Demi Eriek di Ultah Jakarta

Sabtu siang ini terlalu terik. Gumpalan putih yang biasanya berarak-arak ramai sedang absen bertugas mengganggu matahari. Alhasil, matahari agaknya jumawa. Pamer terik yang sepertinya diobral lebih dari separuh harga. Yang ada, peluh langsung kocar kacir, berlarian, seperti maling kesiangan.

Riuh rendah suara gerombolan mahasiswi membuat saya tersenyum simpul, ingat jaman kejayaan masa muda. Jaman dimana uang lima ribu bisa dapat nasi, ayam bakar plus kuah rendang yang enaknya bikin ketagihan. Belum lagi sekumpulan ibu-ibu bersama dengan anak-anak mereka yang berlarian ke sana kemari tak tentu arah. Dikira stasiun kereta lapangan bermain yang tak pernah mereka kenal semasa balita.

Ya, saya sedang berada di stasiun kereta Universitas Indonesia. Siang itu stasiun tampak tak biasa. Ramainya mengular entah sampai mana. Mereka semua punya satu tujuan yang sama, Jakarta. Saya hampir lupa, kalau ini adalah hari jadi Ibukota. Ah, selamat ulang tahun Jakarta! Tapi maaf, saat ini saya tengah menujumu bukan untuk merayakan hari jadimu.

Kereta datang, saya bergegas untuk menyebrang ke arah yang seharusnya. Saat menjejakkan kaki di lajur dua, saya tidak mendapati Mpit, kawan saya. Saya bingung mencari dia. Saya pasang mata lebih tajam mencoba mencari sosok mungil yang saya kenal. Sayangnya tak saya temukan.

“Nonaaa!”

Suara ini saya kenal betul. Saya menoleh ke arah sumber suara dari dalam kereta. Tepat ketika saya menangkap  senyum yang saya kenal sejak beberapa tahun terakhir, pintu kereta tertutup dengan suksesnya. Mpit, si pemilik senyum itu hanya melambaikan tangan. Ah, saya merasa bodoh sekali!

“Ketemu kamu kok kaya ketemu jodoh. Selalu selisipan sih?!”

Gurau Mpit melalui pesan singkat yang ia layangkan baru saja. Saya tersenyum getir. Beruntung, kereta selanjutnya datang tak berapa lama. Walhasil, saya ngobrol bareng Mpit melalui jendela chat seperti biasa. Kok ya nggak ada perubahan! Haha…

Stasiun Cawang. Persinggahan pertama saya.

Saya dan Mpit (setelah menertawakan kebodohan kami berdua) melanjutkan perjalanan menggunakan TransJakarta. Menyusuri pinggiran rel di Cawang membuat hati saya nggak keruan rasanya. Pasalnya, jarak saya dengan rel terlampau dekat. Ngeri saat saya membayangkan terpaan angin saat kereta lewat akan menyambar saya seketika. Wuush!

Tapi pikiran itu saya usir segera. Pedagang kaki lima berjajar, berhimpitan dengan manusia yang lalu lalang di depannya. Saya yakin, mereka berdagang tidak hanya hari itu saja, melainkan berhari-hari sebelumnya. Buktinya mereka aman-aman saja. Jadi, kenapa saya harus khawatir?

Shelter Cawang siang itu tampak ramai. Terlalu ramai malah. Imbas dari gratisnya tiket TransJakarta membuat orang berbondong-bondong, jalan-jalan menggunakan alat transportasi umum ini. Tak salah memang. Tapi akhirnya penumpukan penumpang terlihat hampir di semua shelter yang ada di Jakarta. Jumlah armada yang beroperasi tak sebanding dengan tingginya minat pengguna hari itu. Hufff…

Hawa Jakarta semakin memanas. Aroma yang tercium lamat-lamat bukan lagi parfum harum, tapi sudah berbaur dengan aroma lain, tengik rambut yang terbakar matahari, asem ketiak yang membuat saya nyaris pingsan tidak tahan. Segerombolan pemuda, mungkin sekitar 14-17 tahun usianya, berbicara dalam volume suara macam di gedung pertunjukkan saja. Berisik!

