Balada Makan Siang

Mendung seharian membuat saya enggan beranjak keluar. Untung saja, Mas Yuri, asisten kesayangan kami menawarkan ingin manu apa untuk makan siang. Terlintas di benak saya untuk makan sesuatu yang berbau junkfood. Tapi, untunglah akal sehat lebih dulu merevisi pesanan saya.

Karedok lengkap dengan lontong jadi pesanan saya sebagai menu makan siang. Agak lama saya menantikan makan siang ini tersaji di meja pinggir kolam. Sambil menunggu, saya asyik surfing di dunia maya, iseng-iseng bongkar pasang tulisan cindil-cindil yang bikin saya sakit perut, dan sesekali mengganti playlist lagu yang sekiranya bisa menjaga mood saya tetap pada jalur semestinya.

“Mbak, karedoknya di meja ya.”

Suara khas Mas Yuri menghentikan kegiatan saya. Dengan langkah mantap bin pasti saya menghampiri menu makan siang yang sudah terlambat hampir sejam. Ya, saya maklum. Mas Yuri tengah banyak pesanan rupanya.

Sebuah styrofoam berisi karedok ditaruh di atas piring melamin biru, dan sebungkus kerupuk sepertinya sudah tak sabar untuk saya eksekusi siang ini.

Aroma kencur yang menguar saat saya buka penutupnya membuat liur menitik seketika. Bumbunya tak kental tapi juga tidak encer. Puket. Pas sekali untuk porsi karedok yang terbilang sedikit ini. Irisan halus kol, potongan kacang panjang yang berseling dengan taburan tauge dan disisipi lembaran daun kemangi yang menambah harum karedok ini mengingatkan saya akan satu hal. Masa kecil.

Suapan pertama mampir di lidah, ‘menampar’ saya dengan rasa pedas yang menggigit! Ah, saya lupa untuk pesan karedok tanpa cabai (Bah! Apa rasanya karedok kalau tanpa cabai?). Tapi saya buat pemakluman siang ini. Siang ini saja saya berdamai dengan cabai, semoga cacing-cacing di dalam perut ini bisa bertahan sebentar saja. *elus-elus perut*

Potongan sayuran segar terasa kres..kress.. renyah di lidah. Suapan demi suapan perlahan memenuhi mulut saya yang bergoyang tiada henti. Mendung yang kian turun manaungi acara makan siang membuat saya makin bernostalgia dengan suksesnya.

“Bu Oon,” gumam saya di tengah menyantap makan siang.

***

Wanita bertubuh besar, berkebaya kembang-kembang berwarna krem kecokelatan dengan kain jarik serta angkin, yang terlihat membebat perutnya yang besar karena melahirkan banyak anak. Rambutnya putih disanggul sederhana. Kaca mata pantat botol menaungi wajahnya yang bulat dengan tahi lalat besar di ujung bibir kanannya.

“Karedok ape gado-gado, Neng?”

Itu kalimat yang selalu menyambut saya ketika sampai di warung sederhana miliknya di pertigaan Jalan jengkol, sekitar 200 meter dari rumah saya. Bu Oon si penjual gado-gado dan karedok yang tersohor di seluruh kampung areman.

“Cara dia ngulek bumbu itu khas. Ndak ada yang nyaingi,” ujar ibu saya ketika saya tanya kenapa harus beli gado-gado Bu Oon alih-alih ada tukang gado-gado yang lebih dekat dengan rumah.

Suatu hari saya pernah mangkir dari titah Ibu. Saya belikan gado-gado yang berbeda. Tapi Ibu saya hapal betul dengan bumbu racikan Bu Oon, yang membawa saya pada omelan-omelan berikutnya. Rasa penasaran dan sebal karena dapat omelan membuat saya mencoba meresapi apakah perbedaan dari bumbu racikan kedua tukang gado-gado itu.

Satu sendok bumbu serta sayuran saya suapkan ke dalam mulut. Hap!

Deg!

Langsung terasa perbedaan rasa yang jauh sekali tercecap lidah saya! Tampilannya memang sama, tapi soal rasa bagaikan langit dan bumi. Bumbu gado-gado yang saya coba terasa hambar. Kencurnya tidak terasa apalagi aroma jeruk limau yang biasanya harum menguar di bumbu gado-gado Bu Oon. Tak heran, Ibu saya yang memang penggemar fanatik Bu Oon protes keras!

Pasalnya, lidah Ibu saya sudah terlatih menikmati bumbu racikan Bu Oon. Pun demikian dengan saya.

Tahun-tahun berlalu. Bu Oon semakin tua. Usianya makin sepuh dan sudah tak bisa mengulek bumbu seperti biasa. Tangan tuanya sudah tak kuat menggerus bumbu kacang di atas cobek cepernya. Kaki rentanya tak bisa berdiri terlalu lama karena rematik yang semakin merajalela.

Belum lagi pikun yang kerap kali justru menyusahkan ia dan juga pengunjung warungnya. Lupa ia apa pesanan yang baru saja dituliskan oleh pembeli. Atau kadang lupa ia memasukkan salah satu bumbu di dalamnya. Membuat rasa jadi fatal gagalnya.

Mbak Um, putri bu Oon entah yang nomor berapa menggantikan perannya. Sayang beribu sayang, bumbu racikan Mbak Um berbeda dengan Ibunya. Meskipun takaran yang dimasukkan sudah sama persis. Mungkin ini yang dikatakan banyak orang, ketika menyediakan masakan penuh cinta hasilnya akan berbeda.

