aku sudah hafal mati!”

Ia terkekeh sendiri mendengar kata-katanya. Tatapanku sengit ke arahnya.

Segitu terlihatkah?

“Aku sudah sering melanglang buana. Banyak manusia kutemui. Gelagat orang jatuh cinta dan patah hati itu … yah, semacam udara yang selalu bisa kutemui di belahan dunia mana pun juga.”

“Kamu backpacker?” tanyaku tiba-tiba.

Aku yakin ini bukan karena aku mulai tertarik dengan ocehan Reza. Ini hanya … semacam pengalihan dari topik yang sok dia kuasai semua.

Reza mengangguk bangga. Aku mendengus lagi.

“Paling kamu backpacker tipikal. Punya blog, pamer foto sana-sini. Ketemu si anu, si itu, semua dimuat dalam cerita,” sindirku.

Bukannya merasa, Reza malah tertawa-tawa.

“Sinisnya! Kamu backpacker nggak kesampaian, ya?”

Tawanya kian jadi. Aku sekadar bergumam malas-malasan. Sampai akhirnya, suara tawanya mereda.

“Cuma backpacker kacangan yang menggunakan itu sebagai ajang pamer. Backpacker sejati menggunakannya sebagai peta perjalanan, sebagai warisan.”

Reza terdiam. Anehnya, aku menunggunya melanjutkan bicara.

Backpacker memiliki kemungkinan tinggi untuk mati di suatu tempat, tanpa kerabat yang tahu sama sekali. Hmm, kamu pernah nonton film 127 Hours, kan? Yah, semacam itu lah. Meski tokohnya nggak mati.”

Reza tersenyum menatapku.

Tanpa sadar, aku memandangi lamat-lamat pemuda gondrong ini. Dia memang berisik, suka basa-basi, tapi benar, tidak semua yang basa-basi itu basi.

Aku jadi teringat ucapan Mahendra, ‘Basa-basi itu hal sepele. Tapi, kalau untuk hal sesepele itu saja kamu tidak bisa, bagaimana kamu mengurus sesuatu yang lebih besar?’

            Ah, Mahendra.

Apa basa-basi juga yang selama ini diberikan padaku? Dia pria berkharisma, tak seharusnya dia menjatuhkan harga dirinya dengan perselingkuhan murahan. Bersama sahabatku pula.

***

Beberapa hari ini aku memikirkan apa yang Reza katakan, juga Mahendra. Mencoba mengaitkannya dengan sikapku selama ini.

Apa benar aku hanya menyakiti diri sendiri seperti yang Reza tuduhkan?

“Waktu bukan dokter. Obati sendiri lukamu.”

Itu yang Reza katakan sebelum aku meninggalkannya di Kawah Sikidang beberapa hari lalu karena sebal.

Aku memang membiarkan waktu menyembuhkan luka tanpa usaha dari dalam hatiku untuk sembuh. Kupejamkan mata, mencoba berdialog dengan semesta.

Tuhan, apa rencanamu?

            Bip..bip..

Sebuah pesan masuk.

            Arum, tolong jawab pesanku. Aku ingin menjelaskan semuanya.

Mahendra.

            Ah, aku tak perlu membalas pesannya. Toh sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Semua sudah terlalu jelas di mataku.

“Sepertinya orang yang mengirimkan pesan butuh dibalas segera,” tetiba ada suara mengagetkanku.

“Kasihan lho. Sedari tadi pesannya masuk, tapi dilirik isinya saja nggak,”” sambungnya lagi.

“Aku tak perlu memberikan balasan apalagi mendengar penjelasan dari pengkhianat,”” tuturku meluncur mulus yang membuat diriku sendiri terkejut.

Kenapa aku bisa curhat colongan dengan Reza?

Reza menempatkan diri di sampingku. Menatap jauh ke area persawahan yang padinya mulai menguning di beberapa tempat. Segerombolan burung tengah berebut pucuk-pucuk padi, mencoba mengambil gabahnya yang sesekali dikagetkan orang-orangan sawah.

Lanskap matari senja mempercantik riuh canda makhluk-makhluk Tuhan yang sedang bergembira bersama sayap-sayapnya itu.

“Kamu tahu, Rum? Kadang, berdamai dengan pengkhianat itu justru obat paling mujarab. Anggap saja, ini ujian kenaikan kelas dalam menjalani hidup,” jelasnya enteng.

Aku tak membantah. Aku diam, mendengar penjelasannya yang -sialnya- aku akui sangat dewasa.

            Hhh..

“Kalau dia memutuskan untuk berjalan dengan orang lain, mungkin orang itu lebih membutuhkan pengkhianat itu ketimbang dirimu. Lagipula kamu baru saja kehilangan seorang pengkhianat, seharusnya dia yang luar biasa kecewa, bukan kamu. Sederhana saja,” tutupnya.

Ada sesak yang mendesak ingin keluar dari dada. Aku menangis sejadinya. Reza memberikan bahunya untukku.

“Tuangkan saja, kalau menangis bisa membuatmu lebih lega,” ujarnya seraya menepuk-nepuk bahuku lembut.

Senja kali ini tak seindah biasanya, pendar jingga yang terlukis terlalu kabur. Dua biji almond di mataku berkabut karena cairan basah yang menggenang. Anehnya, perlahan semua sesak yang mengganjal terkikis sedikit demi sedikit, seolah luruh bersama air mataku. Perasaan tenang menggantikan tempatnya.

***

            Kicau burung pagi ini serasa merdu. Aku bangun dengan perasaan seperti terlahir kembali, menjadi Arum yang baru.

“Selamat pagi, semuaaaa…..” sapaku riang.

“Tumben hari ini sumringah banget, Mbak,” pertanyaan Toni hanya kusambut dengan senyuman.

“Aku balik ke Jakarta siang ini.””

Semua orang menatapku heran. Tapi tak satupun dari mereka bertanya; ‘kenapa?’ Hanya Reza yang menyambut rencanaku dengan senyuman dan acungan jempol dari seberang meja makan.