Belum lagi perempuan berambut panjang di sebelah saya yang sedikit-sedikit mengibaskan rambutnya. Sekali kibas mata saya langsung kecolok! Lain lagi dengan wanita separuh baya, berkaca mata dan tampak serius dengan buku yang dipegangnya. Tak sekalipun ia berniat untuk menghentikan kegiatan membacanya, padahal bis sangat sesak ditambah ritme rem TransJakarta yang bisa bikin otot lengan langsung kekar karena menahan beban tubuh supaya tidak terjungkal. Namun sayang, saya tak berhasil menangkap judul buku yang dibacanya.

TransJakarta nampak di kejauhan. Fatamorgana di jalan mengaburkan bayangan bis besar berwarna merah-oranye terang. Decit ban hitam yang beradu dengan aspal terdengar seirama dengan langkah tergesa kaki pengunjung di koridor 10. Penumpang yang ada di dalam TransJakarta menghambur keluar, pun yang ingin masuk berdesakan takut ketinggalan.

Saya masih berdiri di antrian. Tidak berniat beranjak, pun percuma karena penampakan TransJakarta lebih mirip kaleng sarden ketimbang bis kota. Sesaknya kebangetan!

Kini saya berada di deretan paling depan. Orang-orang di belakang saya masih umpel-umpelan mencoba menjajari barisan depan. Saya mencoba pasang kuda-kuda lebih kuat sekarang. Tak mau jatuh konyol hanya karena ulah orang-orang tak tahu aturan yang asyik dorong-dorongan.

Sebuah sedan putih susu melintas di depan saya. Di sampingnya sedan Polisi mengawal sangat rapat sambil mengeluarkan suara lewat pengeras suara. Si sedan melanggar aturan! Ia masuk ke jalur TransJakarta seenaknya saja. Pak Polisi berbadan tegap segera menghampir dan meminta si pengendara mengeluarkan tanda pengenalnya. Agak lama proses engkel-engkelan  terjadi. Mungkin si pengendara meminta jalan damai, terlanjur malu dia tertangkap tangan di depan orang-orang. Tapi sepertinya si Polisi tak memenuhi permintaannya. Ia tampak kesal. Mukanya kian ditekuk. Dinaikkannya kaca jendela dan gas ditancap dengan kencangnya. Pak Polisi menggeleng-geleng melihatnya.

Pada akhirnya, ‘Money can buy brand but not brain’. Saya dan Mpit hanya saling tatap dan senyum-senyum saja.

TransJakarta selanjutnya datang. Tidak banyak perbedaan dengan yang sebelumnya. Masih penuh sesak! Saya tak bisa lagi menghindar. Mengikuti arus hanya pilihan satu-satunya. Di dalam, sudah tak ada lagi perbedaan mana area wanita mana area pria. Semua tumplek blek jadi satu. Saling dorong, saling himpit, muka sinis, jidat berkerut jadi pemandangan umum sekarang. Saya? Hanya bisa tersenyum sambil membatin “Demi Eriek!”.

Mpit nyolek saya kemudian. “Demi mas Eriek nih ya Non..” Haha..ternyata kami satu pikiran. Ya, memang perjalanan ini kami sengaja lakukan untuk menemui sahabat kami yang sedang pulang ke Indonesia, Eriek. Awal tahun kemarin, saya tak sempat bertemu dengannya.

Siapa sangka kalau ternyata ultah Jakarta tahun ini begitu luar biasa imbasnya. Pemilihan kami di Jakarta barat bukan tanpa alasan. Jalan protokol, Sudirman hingga Thamrin ditutup sejak puluk 4 sore hingga acara usai. Tak ayal, pusat perbelanjaan dan hang out di sekitarnya pun tutup lebih awal demi merayakan ultah Jakarta yang katanya lebih merakyat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sampai di shelter Semanggi, penumpang sudah berkurang setengahnya. Ternyata benar dugaan saya, semua orang memang ingin menuju satu tujuan yang sama. Lagi-lagi saya dan Mpit hanya saling tatap dan tertawa cekikikan.