Bu Oon selalu  melayani pembelinya dengan senyum dan sapa ramah yang mengajak pembeli merasa seperti keluarga. Berbeda dengan putrinya yang tak pernah menghadirkan senyum saat bertanya “Karedok atau gado-gado?”.

Ya, keramahan Bu Oon sepertinya tidak menurun pada putrinya itu. Hingga satu persatu pelanggan meninggalkannya, dan Bu Oon meninggal di usia yang cukup senja. Warung miliknya terbengkalai tak terurus dan hilang karena proyek pelebaran jalan.

Ah, nostalgia.

Mendung masih saja merayu saya dengan semilir angin dinginnya. Menyapukan kenangan indah disuapan terakhir karedok yang kurasa mirip dengan racikan karedok milik Bu Oon di masa jayanya dulu kala.

Kemang, 27 Mei 2013 ; 13.20

Advertisements

Chef Yohannes: Berkarir 16 Tahun di Luar Negeri

chefyohannes

Chef asal Jawa ini memulai karirnya dari bawah hingga berakhir sukses sebagai Executive Chef. Menjalani karir selama 16 tahun di luar negeri telah menempa dirinya menjadi pribadi yang gigih. Di saat karirnya memuncak justru ia kembali ke Jakarta. Apa yang dicari oleh chef yang piawai mengolah hidangan Eropa ini?

Senyum ramah dan bersahabat pun mengembang dari chef yang bernama lengkap Yohannes Pratiwanggana ini saat ia menemui saya di sela-sela kesibukannya sebagai Executive Chef di Decanter Wine House. Dengan sedikit tersipu malu ia pun mulai bercerita tentang awal karirnya menapaki dunia kuliner.

Tak banyak chef lokal di masanya yang berkeinginan kuat menggali pengalaman di mancanegara. Namun, garis hidup agaknya berkata lain. Dari arahan seorang guru, akhirnya ia memantapkan diri memilih jurusan pariwisata dan perhotelan di kota kembang sebagai pendidikan lanjutannya.

“Untuk menjadi sukses dan besar orang harus ke luar negeri,” demikian prinsip yang dipegangnya. Namun, ia justru memilih hotel Borobudur sebagai langkah awalnya meniti karir sebagai Junior Sous Chef. Karena keinginannya yang kuat iapun sempat bersitegang dengan pihak hotel saat akan melanjutkan karir ke Geneva, Swiss.

Tahun 1977, akhirnya ia berhasil menapakkan kakinya di Movenpick Cendrier Geneva Switzerland. Chef yang berhobi kemping dan renang ini selalu memiliki target setiap berada di tempat yang baru. “Saya mengejar sertifikasi tertinggi dari hotel-hotel terbaik. Bagi saya pengalaman lebih penting dari pada uang,” jelasnya. Karena itu gaji yang tak seberapapun ia tutup dengan bekerja ekstra di akhir pekan di hotel sehingga kebutuhan hidupnya tetap tercukupi dan pengalamanpun diperolehnya.

Dalam menggali pengalaman, chef yang memilih bagian Kitchen sebagai spesialisasinya, tak segan untuk mencoba hampir semua divisi kitchen untuk mendapatkan pengalaman. Mengapa harus menu Eropa? Menurutnya chef di Indonesia yang mengkhususkan diridengan menu Eropa masih terbatas jumlahnya oleh karena itu ia memilih menu Eropa dan mediterania sebagai spesialisasinya.

Untuk memperkaya pengalaman, iapun melanjutkan karir di London Hilton International sebagai  Chef Entremetier. Jaringan hotel internasiobal Hilton telah mematangkan pengalamannya melalui berbagai jenjang karir sebagai chef yang dilalui. Dari London, chef yang juga ayah 3 anak ini melanjutkan karir ke Sydney Hilton Australia sebagai as Chef Tournan. Kemudian dilanjutkan ke Montreal Bonaventur Canada sebagai Banquet Chef.

Bekerja di Sydney ternyata tidak memuaskan baginya. “Saya merasa tidak bisa maju, tidak banyak mendapatkan pengalaman,” demikian alasannya. Karenanya Canada kembali dipilihnya sebagai tempat kerjanya. Di Canada chef yang kelahiran Yogyakarta ini merasa nyaman dan mapan hingga ketiga anaknya mulai tumbuh besar.

“Rasa takut kembali ke Indonesia selalu menghantui saya. Ya, takut tidak ada pekerjaan yang cocok,” tuturnya. Karena anak sulungnya sudah memasuki usia sekolah maka Jakarta akhirnya dipilihnya sebagai tempat berkarirnya. Hotel Jakarta Hilton merupakan hotel tempatnya berkarir sekembalinya ia ke Indonesia di tahun 1993 sampai akhirnya ia mendapatkan posisi Executive Chef dan hotel Hilton berganti nama menjadi hotel Sultan. Memasuki masa pensiunnya di tahun 2008, ia menerima tawaran untuk menjadi Executive Chef di Decanter Wine House.

Meskipun ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai seorang chef, tak lantas membuatnya mengijinkan ketiga buah hatinya menekuni bidang yang sama dengannya. “Pekerjaan sebagai chef itu berat, 24 jam dan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab,” demikian alasannya. “Bagi saya jika piring dari tamu kembali ke kitchen dalam keadaan bersih, saya puas. Saya selalu ingin tahu apa saja yang disukai tamu saya, terutama tamu VIP,” tuturnya. Karena rasa tanggungjawabnya yang besar itulah iapun merelakan diri tidak tidur lebih dari 24 jam demi memuaskan selera para tamu.