Aku sudah berkemas. Ransel Consina merah milikku sudah tersandang mantap di bahu. Aku berpamitan dengan Kakek, Nenek dan Toni. Terakhir, kujabat erat tangan Reza.

Ia mengantarku sampai terminal.

“         “Hati-hati ya.””

“         “Terima kasih sudah ‘menamparku’ kemarin.”

“Hahaha.. Wajahmu terlalu manis untuk disinggahi sebuah tamparan, darlin’,”” kelakarnya.

Kuhadiahi ia sebuah pukulan ringan di lengan.

“Sekali lagi terima kasih. Aku berusaha berdamai dengan semua ini. Kuharap kau masih di sini saat aku kembali. Jadi, kita bisa berkenalan sebagai orang yang baru.”

“Tentu. Aku ingin bertemu dengan Arum yang baru. Bukan yang suka cemberut!” ledekannya menghantarku bertolak ke Jakarta.

            Suasana terminal tidak seasing biasanya. Deru mesin bis, yang biasanya terlalu bising itu, hilang ditelan nyanyian dalam kepala yang mengantarkan aku pulang.

—Dua Minggu Sebelumnya

 Bip..bip..

            Arum pergi ke Dieng. Tolong temani dia. Aku percayakan dia sama kamu.

 Sebuah pesan singkat dari Mahendra untuk Reza, sahabatnya. Reza mengenal Arum melalui cerita Mahendra bahkan hingga kronologis bagaimana Mahendra sampai pergi meninggalkan Arum.

“Bagaimana menurutmu?” Reza berharap solusi dari istrinya.

“Aku percaya kamu. Sepertinya kamu memang dilahirkan untuk itu.”

“Maksudmu?”

“Kamu sepertinya terlahir untuk mengobati sakit hati wanita. Seperti kamu menyembuhkan lukaku dulu.”

Hening merayapi perbincangan mereka. Usapan lembut Dina seolah meyakinkan Reza untuk mengiyakan Mahendra.

“Pria sejati dilahirkan untuk membereskan sampah yang ditebar oleh seorang pengecut.” Dina menatap lembut suaminya, dengan sorot yang sangat yakin.

Reza tersenyum.

            Aku penuhi pintamu. Untuk Arum, bukan untukmu!

Sent.

***

            Reza menatap kepulan asap hitam bus yang membawa Arum. Diambilnya ponsel dari saku kanannya.

           Sepertinya aku berhasil.

            Di Jakarta, Dina tersenyum membaca pesan dari suaminya.

Cerpen kolaborasi Septia Wulan dengan Ades Oriloval dalam rangka mengikuti #ALoveGiveaway.

Masih Tentang Russel

Pagi ini datang terlampau cepat. Aku yang semalaman tak bisa tidur karena memeriksa tugas anak kelas enam terpaksa mengambil jatah tidur malam. Dua gelas kopi hitam ternyata tak membuat mata ini berkompromi untuk tetap terjaga. Aroma teh chamomile milik Rendra- guru olah raga- menggelitik penciumanku untuk menyesapnya juga.

Untung saja pagi ini tidak ada kelas, kalau tidak entah bagaimana rupaku saat memasuki kelas nantinya. Aku masih ingat betul dua bulan lalu, ketika aku kekurangan tidur karena harus mengawal pementasan anak kelas 12 di GKJ. Tiba di rumah pukul 2 dini hari dan pagi hari aku harus mengajar anak kelas 1.

Sepagian mereka menyecarku dengan pertanyaan “Miss Tya matanya kenapa?” atau “Miss Tya are you okey? Are you galau miss?” yeah.. kata ‘galau’ sepertinya sudah merasuki murid-murid kecilku ini. Entah apakah mereka benar-benar tahu artinya atau hanya mengikuti tren di kalangan senior mereka di lingkungan sekolah.

Pertanyaan mereka tak kan berhenti sampai disitu saja. Mereka akan terus mencari tahu ada apa denganku dan mereka juga mencari tahu bagaimana membuat wajahku kembali ceria seperti semula.

Ada yang membelikan aku es krim, memberikan bekal makan siangnya, atau ada yang memberikanku apel dan cokelat. Bahkan, Terry, meminjamiku iguanannya yang tidak pernah absen masuk kelas. Rrrr.. aku memilih tersenyum selebar-lebarnya daripada harus mengelus-elus iguana miliknya sepanjang pelajaran.

Tapi terlepas dari semua itu, aku terharu dengan sikap mereka. Mereka begitu peduli dengan sekitarnya, dengan kawannya, dengan gurunya. Ah, semoga saja orang tua dan lingkungan tidak akan mengikis kepedulian mereka nantinya.

Karena pagi ini tidak ada kelas, aku memilih untuk menuju perpustakaan untuk mencari referensi materi mengajar, atau menikmati secangkir teh chamomile di belakang gedung perpus.

Untuk mencapai perpustakaan, aku harus melintasi dua lapangan basket yang luasnya lumayan untuk olah raga. Lapangan yang satu sedang digunakan anak-anak kelas empat untuk bermain basket sedangkan lapangan satunya dipersiapkan untuk anak kelas satu berolah raga.

Paling seru melihat anak-anak kelas satu ini berolah raga. Gayanya selalu ada saja yang bisa bikin perut sakit karena tertawa. Atau terbengong-bengong takjub karena sikap mereka yang kadang tak terpikirkan oleh nalar orang dewasa.

Sampai akhirnya, mataku menangkap sosok yang sangat akrab denganku.

“Russel,” gumamku.

Mengapa anak itu tak ikut kelas olah raga? Lalu apa yang ia lakukan di pinggir lapangan. Otakku berdialog sendiri, menerka-nerka apa yang dilakukan Russel kali ini. Apakah ia mulai berulah lagi? Ah, nanti saja aku tanyakan langsung padanya.