Wah.. Jakarta memang betul-betul butuh hiburan! Penat mereka dihajar rutinitas yang itu-itu saja apalagi ditambah problematika yang rasanya lebih drama dari sinetron Tersanjung atau Cinta Fitri. Tak heran ketika ada sebuah perhelatan besar di pusat kota, semoa orang dari penjuru Jakarta bahkan daerah penunjang di sekitarnya ikut larut dalam keriaan. Mencoba mencuil sedikit saja bahagia yang coba ditawarkan Jakarta.

Ternyata, keramaian ini berlangsung hingga larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika saya keluar dari pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Barat. Kami; saya, Mpit, dan juga Pinkih memilih pulang menggunakan kereta. Lebih cepat alasan utama kami, dan lebih aman ketimbang kami, perempuan-perempuan manis ini harus berjuang di dalam bis kota, yang entah apakah masih beroperasi atau tidak.

Taksi jadi alternatif transportasi ketika yang lain sudah tidak bisa diharapkan. Kenapa? Jalanan menuju Depok amat panjang dan tentunya akan berbarengan dengan orang-orang yang akan pulang setelah lelah merayakan pesta rakyat. Macet tentu saya hindarkan sebisanya.

Benar saja dugaan saya. Jalan menuju stasiun kereta terdekat padat bukan main. Padahal jarak tempuh normal hanya 10 menit, tapi malam itu saya habiskan nyaris satu jam. Damn! Tutupnya beberapa ruas jalan memang menjadikan jalan yang saya pakai lebih mirip dengan parkiran ketimbang jalan raya. Tua muda tumpah ruah di jalan. Meniupkan terompet bernyanyi riang serta bersenda gurau. Saya sempat rancu, ini seperti bukan perayaan ulang tahun Jakarta saja, tapi lebih mirip malam tahun baru. Hehehe…

Tiba di Stasiun Juanda. Saya bergegas menuju lantai dua untuk membeli tiket commuter line selanjutnya. Commuter Line sebelumnya sudah bergerak meninggalkan stasiun Juanda ketika saya masih asyik di antrian lampu merah Harmoni.

Pukul 22.45 saya berdiri di depan loket. Satu stasiun lagi commuter line saya tiba. Deg-degan bukan main rasanya. Ssaya harus membeli tiket lekas-lekas dan bergegas berlari dengan cepat. Ah, moga-moga saja masih sempat. Tapi sayang, keberuntungan bukan dipihak saya. Beberapa orang tiba-tiba memotong antrian tepat di depan saya. Saya yang sudah dihajar lelah sejak sore mau tidak mau harus menegurnya.

Untung saja, orang ini mau mendengar dan berdiri mengikuti antrian. Tapi ternyata dia bukan satu-satunya. Ada segerombolan anak muda, serta ibu-ibu bersama dengan balitanya yang terlihat lelah teramat sangat, langsung menyodorkan uang persis di loket. Oh Tuhan!

Saya kembali menegur. Tapi sayang, ia tidak terima begitu saja, justru malah mengajak saya berdebat panjang. Berdalih mengejar commuter line yang sedang menuju stasiun Juanda. Heeeeyyy.. bukan hanya anda yang sedang diburu waktu. Tapi semua orang yang ada di antrian ini! Kali ini si Ibu yang angkat bicara, anaknya terlalu lelah jadi harus segera pulang, itu dalihnya.

Kali ini saya bicara agak tinggi (Oh Tuhan, maafkan saya yang terpancing emosi), “Kalau ibu tidak mau melihat anak Ibu kelelahan seperti ini, seharusnya Ibu sudah pulang sejak tadi. Lagipula ini bukan jam yang lazim masih mengajak anak keliaran di jalan, Bu.” Kali ini, suami istri itu diam. Mereka bersama dengan gerombolan anak muda yang langsung memilih tutup mulut mundur perlahan. Mpit mengamini omongan saya. Enggan sebenarnya jika saya harus beradu argumen dengan orang di tempat umum.