Setelah malang melintang di dunia perhotelan, akhirnya sang chef memilih sebuah restoran sebagai tempatnya berkarir di masa pensiunnya. “Sebenarnya ini adalah sebuah tantangan baru untuk saya, karena biasanya saya bekerja di sebuah hotel yang semua sistem dapurnya sudah diatur. Sedangkan di tempat ini saya harus memutar otak untuk membuat menu baru dan membuat kombinasi yang cocok setiap harinya itu yang menjadi tantangan untuk saya,” ujarnya.

Selain itu  Decanter menyajikan makanan khas Mediterania yang memang cocok dengan keahliannya. Chef yang sangat menyukai semua segala jenis masakan dari sang istri ini masih memiliki impian untuk mengelola resto milik pribadi suatu hari kelak.

Bincang-bincang sayapun ditutup dengan berbagi resep yang ia selalu sajikan untuk tamunya di Decanter Wine House. Ini dia:

Orange & Fetta Cheese Salad

Bahan:

150 g selada air
60 g Radichio
300 g jeruk Navel, ambil juringnya
80 g fetta cheese
40 g black olive
40 g  green olive
20 g red onion (bawang Bombay merah), iris melintang tipis
5 g kulit jeruk parut

Saus, aduk rata:
70 ml jus jeruk segar
70 ml jus lemon
120 ml minyak olive
½ sdt garam
½ sdt merica bubuk
kulit jeruk iris

Cara membuat:

  • Taruh bahan-bahan selada; sayuran dan keju dalam mangkuk besar.
  • Siram dengan Sausnya.
  • Aduk rata dan sajikan.

Untuk 3 orang

Tips:
1.Keju fetta merupakan jenis keju lunak yang berwarna putih, dikemas plastic dan teksturnya agak keras, mudah patah. Bisa dibeli di pasar swalayan besar.
2.Olive hitam dan hijau tersedia dalam bentuk dengan biji atau tanpa biji dan sudah diawetkan dalam kemasan botol kaca. Bisa dibeli di pasar swalayan.
3.Jeruk Navel adalah jenis jeruk manis yang berkulit oranye, ada yang berasal dari Amerika, Australia dan Cina. Pilihlah jenis yang agak manis rasanya.
4.Aduk salad dengan sausnya saat akan disajikan supaya tidak berair.

*tulisan ini pernah dimuat detikfood tahun 2009

Tahu Pong Semarang, Camilan Bikin Perut Kenyang!

Bertandang ke Semarang tak akan lengkap tanpa mencicipi kulinernya. Banyak sekali jenis kuliner khas Semarang yang bisa dicicipi selama berada di Semarang. Seperti malam ini, saya sengaja diajak Tante tris dan Ribka untuk mencicipi salah satunya.

“Kamu sudah laper, Ka?”

“Banget Tante. Malam ini kita mau cicip apa nih?” tanya saya antusias.

“Kita makan tahu pong di Depok.”

“Waduh! Mau makan tahu pong ke Depok segala tante. Itu mah saya pulang lagi dong,” jawab saya yang langsung disambar ledakan tawa dari Ribka dan mamanya.

“Emang yang punya Depok kamu doang, Ka? Di Semarang juga ada daerah yang namanya Depok,” timpal Ika yang membuat saya hanya bisa nyengir sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal sama sekali.

Warung Tenda Sari Roso di Jl.Depok, Semarang

Warung Tenda Sari Roso di Jl.Depok, Semarang

Panther hitam milik Tante Tris memelankan lajunya di Jl.Depok. Tepat di sebuah warung tenda bernama Sari Roso. Wah, wisata kuliner malam saya dimulai dengan sepiring tahu pong gimbmal khas Semarang. Yippiy!

Tahu Gimbal merupakan salah satu jenis kuliner khas Semarang yang diadaptasi dari kuliner Cina dengan rasa lokal. Sedangkan Sari Roso adalah salah satu warung tenda tahu gimbal yang cukup terkenal di Semarang. Menurut penuturan tante Tris, warung tahu pong yang paling terkenal sebenarnya ada di daerah Peloran. Namun sayang warung itu sudah ditutup dan diganti dengan rumah makan baru di kawasan pecinan, Pasar Semawis. Oleh karenanya, pilihan selanjutnya pun jatuh pada Sari Roso.

Selain tahu pong dan tahu gimbal, menu yang bisa dicicipi di Sari Roso antara lain, tahu pong gimbal emplek, tahu telur, tahu komplit, tahu kopyok telur, gimbal telur, tahu emplek gimbal, tahu emplek gimbal telur, dan masih banyak yang lain.


Hmm..pilihannya begitu banyak, cukup membuat saya bingung. Tapi akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada tahu pong emplek, tahu pong gimbal, serta tahu kopyok telur. Menu yang cukup banyak untuk kami bertiga ya? Hehe..

Semua menu yang saya pesan langsung diracik langsung oleh si penjual. Sambil menunggu pesanan datang, saya dihibur oleh musisi jalanan yang mampir menghibur para pengunjung yang cukup padat malam ini.