***

Pukul sepuluh, aku mulai mengajar di kelas satu. Suasana ramai terdengar dari ujung kelas. Teriakan Sean melengking seperti biasa. Kalau tidak Terry yang jail bersama iguananya, pastilah Russel yang mengganggunya. Selain itu, masih ada suara tawa Donny yang mirip-mirip Takeshi alias Giant di serial Doraemon. Ya, kelasku ini memang super bukan main! Super ramai, berisik, nakal, tapi sekaligus ngangenin.

Kalau mengajar di kelas ini, tidak hanya mempersiapkan materi pelajaran saja, tapi juga fisik dan mental yang berkali-kali lipat jumlahnya. Meskipun begitu, akan selalu ada serum bahagia yang terisi di pundi-pundi hati saat aku keluar dari kelas. Sederhana.

Saat aku memasuki kelas, anak-anak langsung berhamburan kembali ke bangkunya masing-masing. Remi, seorang bocah berperawakan mungil, berkacamat tebal, langsung berlari menujuku sambil menghamburkan pelukan setiap kali aku memasuki kelas. Berkali-kali aku memintanya untuk tidak melakukan hal itu kecuali jika pelajaran telah usai. Tapi ia enggan menuruti perintahku. Ini sudah seperti tradisi di keluarganya untuk memulai apapun dengan sebuah pelukan hangat. Pada akhirnya, aku berkompromi dengan itu.

Pelajaran berlangsung tanpa terasa. Kini saatnya mempersiapkan mereka untuk pulang dan sedikit memberikan ‘oleh-oleh’ untuk disantap di rumah.

Semua anak-anak berpamitan padaku. Jangan pernah bayangkan  akan ada adegan cium tangan saat pulang sekolah. Sepertinya tradisi itu hanya ada di sekolah negeri jaman aku bersekolah dulu. Sejak awal aku bergabung di sekolah ini, tidak ada kebiasaan itu. Tapi, ada beberapa anak yang selalu memberikanku pelukan serta kecupan saat pulang sekolah. Ah, hangat rasanya!

Selain Russel yang kuminta untuk tinggal di kelas, anak-anak lain sudah berpamitan. Russel tampak bingung ketika kuminta ia untuk tinggal di kelas sebentar saja. Raut wajah protes ia tampilkan seolah menolak permintaanku, tapi kuyakinkan ia ini hanya sebentar saja.

“Russel, tadi pagi kamu kenapa nggak ikut pelajaran olah raga?” tanyaku langsung padanya.

“Umm..aku..aku ikut kok Miss.”

“Hayoo, jangan bohong. Tadi pagi Miss lihat kamu duduk di pinggir lapangan sambil minum teh botol,” ujarku lagi.

“Nggak, Miss,” kilahnya.

“Kamu tahu kan, Miss Tya nggak suka kalau murid-murid Miss Tya bohong? Nah, kamu harus jawab jujur Russel,” jelasku lagi.

“Bener Miss, aku nggak bohong,” jawabnya berusaha meyakinkanku lagi.

“Lha terus, kalau bukan kamu siapa dong yang minum teh botol di pinggir lapangan? Miss Tya lihat kamu lho, Mr.  Rendra juga,”

“Iiihh..Miss Tya nggak percayaan banget sih?! Aku nggak minum teh botol! Aku minum estea tadi pagi,” penjelasannya kali ini dibarengi dengan wajah serius dan nada yang meninggi. Sedangkan aku, berusaha menahan tawa sekuat tenaga.

Oh Tuhan, Russelku ini bukannya meyakinkan aku kalau dia ikut olah raga, tapi meyakinkan aku kalau yang dia minum itu bukan teh botol seperti yang kutuduhkan padanya, melainkan estea. Hahaha…

Kemang, 29 April 2013

Debar Untuk Bulan

Dan bukankah kegelapan tak pernah berdaya di hadapan setitik cahaya?

Sebuah pesan singkat yang kudapat malam ini sungguh kontras dengan pemandangan langit di atasku. Bulan bulat penuh dengan iringan awan hitam yang menaunginya perlahan tersapu angin yang bertiup ringan dari selatan.

Adalah aku yang selalu ingin menjelma malam untuk dapat menemanimu yang tengah bertugas malam ini, Bulan.

Kembali kubaca pesan lanjutan yang baru saja masuk ke dalam kotak surat elektronikku. Tak pernah kupungkiri, aku selalu senang menerima pesan-pesan yang dikirimkannya. Selalu penuh sanjung dan memujaku begitu rupa. Ah wanita.. Ya, aku masih wanita. Aku menyukai bentuk pujian yang membuatku merasa istimewa.

🙂

Hanya ikon itu yang kukirimkan untuknya. Untuk Banyu, pria yang tak pernah kutemui sejak kali pertama aku mengenalnya di dunia maya tiga bulan lalu. Aku tak pernah mengatakan kalau ini adalah sebuah kebetulan, tapi ini adalah rencana Tuhan yang mengenalkan aku padanya.

Seperti memilih menjadikannya rahasia, aku menyimpan sendiri senyumku sebab segala hal menyenangkan yang dilakukan Banyu. Jika pun ingin berbagi, aku memberikannya kepada cermin.

Tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Banyu terus mengajakku berbincang apa saja yang bisa menggubah tawa dan menyulut semangat yang begitu hangat memeluki aku. Sepanjang hari, tanpa henti.

Terkadang aku dililit ingin yang melebihi bahagia yang aku nikmati sendiri. Aku ingin menatap lekat mata Banyu. Aku ingin menikmati pikat cara bicaranya sekali lagi. Namun, aku pun tak tahu apa yang bisa aku lakukan saat ini.

Kadang ada keinginan untuk mengajaknya bertemu tapi selalu saja ada yang membuatku meragu. Aku terlalu takut untuk memulainya lebih dulu. Aku tak pernah tahu, apakah ia hanya seorang pria yang memang senang menjual kata-kata sebagai senjata menaklukan wanita atau ia memang orang yang selalu penuh cinta?

Kepada Bulan Andina, adakah kau memiliki keinginan untuk bertemu denganku sekali saja?

Pesan yang masuk baru saja membuat tanganku gemetar. Ia seperti membaca hati dan pikiranku saat ini. Benakku seolah dibacanya. Ah, semua tanya aku hapus segera. Berkali-kali kuketikkan pesan balasan, tapi selalu saja kuhapus. Aku belum siap.