Debat kecil membuat kami terlambat mendapatkan commuter line pukul 22.50. Pilihan lainnya, kami harus menunggu hingga jam 12 malam. Itu kereta terakhir yang berangkat dari stasiun kota. Dan saat ini posisinya masih ada di stasiun Depok. Oh, my!

Tapi, kami tidak putus akal. Kami tetap menikmati malam itu dengan suka cita. Melihat gelagat masyarakat urban yang tengah bergembira, ya seperti kami ini. Semua gadget milik kami sudah terkikis baterainya sejak sejam lalu.

Stasiun ramainya mirip pasar kaget. Anak-anak kecil berlari-larian, tidak ada rasa kantuk sama sekali. Yang muda bercerita sambil bersenda gurau sambil asyik nggebet gerombolan lainnya. Tidak sedikit yang menggelar tikar yang mereka bawa hanya untuk sekadar meluruskan kaki yang pegal setelah jalan sepanjang malam atau menidurkan bayi-bayi mereka. Ya, bayi. Tubuh kecil mereka sudah harus dibiasakan dengan udara malam serta pengapnya stasiun. Ck! Harusnya kalian sudah tidur pulas di ayunan, Nak.

Puncak malam itu ditutup dengan letupan kembang api yang bersahutan dekat Monumen Nasional. Liuk lampu warna warni menambah hangat suasana malam itu.

“Kembang apinya cantik, suasanya romantis, tapi kok ya aku harus nikmatinnya bareng kalian lagi..kalian lagi..”

Celetuk Mpit kontan membuat saya terbahak-bahak dibarengi jitakan halus Pinkih yang mendarat sempurna di jidatnya. Ya ya ya.. mungkin memang belum waktunya kamu menikmati kembang api bareng dia ya Mpit. Hihihi..

“Ah, aku sih masih tetep mau nikmatin sarsaparila dingin di Kaliurang. Ndak cuma wedang ronde alkid bareng kamu, Non,” seloroh Pinkih yang membuat saya mengulum senyum.

Ya, kedua kawan saya ini memang punya mimpi sederhana tentang menikmati malam romantis. Entah dimana atau dengan siapa. Kalau saya masih tetap sama. Menikmati purnama di tempat tinggi sambil menyesap secangkir kopi. Pun kalau tidak, saya masih tetap senang meneguk sarsaparila dingin di Jogja seperti mimpi Pinkih yang pernah kami cetuskan bersama.

Tapi, sebelum semua itu terjadi, kami bertiga tetap senang menikmati kembang api sederhana yang membawa senyum bahagia tersungging dari wajah-wajah lelah yang duduk manis di stasiun Juanda. Bahagia menikmatinya meski bukan dengan orang terkasih, melainkan kawan baik berbagi penat pikiran.

 

Commuter Line menuju Depok, 23 Juni 2013
*Mpit dan Pinkih sudah ngacir ke alam mimpi di kiri kanan saya.

Advertisements

Surat Untuk Nelli

meandnelli

Tak terasa, hari yang paling kamu tunggu akan segera datang. Cukup satu tangan saja untuk menghitung mundur hari besarmu. Hari yang selalu kamu bicarakan dulu sekali. Hari yang sering kita jadikan obrolan saat petang merayap datang di sabtu malam sambil berbincang-bincang layaknya orang pintar. Yaa, kita memang pintar bukan? Hehe

Tiba-tiba saja aku mengenang banyak hari yang kita lewati bersama. Mungkin benar kata orang, wanita memang senang menyimpan kenangan. Tapi buatku, kenangan ini memang layak untuk disimpan dan dibuka kembali suatu hari nanti. Sedangkan aku, memilih sedikit membukanya hari ini.

Mungkin aku akan sangat merindukan hari-hari dimana kita selalu menghabiskan Sabtu malam bersama. Bukan malam minggu yang banyak dinanti setiap pasangan. Sabtu malam kita, membicarakan hal-hal paling happening saat itu atau hanya sekedar diam dan saling mendengarkan.