Hampir mirip dengan di Yogya, mereka membawa alat-alat musik lengkap layakanya penyanyi profesional dan tak ketinggalan vokal yang enak di telinga. Sebuah lagu berselang, pesanan saya pun datang. Tahu yang masih mengepul panas disajikan dalam sebuah piring putih bermotif bunga. Saus berwarna cokelat kehitaman disajikan dalam piring yang berlainan. Tak ketinggalan serutan acar lobak dan juga sambal rawit dadaknya.

Tahu pong langsung digoreng saat saya memesan, jadi benar-benar masih panas mengepul. Tahu pongnya berjumlah lebih dari 7 buah dalam satu piring. Ditambah lagi dengan emplek (seperti tahu Cina yang lembut) untuk tahu pong emplek, sebuah gimbal atau bakwan udang yang dicetak melebar untuk tahu pong gimbal, dan telur bulat utuh yang digoreng untuk tahu pong telur. Jadi, pilihan paduannya tergantung selera saja.

Cara memakannya, tahu pong disobek dan dicelupkan ke dalam sausnya, tunggu hingga meresap barulah disantap. Rasanya hmm.. enak! Tahunya gurih renyah, tak meninggalkan aroma dan rasa asam sama sekali. Saat bercampur dengan kuahnya yang manis manis manis gurih, wah.. semakin mantab saja rasanya!

Kuahnya terbuat dari kecap manis yang dicampur dengan petis udang dan bawang putih yang royal. Tambah lezat saat sambal dadaknya sudah dicampurkan ke dalam kuahnya. Huah..huah.. benar-benar pedas menggigit! Acar lobak yang diserut halus mengingatkan saya akan gari, acar jahe merah teman setia makan sushi. Rasanya krenyes..krenyes.. renyah asam segar!

Gimbal yang berupa gorengan udang dan adonan tepung agak tipis lebar. Setelah digoreng lalu dipotong-potong. Teksturnya sangat renyah dan rasanya gurih enak. Udang dan tauge yang dibalut dengan tepung dan digoreng kering bumbunya pun sangat terasa. Kriuk..kriuk.. garing dan gurih. Tahu telur kopyok paling berbeda sendiri diantara pesanan saya.

Tahu yang dihaluskan dikocok bersama dengan telur dan juga daun bawang. Yah, hampir mirip dengan martabak tapi tidak menggunakan kulit saja. Rasanya pun enak setelah tersiram dengan bumbunya. Jejak pedas yang tertinggal di lidah disapu dengan teh manis hangat.

Wah, benar-benar sedap sekali. Perut saya sudah kenyang, rasa penasaran terbayarkan sudah. Lebih senang saat membayar, karena harganya yang sangat ramah dikantong jika dibandingkan dengan porsinya yang cukup besar. Harga untuk seporsi tahu pong biasa Rp. 6.000, tahu pong gimbal Rp.11.000,00, tahu emplek Rp 6.000,00 dan tahu emplek gimbal Rp. 11.000,00. (Harga ini di tahun 2009).

Sebelum pulang, saya ditawari es serut pelangi yang kiosnya tak seberapa jauh dari lokasi saya malam itu. Namun sayang, perut saya sudah terlalu kenyang. Dengan berat hati saya menolak halus tawaran Tante Tris. Tapi, kalau besok siang pasti saya nggak akan menolak. Hehehe…

Tahu Pong Sari Roso
Jl. Depok, Semarang
Cabang:
Jl. Gajah Mada 106 (kanan jalan dari arah simpang lima)

Semarang, 29 Maret 2009

Slruup.. Sehat Unik Soyabean Shabu-Shabu

Soybean Shabu shabu

Soybean Shabu shabu

Hidangan Jepang yang satu ini terbilang unik. Kalau biasanya direbus dengan menggunakan kuah kaldu ikan ataupun daging, kini shabu-shabu hadir dengan kuah susu kacang kedelai. Isiannya komplet dan di santap dengan saus kacang almond atau saus ponzu yang asam asin. Hmm.. sehat dan yummy!!

Hidangan Jepang tidak hanya sebatas sushi saja, masih ada sashimi, ramen, udon, shabu-shabu, tepanyaki, dan lain-lain. Menjamurnya resto Jepang di Jakarta kadang memang bikin bingung. Sebagian besar citarasa nya sudah diadaptasi dengan lidah orang Indonesia. Namun, salah satu resto Jepang yang terletak di Intercontinental MidPlaza ini menghadirkan citarasa hidangan Jepang yang otentik.

Honzen Japanese Resto, adalah sebuah resto Jepang yang mulai beroperasi sejak 2004 silam, mencoba mengedepankan citarasa negeri sakura yang otentik. Memasuki resto berkapasitas sekitar 60 orang ini, suasananya sangat berbeda. Jalan yang menanjak dan sebuah kolam kecil di sisi kiri jadi pemandangan yang unik.

Ruangannya terbagi menjadi ‘table’, ‘tatami’ dan juga ‘private’. O ya, selain ruangan bersantap di Honzen juga terdapat sushi dan sashimi bar yang berada di bagian depan dan juga ruangan kushiage yang berada di bagian tengah. Jadi pengunjung dengan bebas dapat memilih ruangan bersantap yang mana.

Melihat beberapa pengunjung memesan shabu-shabu, saya pun lantas memesan menu yang sama. Satu set shabu-shabu, hadir lengkap. Sepiring irisan tipis daging sapi dan sayur mayur di piring lainnya. Seorang pelayan dengan sigap memanaskan susu kedelai dan memasukkan semua isinya.