Aku yakin, wajahku pasti sudah memerah. Aku tak bisa bayangkan jika ini terjadi saat aku bertatap mata dengannya. Dengan pria yang sungguh telah membuatku didesak rasa penasaran. Bahkan kadang terlalu berlebihan.

Terima kasih Banyu Anggara. Rona merah di pipiku sepertinya berisyarat anggukan istimewa untukmu.

Entah mantra apa yang mendadak aku rapalkan hingga tiba-tiba saja aku berani mengirimkan balasan seperti untuknya. Aku menjamu derap jantung yang semakin kencang. Aku memejam dan meringis menahannya agar jantungku tak buru-buru meloncat keluar.

Ah, apakah ini kelelahanku yang terlalu lama bersembunyi dalam maya yang seharusnya bisa aku perjuangkan menjadi nyata?

Tuhan, adakah engkau sedang mempermainkan perasaanku saat ini? Kuharap engkau tidak sedang bermain dengan hatiku yang sepertinya sudah lama berselimut debu. Maaf, aku bukan sedang mengancamMu, tapi aku hanya inginkan sesuatu yang sedikit lebih nyata untukku angankan. Bukan sekadar mimpi yang membuat hari-hariku semakin dilanda sendu karena harapan itu terlalu semu.

“Mba Bulan… kok ngelamun lagi? Hayooo..mikirin siapa?” sebuah suara dari balik pintu mengagetkanku.

“Ah, kamu mengagetkanku saja Mel!” jawabku sambil berbalik menujunya.

“Masih sakit, mbak?”

Ada getir halus menelusup perlahan memudarkan senyum yang sejak tadi terkembang di ujung bibirku.

“Umm.. sudah mendingan. Pain killer aku boleh ditambah dosisnya?”

“Jangan mbak, dokter bilang dosis itu sudah cukup untuk kondisi mbak Bulan sekarang,”ujarnya sambil merapikan beberapa mangkuk obat yang sudah kuhabiskan baru saja.

“Mbak Bulan harus terus semangat ya! Ini bukan akhir dari segalanya, Mbak,” kata-kata Mela, suster yang merawatku menggantung di udara.

Aku hanya mendengar kata-katanya sekilas sambil melihat wajahku dalam cermin dan sesekali melihat balutan putih yang membebat kaki kananku.

Entah apa yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku hanya menikmati gerimis manja yang sore itu menemani perjalananku. Tak juga terlalu gontai langkahku. Namun, kemudian aku tak ingat lagi. Kabarnya, sebuah sepeda motor tak lagi bisa dikendalikan sang pengemudi. Aku menyeberang tanpa melihat kanan kiri.

Mungkin, aku terlalu bersemangat memenuhi janjiku. Mungkin, aku terlalu bersemangat menuruti rasa penasaranku. Mungkin, aku sangat ingin menggemakan tawa atas pertemuanku dengannya. Iya, seorang yang telah memiliki janji menemuiku. Banyu.

Hatiku pilu jika mengingat kejadian itu. Terlebih harus menerima kenyataan bahwa aku harus merelakan kaki kananku untuk selamanya. Aku marah. Aku kecewa. Kadang ada sesal yang menggayut manja perlahan. Apakah ia begitu layak untuk mendapatkan sebuah pengorbanan seperti ini?

Tapi lagi-lagi entah mantra apa yang membuatku tidak pernah bisa melayangkan benci padanya. Tidak sedikitpun. Ternyata diam-diam aku bergantung padanya. Ada jutaan semangat dan senyum yang selalu ia kirimkan melalui pesan singkat ke nomorku. Sederhana, tapi aku merasakan cinta yang tulus darinya. Oh Tuhan, semoga ini bukan rasaku saja.

Telepon genggamku berdering. Satu nama yang aku tunggu akhirnya kunjung menghubungiku. “Selamat sore, Nona,” sapanya dari seberang. Ada tenang yang menghangat di sekujur tubuhku. Banyu, iya Banyu. Aku tak pernah berpura-pura tersenyum menyambut sapanya. “Oke, aku akan datang, menemuimu sebentar lagi ya.”

Satu jam, dua jam, aku menantikan kedatangan Banyu, menjengukku. Senja sudah menepi. Ada yang mengetuk pintu kamar rawatku. Aku mengangkat sedikit kepalaku. Menengok siapa yang datang. Aku tersenyum. Senyuman istimewa yang kujanjikan pada diriku sendiri untuk kuberikan kepadanya, yang menjanjikan pertemuan itu. Banyu. Senyum untuk Banyu. “Hai, masuklah. Terima kasih sudah datang menjengukku,” aku melihat Banyu melangkah mendekat ke arah pembaringanku.

Tapi kemudian aku mengernyit. Ada kejut yang semena-mena menyapa. Seorang gadis berjalan di samping Banyu. Aku bertanya-tanya siapa gadis yang bersamanya itu. “Bulan, kenalkan, ini Aluna,” aku menyambut uluran tangan gadis itu. Pikiranku berkelana, menerka-nerka apa hubungan Banyu dengan gadis itu. Pandanganku tertumbuk pada kalung yang menggantung di leher Aluna. Liontin membentuk nama Banyu ada di sana. Apa ini maksudnya? Aku menggigit bibirku. Jadi, aku tetaplah akan membayangkan Banyu dalam gelap? Tak akan pernah ada terang. Tak akan pernah menjadi nyata.

Aku tak ingat lagi. Seketika semuanya menjadi gelap. Aku biarkan semua impian itu terlelap.

Kemang, 27 Februari 2013

Ini adalah project pertama saya di #AWeekofCollaboration with Wulan Martina

Karena Lelaki Juga Butuh Rindu

“Kamu kemana aja, sih? Udah dua hari nggak ada kabarnya?”

“Ada kok,”

“Iya, tapi gak berkabar itu sama aja kayak ditelen godzila!”

“Kok godzila sih?”