Cerita senang, tawa bahagia, gundah di hati, atau bahkan duka yang sering kita lewati tentu akan selalu jadi momen paling kurindukan dari sekian banyak kebersamaan kita. Mungkin aku terdengar seperti orang yang patah hati. Tapi aku tidak merasakan itu semua. Kehilangan mungkin, tapi sedih? Tentu itu tak aku rasakan.

Terlalu banyak cerita terpilin diantara kita, dan terlalu sulit untuk aku ceritakan kembali satu-satu. Semuanya sudah terekam manis di sini. Di hati. Sebentar lagi, akan ada ksatria manis yang akan menjagamu. Tandanya, tugasku menjagamu sudah selesai. Tapi, peranku sebagai sahabatmu tentu tidak akan pernah selesai sampai kapanpun.

Beberapa hari lagi, statusmu sudah berubah. Bukan lagi sebagai Nona Guru, tapi akan berubah menjadi Nyonya Heru. Tak banyak pesan yang kuberikan untukmu, hanya doaku satu semoga kamu bahagia selalu. Membina keluarga yang selalu mendapatkan restu dan diberkahi anak-anak yang lucu. Baik itu Kama atau pun Cakra, siapapun nama mereka nantinya.

Selamat berbahagia, kamu! Doaku selalu teriring sejak dulu, kini, dan nanti… Jadilah istri dan Ibu yang selalu membanggakan untuk keluargamu. Dan tetap jadi sahabat kecilku yang selalu bisa kuandalkan setiap waktu. Meski fisik tak lagi bisa bertemu selalu.

 

Dari aku yang selalu menyayangimu..

 

Nona Wulan 🙂

Cinta itu Strawberry

hari berganti hari, puluhan matahari telah terlewati namun rasa itu akan selalu datang menebar rasa manis atau asam yang mengejutkan. siapkah kamu untuk rasa yang enggan hilang?

Bicara soal cinta. Hmm..siapa sih yang gak kenal dengan soal yang satu ini?! Topik cinta selalu saja jadi obrolan asyik untuk siapa saja. Tak terkecuali untuk saya dan kawan-kawan malam itu.

“Menurut Cikgu, cinta itu apa sih?” celetuk Syira, salah satu teman di asrama yang sedang asyik mengerjakan tugas presentasi di kamar saya. “Kalau menurut aku, cinta itu seperti jus alpukat. Enak, yummy!” serunya.

Unna, yang agak ‘alergi’ tiap kali ngomongin cinta langsung bergidik dan meminta kami membahas hal lainnya. Berbeda dengan Mey, adik kecil yang satu ini hobi sekali membahas soal cinta, hubungan antara pria dan wanita, serta soal hati.

Hehe, unik memang. “Nah, kalau menurut Cikgu cinta itu apa?” pertanyaan itu diulang kembali. “Hmmm.. pertanyaan yang gampang. Tapi susah jawabnya,” ujar saya sambil berpikir.

“Cinta itu strawberry,” ujar saya tiba-tiba.

“Strawberry? Maksudnya?” tanya mereka serempak.

Hmmmm….” ada jeda panjang sebelum saya menjelaskan hal ini. Sejujurnya, saya tidak terlalu mengerti apa arti cinta sebenarnya. Perasaan seperti apakah cinta itu. Tapi kalau dikaitkan cinta antara pria dan wanita, mungkin jawaban saya seperti tersebut di atas.

Sederhana saja pemikiran saya.

Cinta bisa diibaratkan seperti buah strawberry. Warnanya yang merah nan cantik itu selalu menggoda siapa saja yang melihatnya. Tidak tahan untuk tidak dipetik dan dicicipi. Seperti halnya cinta yang datang dan menyapa siapa saja. Menggoda setiap orang untuk ‘jatuh’ dan merasakan sendiri sensasinya.