Isiannya berupa jamur shitake, tofu, daun bawang, rebung (takenoko), sawi putih, sungiku, jamur enoki dan juga harusame(noodle glass). Sayuran dimasak tidak terlalu layu, sehingga teksturnya masih kres..kres renyah. Rasa gurih susu kedelai nya meresap ke dalam sayuran dan juga dagingnya.

Untuk menyantapnya, saya diberikan dua pilihan saus. Ponzu, saus berwarna kecokelatan mirip dengan soyu namun dengan rasa yang asin dan asam. Sedangkan saus satunya gomatare, gerusan kacang almond yang rasanya gurih. Pelengkap lainnya adalah bawang putih yang dihaluskan, cabai rawit iris,dan irisan daun bawang.

Ternyata perpaduan sayur dengan saus kacangnya menimbulkan sensasi gurih yang unik. Apalagi ditambah irisan cabai rawit yang pedas menggigit. Bikin mata yang ngantuk jadi melek! Saus ponzu yang gurih asam memberi aksen rasa istimewa saat dicelupkan pada daging rebus. Nyam..nyam..sedap!

Berbeda dengan teman saya yang lebih memilih dragon roll. Sushi roll dengan ukuran yang cukup besar ini penyajiannya cantik dan menarik. Bentuknya mirip dengan naga, dengan balutan abon sapi di seluruh permukaan sushi. Di bagian dalamnya berisis unagi alias belut panggang. Ada rasa gurih beradu dengan abon yang manis renyah. Hmm.. enak di lidah.

O ya, yang suka dengan makanan yang digoreng, bermacam-macam kushiage bisa dipilih. Sate dalam set kusiage, berisi jamur shitake, udang, asparagus, scallop, sishito alias cabai Jepang yang diisi dengan cacahan daging udang.

Sebagai teman menyantapnya, disediakan pula potongan paprika, lobak, daun bawang dan juga kol segar. Rasa segar renyahnya membuat cita rasa gurih minyak tidak terasa kuat. Sayuran mentah ini dicocol dengan saus yang terbuat dari kacang almond yang digerus bersama dengan wijen hitam dan gerusan kasar lada hitam. Hmm.. krenyes..krenyes gurih!

Untuk soyabean shabu-shabu bisa ini bisa dipesan khusus vegetarian. Isinya hanya sayuran saja.  Tapi kalau memang tidak suka dengan susu kedelai, kuahnya pun masih tetap bisa dipilih kaldu biasa. Hmm.. santap siang saya benar-benar istimewa. Potongan buah dan juga sorbet semangka menutup acara makan siang saya dengan manis.

Honzen
Intercontinental Hotel, LG Floor
Jl.Jend. Sudirman Kav. 10-11, Jakarta
Telp: 021-5707796
Jam buka: 11.30-14.00 (lunch)
17.30-22.00 (dinner)

PS: Tulisan ini pernah ditayangkan di detikfood (21 Januari 2011) dan ditayangkan kembali pada 26 Desember 2012. Namun sayang, nama penulis (saya) diganti dengan orang lain.

Hmm…Yummy! Roast Chicken Burger dan Choco Banana

Roast Chicken Burger

Roast Chicken Burger

Setangkup burger lezat dengan isian potongan daging ayam yang gurih lembut rasanya pas untuk siang ini. Ditemani segelas Ice Choco Banana pasti makin mantab saja! Kalau tak mau yang terlalu berat, coba saja Fruit Diplomat Cream Cheese yang manis lembut mengelus lidah. Penasaran?

Kalau mendengar nama resto ini Lokananta Terrace Resto, seperti teringat nama perusahaan rekaman jadoel yang sukses di masa lalu, Lokananta. Lokasinya cukup mudah ditemukan karena dekat dengan RS. Asih dan juga berhadapan langsung dengan gereja GKI di jalan Panglima Polim II.

Saat memasuki resto, alunan musik jazz seolah menyambut kedatangan saya. Suasananya sangat cozy, berbeda sekali dengan cuaca di luar yang panas terik. Ruangan Lokananta terbagi ke dalam tiga bagian, bagian teras, ruang tengah yang dekat dengan mini bar, dan juga di lantai atas.

Sebenarnya saya lebih senang duduk di luar, berhubung cuaca masih panas saya akhirnya memilih ‘nyofa’ di ruang tengah. Seorang pelayan langsung menghampiri untuk memberikan daftar menu. Menunya terbagi menjadi Light Dishes, Salad & Soup, Pastry Kitchen, Main Course dan tak ketinggalan aneka Beverages.

Saya tergiur dengan Roasted Chicken Burgernya yang terlihat yummy! Sedangkan Ice Choco Banana jadi pendampingnya. Teman saya yang ternyata tidak selapar saya memilih menu terbaru di Lokananta, Fruit Diplomat Cream Cheese dan juga teh tarik.

Sambil menunggu pesanan datang, saya asyik dengan setumpuk bacaaan yang tertata rapi di bawah meja. Tak lama berselang, Fruit Diplomat Cream Cheese pun hadir di hadapan bersama dengan Ice Choco Banana. Wuih.. tampilannya saja sudah sangat menggoda. Sluurp!

Dessert ini ditaruh dalam gelas cocktail tinggi, fresh creamnya melapisi seluruh permukaannya. Dihiasi potongan strawberry diatasnya di beri bubuk cokelat dan cokelat gulung sebagai pemanis. Saat di makan, wah ternyata ada potongan buah-buahan seperti strawberry dan juga peach di dalamnya.