“Terserah aku dong. Kan yang lagi ngomel aku!”

“Lho? Kamu dari tadi ngomel ya? Aku kira kamu lagi ngerayu aku,”

“Arrrgggh! Susah ya ngomong sama kamu!”

“Kalau nggak mau ngomong sama aku kamu bisa nulis di surat kok. Aku juga bisa baca. Seru!”

“Tuh kan! Ada aja deh jawabannya. Kamu itu gak kangen apa sama aku?”

“Hmm…”

“Jawab kangen atau nggak aja pake mikir! Gimana kalau aku tanya, kamu cinta nggak sih sama aku? kamu jawabnya bisa lebaran monyet kali ya?”

“Hahaha..”

“Aku nggak lagi bercanda. Jangan ketawa!”

“Umm.. oke oke.”

“Begini sayang, ada masa dimana pria akan merasakan rindunya. Dan kamu tahu, apa fungsi pasangan hidup untuk si pria?”

“….”

“Seperti  yang pernah kamu bilang dulu, kalau peran pasangan hidup bagi seorang pria itu ibarat rumah. Ketika si pria merasa rindu, ia akan kembali pulang ke rumah dimana ia dirindukan. Dan sekarang aku sedang kembali ke ‘rumahku’. Sedang menikmati  omelan kamu seperti sekarang ini, karena aku tahu kamu menyayangiku dengan caramu.”

“….”

“Kamu tahu, secuek apapun seorang lelaki ia tetap butuh rindu. Tetap butuh rumah dimana ia bisa mengadu. Butuh dekap hangat serta omelan yang membuatnya selalu merasa disayang dan dikhawatirkan. Dan saat ini aku sedang  menjemput rinduku,”

Aaaakkkk! Ingin rasanya menghamburkan pelukan untuknya saat itu juga. Meskipun aku tahu, aku harus sabar menunggu 2 tahun lagi untuk bisa melakukannya, disaat kami sudah bisa bertatap muka. Bukan hanya bertatap di layar laptop saat pagi merayap datang.

Jakarta, 5 Februari 2013

Sambungan Hati Jarak Jauh

Kalau ditanya soal hubungan Ayah dan anak, aku mungkin bukan contoh yang baik. Beliau adalah sosok orang yang sangat berwibawa dan aku selalu menjaga jarak dengannya. Itu karena aku menghormati Ayah.

Kami jarang sekali berbincang-bincang layaknya Ayah dan anak masa kini. Terlebih  lagi dengan aku yang memang sudah merantau sejak SMA. Aku memilih tinggal jauh dari ibukota dan hidup bersama dengan Eyang di Jogja. Kalau sudah begini, Ibu yang memiliki peran menjembatani kami. Meskipun begitu, aku tahu Ayah sangat menyayangiku. Walau itu tak pernah terucap secara lisan dari bibir hitamnya.

Kini, aku sudah bekerja. Tapi aku tetap tak tinggal satu rumah dengan Ayah. Lokasi kantor dan rumah yang sangat berjauhan membuatku memutuskan untuk tinggal di kosan ketimbang harus menempuh tiga jam perjalanan setiap paginya.

Sore ini, seharusnya jadwalku pulang ke rumah. Tapi hujan yang mengguyur sejak pagi membuatku urung untuk pulang. Aku hanya mengirimkan pesan singkat kepada Ayah bahwa rencanaku pulang malam ini harus ditunda hingga esok pagi.

Selepas mengirimkan pesan, aku langsung bergelung di dalam selimut demi menghalau dingin yang sepertinya masih merajuk manja dengan tubuhku. Alunan suara Bonita terdengar sayup-sayup, tak terasa mengantar waktu tidurku jauh lebih cepat.

Tok..tok..tok..

Hmm..siapa yang dateng malem-malem gini, ya?

“Tara.. Nak.. Ini Ayah.”

Ayah? Ada apa datang ke kosan malam-malam begini?

Bergegas aku bangkit dari kasur dan langsung membukakan pintu.

“Ayah? Tumben malam-malam datang?” tanyaku heran sambil mencium tangan Ayah yang terlihat sedikit membiru. Mungkin karena hujan di luar yang tak kunjung berhenti.

“Kamu sudah tidur ya? Maafin Ayah sudah bangunin kamu, Nak,” tutur Ayah dengan senyum tipisnya yang sedikit dipaksakan.

Kupersilakan Ayah masuk dan segera kuseduhkan teh hangat untuknya. Beliau menarik nafas dalam-dalam dan duduk mengenyakkan diri di kasur.

“Ayah, kenapa maksain diri dateng ke kosan Tara? Kan besok Tara balik, Yah.”

Ayah tak menjawab, ia hanya memandangku lekat. Menarik bibir tipis kehitaman karena nikotin yang dihisapnya sejak jaman muda dulu, hingga senyum terkembang sempurna, meski tak kurasakan sama.

“Ayah kangen Tara.”

Deg. Pernyataan spontan Ayah benar-benar membuat hatiku terenyuh. Tak perlu menunggu kata selanjutnya meluncur dari bibir Ayah, aku langsung menghamburkan dekapan untuknya. Banjir air mata sudah tak terbendung rasanya.

“Tara juga kangen Ayah.”

Lama rasanya tak pernah memeluk tubuh Ayah seperti ini. Ternyata tubuhnya tidak seperti dulu, Ayah tak segemuk tahun lalu. Entah sejak kapan bobot tubuhnya menyusut seperti sekarang ini. Tubuhnya juga sangat dingin, mungkin karena diterpa hujan dan angin selama di perjalanan.

“Tara, Ayah nggak lama-lama, Nak. Ayah harus pulang, nanti kemaleman.”

“Tapi Ayah kan baru dateng, sebentar lagi ya Yah,” bujukku.

Ayah membelai kepalaku dan mengecup keningku dengan lembut. Ia berpamitan sekali lagi.

“Tara jaga diri baik-baik ya, jangan males makan kalau di kosan. Besok pagi kamu wajib pulang ke rumah, okey?” pinta Ayah sebelum benar-benar kulepaskan kepergiannya.

Ada haru yang menghujamku bertubi-tubi. Ada resah yang menggayuti perlahan namun pasti, dan ada sejuta kata sayang untuk Ayah yang tak sempat kusampaikan karena tertahan di kerongkongan.

“Ayah…”

Lelaki tua berjaket kelabu itu menoleh sesaat dan berhenti sebelum menuntun vespa tuanya keluar gang.

“Hati-hati di jalan.”

Kata-kata menggantung di udara. Ayah membalasnya dengan sebuah senyuman yang membuatku merasa hangat. Di hati dan di pelupuk mataku.

Around the world atarashii kotoni
Around the world fumidasu chikara de
Around the world sekai wa kawaru sa
But don’t run away cause it’s not OK!

Aku terkejut saat mendengar lantunan indah Monkey Majik dari telepon genggamku. Lagu itu membangunkanku segera.

“Halo,” sapaku kepada pemilik nomor telepon yang tak kukenali di ujung sana.

“Tara,” suara itu lemah, namun aku masih sangat mengenalinya di tengah isak tangis yang tertahan.

“Mama? Mama kenapa?”

“Ayah, Tara.”

“Ayah? Kenapa dengan Ayah?”

“Ayah hanyut terbawa arus. Ia memaksa untuk menjemput kamu di kosan karena khawatir sama keadaan kamu, Nak,” tangis Mama meledak saat menceritakan kejadian yang menimpa Ayah. Tak ada yang bisa kukatakan, tangisku tertahan di dada.

Ayah yang berpamitan padaku tadi itu…

 

Depok, 17 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-5

Cuti Sakit Hati

“Ra, kamu sudah tahu gosip terbaru?”

“Gosip apa?”

“Ada anak baru di divisi design. Katanya sih orangnya ganteng, pindahan dari kantor cabang di Dubai.”

“O ya?”

“Dih! Kamu normal nggak sih? Ada makhluk oke tapi mukanya anteng begitu!”

Amara hanya membalasnya dengan senyum super malasnya. Ia enggan memikirkan persoalan anak baru –yang konon katanya ganteng – yang baru saja diinfokan Astri. Mungkin karena pekerjaan yang menumpuk sejak bulan lalu ditambah ujian tengah semester yang akan dihadapinya minggu depan.

“Sudah ah! Aku baru bisa yakin dengan omonganmu kalau sudah melihatnya langsung, Okey?!” Amara langsung meninggalkan Astri yang masih melongo dengan jawabannya.

***

“Lobi atau basement?”

“Ha?”

“Kamu turun di lobi atau basement?”

“Oh, anu umm.. di lobi.”

Deg. Jantung Amara terlonjak saat melihat pria yang berdiri di sampingnya. Tampan. Hanya itu yang bisa hatinya katakan. Ia tak sadar kalau sedari tadi ia tak memencet satupun tombol di dalam lift.

“Sudah di Lobi, Mbak,” ujar si pria yang langsung membuyarkan lamunan Amara.

“Oh iya, terima kasih.”

Bergegas ia keluar dari lift tanpa berani menoleh kembali ke dalam lift. Malu, mungkin itu alasannya.

“Duh! Kenapa aku jadi grogi sih tadi? Terus, dia itu siapa ya?” puluhan tanya menggantung di kepala Amara tepat ketika sebuah taksi melintas di depannya.

***

Dua minggu setelah kejadian di lift, tidak membuat Amara berhasil mendapatkan informasi siapa gerangan pria tampan itu. Belum lagi perihal ujian tengah semester yang membuatnya tak bisa memalingkan perhatian selain dari tugas dan setumpuk materi yang harus dipelajarinya.

“Ra, kamu bawa komaci nggak?” tanya Astri.

“Nggak Tri, nggak sempat masak pagi tadi. Mau makan di mana kita?”

“Di food court atas aja, yuk!” Amara mengamini ajakan Astri dengan langsung menyambar dompet serta telepon genggam dari dalam tasnya.

“Eh Ra, jangan langsung nengok ya. Arah jam 1 yang lagi makan sama Mas Dipo itu tuh anak baru yang tempo hari aku ceritain,” tukas Astri membuat Amara spontan mencari arah jam 1 yang dimaksud.

“Yee.. ONENG! Kan aku sudah bilang jangan langsung nengok!”

Omel Astri sambil tangannya menarik kepala Amara untuk tidak celingukan mencari orang yang ia maksud.

“Maaf..maaf..aku refleks! Hahaha…” ujar Amara sambil cengengesan tanpa rasa bersalah.

Setelah mengenyakkan diri di salah satu bangku foodcourt, Amara berusahan mencari orang yang Astri maksud. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati orang yang Astri maksud adalah si pria tampan yang membuat jantungya belingsatan saat di lift beberapa minggu lalu.

“Oh, shit!”

“Kenapa, Ra?”

“Itu cowok yang tempo hari ketemu aku di lift!” jelas Amara bersemangat.

“NAH! Aku bilang juga apa!”  mereka cekikian berdua, sepertinya akan ada bahan obrolan yang sama selama beberapa minggu ke depan.

***

“Tri, kamu lihat jurnal aku nggak?” teriak Amara panik seperti sedang kebakaran jenggot saja.

“Nggak. Memang terakhir kali kamu taruh di mana?” tanya Astri sambil ikutan mencari di laci dan meja kerjanya.

“Nah, itu masalahnya. Aku lupa!”

“DASAR ONENG! KEBIASAAN!”

“Parahnya lagi, form cuti yang sudah ditanda tangani HRD itu ada di dalamnya. Bisa gawat nih! Cutiku bisa terancam batal, padahal aku sudah merencanakan liburan ini sejak lama,” tuturnya sambil sibuk membongkar seluruh isi laci mejanya.

“Ya sudah, kamu minta lagi aja. Mas Dipo pasti mau kasih kok,” usul Astri akhirnya membuat Amara berhenti mencari.

Tuuuutt..Tuuuttt…

“Ya mas Dipo?”

“Kamu bisa ke ruangan saya?”