Ternyata tak hanya itu saja, potongan sponge cake pun disisipkan. Wah, benar-benar lezat! Sayangnya, Fruit Diploma Cream Cheese ini kurang sedikit beku menurut saya. Seharusnya di taruh di dalam freezer dahulu sehingga agak sedikit beku, jadi akan lebih lezat seperti makan es krim.

Ice Choco Banana, seperti milkshake cokelat biasa dengan di beri beberapa scope es krim cokelat dan potongan buah pisang di atasnya. Rasanya lezat sekali, cocok sekali dengan saya yang memang penggila cokelat!

Sembari asyik menikmati Fruit Diploma Cream Cheese, Roasted Chicken Burger saya akhirnya datang. Wow.. porsinya cukup besar juga ternyata. Sebenarnya, burgernya berukuran sedang. Tapi salad pendampingnya itu loh yang cukup banyak. Onion Ring, selada, lettuce, yang dikucuri dengan dressing yang cukup unik buat saya.

Dressingnya itu kuat sekali aroma bawangnya, dan berisi cincangan paprika merah hijau. Kentang goreng dan onion ringnya renyah tidak lonyot. Daging ayamnya lembut gurih dan empuk sekali, karena berupa irisan daging paha ayam tanpa tulang yang direbus.

Bagian atasnya diberi irisan keju mozarella yang penuh. Rasanya tentu saja mulur gurih! Nyam..nyam.. lezat! Saya yang awalnya ragu untuk bisa menghabiskan sendiri, tak terasa perlahan tapi pasti seporsi Roasted Chicken Burger pun telah licin tandas. Yang saya suka porsi salad dan sayuran pengisi burger ini sangat royal!

Alunan musik jazz yang mengiringi santap siang saya membuat mata saya sedikit terkantuk. Ini juga karena suasana nyaman yang dihadirkan di resto ini dan tentu saja karena perut saya yang sudah kenyang terisi.

Lokananta Terrace Resto
Jl. Panglima Polim II/2
Jakarta Selatan
Telp: 021-7246364
Harga Mulai: Rp 9.000,00-Rp 95.000,00
Jam buka: 10.00 -21.00

*tulisan ini pernah ditampilkan di detikfood

Pecel dan Es Kolak, Bibit Nostalgia

Kereta Argo Anggrek mulai merapat di stasiun Tawang, Semarang. Perjalananku hampir usai dengan kereta eksekutif ini. Aku sudah tidak betah duduk berlama-lama di dalam kereta yang sepanjang perjalanan hanya memutarkan lagu itu-itu saja. Seperti brain wash sehari!

Kuraih ransel merah hitam yang akrab menemani semua perjalananku. Semarang siang itu cukup panas. Atau mungkin memang setiap hari seperti ini? Entahlah, aku akan mengetahuinya nanti.

Kuraih telepon selular di saku celana, kucoba ingat pesan terakhir Ribka, kawan baruku. Ia adalah orang yang dikenalkan seseorang demi untuk menemaniku bepergian selama di Semarang. Aku hanya mengetahui wajahnya melalui jejaring sosial, jadi aku masih bertanya-tanya ‘yang mana orangnya ya?’.

Tiba-tiba.

“Eka ya?”

Tepukan halus dari seseorang berwajah oriental dengan kulit bersih mengagetkan lamunanku.

“Hai, Aku Ribka. Temannya Galih” ujarnya lagi menjawab semua tanya yang terlihat di wajahku.

“Oiya, ini mamaku.” lanjutnya memperkenalkan seorang wanita paruh baya yang masih anggun penampilannya.

Setelah berkenalan dan berbasa basi soal cerita selama di perjalanan, Ika- sapaan akrabnya- dan Tante Tris mengajakku ke suatu tempat.

“Kamu pasti laper kan? Makanan di kereta pasti gak bikin kenyang!” selorohnya yang langsung kuamini dengan segenap hati.

Tante Tris mengemudikan mobilnya secara perlahan. Terkadang ia bercerita tentang kota ini dulunya. Dan menceritakan beberapa orang tamu suaminya yang unik ketika diantarkan jalan-jalan mengelilingi kota tua Semarang. Ah, pantas saja Ribka dan mamanya sangat hangat. Mereka sudah terbiasa dengan kehadiran orang baru di rumah mereka. Dan tak pernah segan untuk mengantarkan entah teman suaminya atau pun kawan-kawan anaknya untuk berkeliling di kota Semarang hingga ke kota-kota terdekat lainnya.

Udara yang panas menyengat membuat peluh berlarian tidak karuan. Berkali-kali aku menyeka keringat yang menetes hingga ke leher. Padahal pendingin di mobil sudah diatur cukup besar.

“Panas ya, Ka? Hehe.. sabar nanti juga terbiasa,” tegur Tante Tris yang ternyata memperhatikanku sejak tadi dari kaca spion tengah. Aku hanya bisa cengar- cengir sambil masih mencoba menghapus keringat yang tersisa.

Mobil Panther berwarna hitam kini memasuki wilayah Pekunden. Kawasan pemukiman ini ternyata memilliki surga kuliner yang bisa membawa nostalgia masa muda. Itu sih menurut Tante Tris. Mungkin karena ia sudah menghabiskan separuh hidupnya di kota ini.

Warung sederhana milik Bu Sri yang sudah ada sejak 30th silam

Warung sederhana milik Bu Sri yang sudah ada sejak 30th silam

‘Warung Rujak Cingur Bu Sri’ nama yang tercetak di sebuah bangunan sederhana tepat di Jl.Pekunden Timur I No.2. “Lho? Jauh-jauh ke Semarang kok malah di bawa ke warung rujak cingur?” batinku dalam hati.

“Di sini memang bukan makanan khas Semarang Ka, tapi aku jamin kamu bakalan suka bahkan nagih!” kata Ribka seperti tahu tanya dalam benakku.

Suasana warung cukup padat pengunjung. Rata-rata yang datang selalu rombongan keluarga, dan sepertinya antara pengunjung dan juga penjual sudah kenal cukup lama. Bahkan ada juga yang datang dari Jakarta seperti aku, langsung disambut manis oleh si empunya warung. Sepertinya mereka sudah saling mengenal sejak lama. Ini semakin menarik!

Jejeran meja kayu dan bangku plastik sederhana menghiasi tiap sudut warung yang sekaligus rumah dari Ibu Sri. Tiupan semilir sejuk kipas angin di sudut ruangan cukup membuat ku berhenti sejenak dari mengelap peluh yang sudah banjir sejak menjejakkan kaki di kota ini.

Seporsi pecel, rujak cingur dan juga es kolak telah dipesan oleh Ribka untukku. Pilihan menu yang ada di warung bu Sri sejak lebih dari 30 tahun silam ini beragam, diantaranya pecel kangkung, rujak Surabaya, rujak buah yang dicacah atau rujak iris. Sedangkan untuk pelengkapnya ada es kolak dengan campuran degan alias kelapa muda atau dengan bubur sumsum. Sederetan minuman segar yang tak kalah menggiurkan seperti es degan, es bubur, es dawet, es blewah, es campur dan es sirop bisa jadi pilihan yang segar di cuaca panas kota Semarang ini.

Pecel Surabaya dengan balutan saus kacang yang legit

Pecel Surabaya dengan balutan saus kacang yang legit

Sepiring cekung berisi pecel sudah tersaji dalam waktu sekejap. Irisan janganan alias sayur-sayuran rebus berselimut bumbu kacang berwarna kecokelatan menebarkan aroma harum yang bikin liur ini hampir menitik.

Suapan pertama langsung terasa renyah daun kangkung , daun kol, juga tauge yang direbus dengan tingkat kematangan yang pas. Kangkungnya bukan kangkung akar, melainkan kangkung sawah yang memiliki bentuk daun yang cukup tebal. Bumbu pecelnya terasa gurih-gurih manis dengan jejak pedas yang terasa lamat-lamat. Jejak petis yang tersisa di lidah juga sangat kuat, dan sepertinya petis yang digunakan adalah petis udang asli Surabaya yang membuat aksen pecelnya jadi lebih legit. Ah, sedap!

Tidak berbeda dengan pecelnya, rujak cingur yang disajikan juga tak kalah nikmatnya. Potongan nanas, bengkoang dan mentimun besar-besar, tak ketinggalan potongan cingur yang juga tebal, dan sayuran, membuat saya sejenak lupa kalau saat ini sedang berada di Semarang, bukan Surabaya. Hehe..

Rasa gurih dan pedasnya pecel yang tertinggal di tenggorokan segera terbilas dengan semangkuk es kolak yang manis legit. Aku memilih es kolak tanpa campuran apa-apa, karena masih terlalu ‘asing’ dengan campuran semacam degan dan juga bubur sumsum. Tapi Ribka meyakinkanku kalau es kolak degan takkan pernah mengecewakan. Hmm.. mungkin aku harus mempertimbangkan sarannya.

Es Kolak

Es Kolak

Es kolak disajikan di dalam mangkuk yang cukup besar untuk porsiku. Potongan pisang kepok, kolang kaling, kuah kolak serta ditutup dengan sirup merah dan es batu benar-benar bisa menghapus rasa panas yang menyerang sejak tadi.

Buah pisangnya matang sempurna, dengan tekstur daging buah yang kenyal lembut, rasanya makin legit antara campuran kuah kolak dengan campuran sirup merah yang menggugah selera. Sluurp!

Ah, jamuan Ribka di awal kedatanganku di kota Semarang ini benar-benar memuaskan! Sambil asyik ngobrol, mataku tertumbuk dengan pesanan meja sebelah yang sepertinya menggiurkan. Rujak potong dan gado-gado siram!

“Rujak potong di sini juga enak lho, Ka! Kamu mau coba ngga?” teguran Ribka seperti mengetahui apa yang sedang aku pikirkan saat itu.

Sayang saja perutku sudah tak sanggup menampung lebih banyak makanan. Mungkin kalau masih tersisa satu tempat, aku harus menghitung kancing demi memutuskan antara gado-gado siram atau rujak potong yang menjadi jawabannya. Haha..

O ya, semangkuk pecel ini dibandrol dengan harga Rp 7.000 sedangkan es kolak Rp 6.000, dan kurasa ini harga yang cukup murah dengan rasa yang buatku ketagihan! Dan sepertinya aku tahu harus kemana menebus rindu ketika menginjakkan kaki di kota Semarang ini lagi. Warung pecel bu Sri yang akan selalu membawa kenangan akan kota ini. Kota Semarang dengan sentuhan Surabaya.