“Oke, Mas. Kebetulan saya juga ada perlu sama Mas Dipo.”

***

Tok..tok..tok..

Masuk ke ruangan Mas Dipo, Amara dikejutkan akan kehadiran seseorang. Seorang pria yang membuat jantungnya kebat kebit tiap kali Amara melihatnya.

“Oke, Dip? Jangan sampai nggak dateng ya!” ujar si pria itu sambil berlalu meninggalkan ruangan.

“Hai Amara, aku duluan ya,” sapanya mengejutkan Amara.

“Dia tahu namaku?” batin Amara terlonjak gembira. Andai ia lupa sedang berada di ruangan Mas Dipo, mungkin saat ini ia sudah salto dan sujud syukur mendengar sapaan barusan.

“Oke Amara, silakan duduk,” kata-kata Mas Dipo membuyarkan lamunan Amara. Sejenak membawanya kembali ke alam nyata.

“Oh iya Mas. Mas Dipo panggil saya ada apa ya?”

Mas Dipo mengeluarkan sebuah jurnal bersampul kulit berwarna cokelat yang sangat ia kenal betul. Itu jurnal pribadi miliknya.

Deg.

“Saya menemukan jurnal ini terjatuh di lobi kantor semalam. Karena tidak ada pengenal, jadi saya membaca isi jurnal ini.”

Hening seketika. Ada beku yang membungkam Amara lekat-lekat. Keringat dingin mulai mengucur, hatinya mencelos.

“Mati aku!” batinnya.

“Saya tahu jurnal ini milik kamu karena surat ini.”

Mas Dipo menyodorkan selembar surat yang sejak pagi membuat Amara uring-uringan. Form cutinya.

“Ini jurnal dan surat cuti kamu,” Mas Dipo menyorongkan jurnal bersampul kulit berwarna cokelat plus selembar surat yang telah ia tanda tangani.

“Dan mohon maaf karena saya telah lancang membaca jurnal milikmu. Tapi, saya bisa kasih tahu sebuah jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam jurnalmu itu.”

Amara terpaku. Mas Dipo tiba-tiba menyodorkan sebuah amplop besar berwarna ungu berbalut emas yang cantik dan elegan. Amara tampak ragu saat mengambilnya.

“Undangan?”

“Iya. Undangan. Itu undangan milik Adit, pria yang barusan kamu temui di ruangan ini, yang ketemu kamu di lift, yang bikin jantung kamu kebat kebit,” penjelasan Mas Dipo membuat wajah Amara pasi.

“Shit!” umpatnya berkali-kali dalam hati.

“Minggu depan Adit akan menikah.”

“Oh..”

Kata-kata Mas Dipo menggantung di udara. Amara tidak tahu harus bereaksi apa. Otaknya terlalu sibuk menelaah apa yang baru saja terjadi. Ia masih berharap ini hanya sebatas mimpi. Tak mau Mas Dipo membaca resahnya terlalu lama, Amara memutuskan untuk kembali ke mejanya.

“Amara..”

Amara menghentikan langkahnya tepat ketika ia akan membuka pintu.

“Kamu baik-baik saja kan?”

Ia hanya menjawab dengan anggukan pelan dan senyum tipis yang ia paksakan .

“O ya, kalau kamu mau, saya bisa menambahkan jatah cuti kamu,” terang Mas Dipo.

“Cuti tambahan untuk apa, Mas?” tanya Amara penasaran.

“Untuk merasa sakit hati.”

“Sial!” batin Amara.

“Dan saya mau menemani kamu untuk menghilangkan rasa sakit itu.”

Kata-kata terakhir Mas Dipo masih terngiang di kepala Amara yang membuatnya semakin limbung saat meninggalkan ruangan HRD.

 

Jakarta, 16 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-4

Orang Ketiga Pertama

Lima tahun sudah aku mengenalnya. Aku sangat menyayanginya, pun ia menyayangiku melebihi apapun. Ada binar cinta di matanya selain ketulusan yang kurasakan saat ia menatap lekat wajahku. Sangat terlihat dari sikapnya yang menunjukkan kasih sayang berjuta-juta. Ia juga selalu bangga saat mengenalkanku kepada kawan-kawannya.

Ia selalu mengatakan kalau aku itu hebat. Senyum selalu terkembang manis di bibir tebalnya , dengan dagu yang sedikit dihiasi bayangan hitam, ketika ia membicarakanku. Aku tahu betul itu.

Setiap akhir pekan tiba, ia dengan senang hati menemani aku berlatih tari. Ia selalu mengabadikan gemulai gerak dan langkahku hingga aku pementasan nanti. Itu janjinya sambil mengecup keningku penuh cinta. Sampai pada suatu ketika, sikapnya berubah tiba-tiba.

Ia tak lagi mudah diajak berbicara seperti dulu. Ia lebih betah berada di kantornya dan menenggelamkan diri dengan pekerjaannya. Setidaknya itu pengakuannya saat kutanyakan kenapa. Katanya, pekerjaannya begitu menumpuk hingga tak bisa menyambangiku sekadar untuk menemani makan malam. Aku tertunduk lesu, nafsu makanku hilang begitu mendapatkan pesan darinya untuk makan malam lebih dulu.

Pementasan tari pertamaku di akhir pekan ini. Ia meminta maaf karena tak bisa menghadirinya karena tugas luar kota yang mendadak. Aku kecewa. Ia telah berubah, tidak lagi menepati janjinya.

Semenjak kejadian itu, hubunganku dengannya merenggang. Telepon bordering hanya sesekali. Aku pun enggan menemuinya, meskipun aku penasaran apa yang membuatnya berubah begitu cepatnya. Tak ada lagi kata-kata sayang yang ia kirimkan sebelum aku berangkat tidur. Aku terluka dan kecewa teramat sangat.

Hingga di suatu Minggu pagi, ia datang. Ia masih tetap mempesona di mataku. Lelaki hebat yang membuatku tak pernah bisa berhenti menyayanginya. Ia mengecup keningku dan mendaratkan pelukan hangat di sela-sela menanyakan kabarku.