Semarang, Maret 2009
*perjalanan 3 tahun lalu baru sempat dituliskan kembali sekarang

Rindu Motret Makanan

Sabtu,(24/9/2012) saya berjanji untuk datang ke pensi sekolah kawan saya Nelli. Tapi, karena dia ingin mengikuti kegiatan Akademi Berbagi Tangsel jadilah kami mengubah lokasi janjian yang sudah diatur diawal. Saya tiba dilokasi AkBer sudah hampir sore, itupun setelah nyasar beberapa kali karena tidak banyak orang yang tahu lokasi yang dimaksud. *nangis dipojokan*

Jujur, saya tidak tahu tema akber yang diadakan kali ini. Tidak tahu siapa pengajarnya. Dan tidak tahu siapa saja motor penggerak di akber tangsel ini. Ya, ini kali pertama saya mengikuti akber TangSel. Lokasi kegiatan  Akber TangSel ini diadakan di sebuah ruko yang biasa digunakan untuk kegiatan Akademi Berkebun.

Sudah ada sekitar 8 orang yang ada di dalam ruangan. Dan seorang pengajar di depan yang.. ummm..okey penampilannya agak nyentrik.  Itu kesan pertama yang saya tangkap. Yaa, saya bisa bilang demikian karena beliau ini mengenakan celana pendek, t-shirt, snickers, dan berkepala botak. Wow sekali! Hihihi…

Tapi saya benar-benar tidak mengenali beliau.  Usut punya usut akhirnya saya mengetahui kalau beliau ini adalah Danny Tumbelaka. Seorang fotografer profesional yang beberapa kali saya dengar nama besarnya. Tapi baru kali ini saya mendapat kesempatan bertatapan langsung dengan beliau.  Berkah di akhir pekan sekali!

Mas Danny, sapaan akrabnya, ternyata orang yang senang bercerita. Terbukti sekali dari cara ia menceritakan kisahnya yang bisa membuat saya menunggu penuh pertanyaan, terheran-heran dengan cerita hidupnya, dan menahan nafas ketika ia menceritakan pengalamannya memotret nude seorang yogi di Bali.

Sayangnya, saya tidak datang dan mengikuti acaranya sejak awal. Tapi, dari beberapa obrolan yang saya tangkap, Mas Danny menekankan bahwa untuk memotret itu tidak perlu kepentok dengan yang namanya alat. Dengan media apapun bisa. Mau kamera profesional, kamera pocket, bahkan kamera telepon genggam. Apalagi saat ini kamera pada telepon genggam sudah sangat canggih sekali. Sampai akhirnya, obrolan masuk pada soal food fotografi, bidang yang pernah saya geluti setahun yang lalu. Waaahhh, ini makin seru!

Mas Danny memberikan tips-tips menarik seputar food fotografi. Sejujurnya, kalau diajak ngobrol soal istilah foto, saya gak pernah tahu. Selama ini saya ‘nyemplung’ di dunia foto makanan pun karena pekerjaan. Tapi sekarang ini saya justru jatuh hati karenanya. Dan jadi kebutuhan diri sendiri. Dan melihat foto-foto makanan hasil jepretan Mas Danny, langsung membuat rasa rindu saya membuncah seketika.

Kebetulan sekali, besoknya saya mendapatkan sebuah undangan makan siang di sebuah resto yang cukup berkelas di Jakarta. Dan hal ini saya tidak lewatkan begitu saja. Jeprat jepret makanan pun saya lakukan. Ini dia beberapa hasilnya!

This slideshow requires JavaScript.

Beberapa menggunakan kamera pocket saya , Sonny Cyber Shot DSC-W110. Ada juga yang menggunakan kamera saku Canon kawan saya namun tipe berapa saya lupa. (Foto-foto ini tidak mengalami perubahan sama sekali, masih aslinya)

Masih terngiang dengan jelas kata-kata Mas Danny saat saya bertanya soal pencahayaan pada makanan. Beliau mengatakan, yang namanya memotret itu butuh latihan yang sering untuk melatih ‘feel’ agar lebih peka, begitu juga mengatur pencahayaan. I couldn’t agree more! Bener-bener itu yang saya rasakan.

Berhenti selama setahun dari dunia kuliner dan jeprat jepret bikin saya canggung dan kaku ketika dihadapkan dengan makanan. Kadang ada rasa “duh, ini mesti gimana ya?” atau “ini angle nya udah pas belom?” selalu saja ada kekhawatiran. Padahal dulu saya ngga pernah peduli dengan itu. Semua saya jepret. Semakin banyak semakin bagus. Tidak pernah puas, sampai akhirnya saya menemukan yang ‘paling’ oke diantara sekian banyak asal jepret itu.

Hmm…ini benar-benar akber yang membawa nostalgia. Dan saya ingin untuk terus mencobanya lagi. Mencoba untuk menyelami kamera saya kembali dan asyik untuk mencoba mengabadikan apapun lewat media apapun. Seperti kata Mas Danny, yakinkan diri dulu bahwa dengan alat apapun kita tetap bisa menghasilkan karya yang bagus.  Dan suka dengan apa yang tengah di potret itu juga penting. Hmm.. mungkin kalau bisa saya simpulkan, pede dulu ajah sama apa yang jadi hasil karya sendiri, jangan pikirkan ‘racun sesat’ orang lain. Berlatih dan resapi ‘feel’ dalam memotret, itu dua ‘kunci’ yang saya tangkap di Akber Tangsel saat itu.