“Ada kejutan untukmu, sayang.”

Aku berbinar mendengar kata-katanya barusan. Mungkinkah hubungan kami akan kembali baik seperti dulu? Aku tak sabar menantikan kejutan yang dibawanya. Meski aku tahu tak ada satupun kotak berhiaskan pita manis merah jambu di tangannya saat itu.

Sesaat ia melangkah keluar, dan masuk kembali dengan sebuah ‘kejutan’ yang membuatku membeku, dan seolah membuat langit harapanku runtuh saat itu.

“Disa sayang, ini Tante Arini. Calon mama barumu.”

Seorang wanita cantik berbalut dress warna merah muda datang bersama Ayahku yang sepertinya akan mengisi hari-hariku bersama Ayah tidak lama lagi.

Jakarta, 15 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-3

Kenalan Yuk!

Kereta commuter jurusan Bogor-Tanah Abang-Jatinegara melaju membelah pagi. Menggantung embun yang sepertinya enggan mencair meski jarum jam sudah tergelincir dari pukul 6 pagi. Wajah-wajah sayu entah karena hasil telepon berjam-jam semalam atau memang karena menjaga si kecil yang rewel karena imunisasi.

Sedangkan aku, masih asyik mengamati mereka di tengah sesaknya gerbong kereta. Membuat dialog di kepala dan berandai mereka jadi pemeran utama di panggung sandiwara yang tercipta baru saja.

Kereta melambatkan lajunya, stasiun Cawang tepat di depan sana. Lagi-lagi, manusia menyeruak memasuki gerbong yang lebih layak disebut kaleng sarden ketimbang gerbong berisi manusia. Degup jantungku berpacu lebih cepat tiba-tiba.

Wajahku berpaling ke arah pintu gerbong yang terbuka. Tepat pukul 7, stasiun Cawang, gerbong ketiga. Ia masuk gerbong dengan tergesa, menyibak poni yang menutupi mata kanannya. Tersenyum puas saat pintu tertutup dan ia sudah di dalamnya. Setelan biru tua dengan scraf sutera bercorak bunga sakura terselip di leher jenjangnya. Ah, cantiknya!

Sudah tiga bulan terakhir aku melihatnya. Wanita berparas ayu, berkulit sawo matang. Dugaanku ia seorang wanita keturunan Jawa. Naik dari stasiun Cawang tepat pukul 7 dan selalu masuk di gerbong ketiga. Bukan sebuah kebetulan aku bertemu dengannya. Dua kali aku melihatnya di gerbong yang sama, dan memutuskan untuk mencoba memastikannya. Selalu, setiap hari.

Tak ada keberanian untuk sekadar menyapa. Dan entah kapan keberanian itu ada atau memang tak akan pernah ada? Hingga akhirnya pagi ini, aku temukan secuil keberanian untuk mendekatinya. Jarakku hanya sejauh dua orang lelaki berkacamata dengan tas besar di punggungnya dan tiga orang wanita yang enggan berhenti bergosip sejak pertama naik di stasiun Bogor pagi tadi.

Aku mencoba ‘membelah’ sesaknya gerbong kereta yang hasilnya tatapan sinis mendarat sempurna padaku. Terlebih tiga orang wanita yang merasa terganggu dengan kehadiranku, karena merasa insecure dengan perpindahanku. Hap! Aku sudah berada tepat di samping wanita bersetelan biru berscraf bunga sakura.

“Hai!”

Tak ada jawaban. Hening menggantung lama, tatapan orang-orang disekitarku mulai menyelidik, ada juga yang menahan tawa. Ah, sudah terlanjur. Lupakan malu, maju terus saja. Itu yang kukatakan dalam hati meski tak yakin untuk selanjutnya.

“Ada apa?”

Akhirnya, sebuah tanya ketus memecah keheningan yang siap membunuhku pelan-pelan.

“Sebentar lagi stasiun Manggarai, aku harus turun. Aku Randu, ingin kenal nama kamu, boleh?” kataku sambil menyorongkan tangan dengan sebongkah nekad yang mulai terkikis perlahan.

Jeda begitu lama. Waktu sepertinya berhenti begitu saja, tak lagi berdetak, dan membuatku ingin menenggelamkan diri sesegera mungkin. Kereta berhenti di Stasiun Manggarai, dan uluran tanganku tak pernah disambut olehnya. Hanya malu yang kini kukantongi dengan sukses di saku celana.

Sejak hari itu, aku memutuskan untuk tak lagi mengingatnya. Sebelum aku benar-benar jatuh cinta padanya, memang sebaiknya kukuburkan rasa itu segera.

***

“Ran, ayo tho cepetan! Kamu itu kok melebihi ibumu ini tho? Padahal kamu kan ndak pakai sanggul!”

“Aku kan pengen terlihat ganteng Bu. Siapa tahu ketemu jodoh,” kataku ini sungguh terucap dari dalam hati.

Upacara pernikahan dengan adat Jawa komplet berlangsung lama. Rentetan prosesi ini menyita waktu menjelajah setiap booth makanan yang ada. Di tengah kerumunan aku menangkap sesosok wajah yang membuatku terpana. Mungkinkah ini hari keberuntunganku?

“Ran, mrene le. Ibu mau kenalin kamu,” tepukan halus Ibu membuatku terkesiap. Digiringnya aku ke salah satu meja.

“Nih, Ran. Kenalin ini Gendis. Waktu kecil kamu sering main bareng jaman kita masih tinggal di Solo. Nah, sekarang Gendis sudah tinggal di Jakarta.”

“Hai Randu, kita ketemu lagi,” sapanya.

“Kalian sudah kenal tho? Bagus kalau gitu. Tapi ndak boleh suka-sukaan  lho yaa, Kalian itu sepupuan,” sambar Bude Tien, Ibu Gendis, diiringi tawa khasnya.

Terlambat! Gendis anakmu sudah jadi pencuri, Bude!

Kandang Beruang, 13 Januari 2013
#13HariNgeblogFF Hari ke-1