Meskipun warna strawberry merah menggoda, namun rasanya masih belum bisa diprediksi. Demikian dengan cinta. Godaan yang datang memang menggiurkan, tapi apakah cinta akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan? Belum tentu juga.

Rasa strawberry ada yang manis segar, tapi ada juga yang asam menggigit. Padahal, warnanya sama-sama merah! Biji-biji kecil berwarna hitam yang ada dipermukaan buahnya memang mengganggu di lidah, tapi tetap saja dimakan sampai habis bukan?

Cinta juga tak kalah menarik. Saat akhirnya memilih melabuhkan cinta, kita tidak pernah tahu cinta seperti apa yang akan kita dapat. Apakah akan manis hingga akhir? Atau akan masam dan membuat kita memilih berhenti dan mencari cinta yang lain.

Dalam cinta, pastinya tidak selalu mulus. Selalu saja ada rintangan yang datang dan harus dihadapi. Rintangan itu ibarat biji strawberry yang memang harus dimakan sepaket dengan buahnya. Ketika kita mendapat strawberry dengan rasa yang asam, kadang kita malas untuk memakannya lagi.

Tapi suatu hari rasa penasaran akan muncul kembali dan memaksa kita untuk mencoba kesekian kalinya.

Seperti itulah cinta. Ketika kita gagal hari ini dan merasa malas untuk bermain dengan cinta, akan datang suatu hari nanti rasa penasaran dan haus untuk meneguk rasa cinta yang memabukkan.

Bahkan ada juga orang-orang yang tidak pernah menyerah untuk mencicipi cinta meskipun barkali-kali jatuh dan terpuruk karenanya. Orang-orang yang gigih untuk mendapatkan manisnya cinta, seperti memilih strawberry. Ketika sekali mendapatkan rasa yang asam, tidak lantas membuatnya patah semangat untuk mendapatkan strawberry yang manis. Lagi…lagi..dan lagi.. Dicoba hingga akhirnya menemukan buah yang rasanya manis.

Jadi, buat saya cinta itu ya strawberry. Meskipun tidak melulu manis bahkan cenderung asam saya tetap saja mencicipinya. Nggak kapok kalau nanti bakalan dapat rasa strawberry yang kecut kayak ketek (kayak pernah nyicip ajah, hehe) atau mungkin saya beruntung langsung mendapat strawberry dengan rasa manis yang pas. Pas di lidah, dihati,bahkan di lambung. Ngga bikin maag kambuh!

Dan semoga saja saya menemukan cinta yang pas. Pas dicari pas dapet. Pas dihati, pas di ortu. Pas dilamar eee..pas nerima. Hehehe..semuanya serba PAS! Yaa,seperti strawberry yang manisnya pas! 😀

Nah,bagaimana cinta menurutmu? ^^

16 November 2011

Membuka kenangan kadang memilukan namun kadang menyenangkan. Dan aku memilih membuka kenangan manis bersama saudara selama di perantauan.

Aku, Kamu, atau Status Kita?

Tak ada pesta yang tak pernah berakhir. Sebuah kalimat sederhana yang terus menerus terngiang di kepalaku ini (bahkan untuk kawanku yang buang hajat saat ini, ah sial dia telah membuyarkan pikiranku!).

Bukan hanya hubungan pernikahan saja yang bisa berakhir (perceraian ataupun kematian), hubungan sebatas pacaran juga bisa berakhir. Pun dengan persahabatan. Namun yang terakhir ini bukan dalam konteks negatif tentu saja.

Tak peduli sedekat apapun hubungan ku dengan sahabat-sahabatku, sebuah pernikahan pasti (dan telah) mengubah banyak hal. Apa yang bisa kulakukan saat ini selain mengikhlaskan dan turut bahagia?

Sebelum membaca terlalu jauh, tolong jauhkan pemikiran mu tentang aku yang iri akan kebahagian mereka. Tidak tentu saja! Tidak ada rasa iri sedikitpun terbersit untuk kebahagiaan dia, mereka, sahabatku. Untukku, kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan ku juga. Tak sedikit sahabatku yang menikah dengan pacar yang dulu memang aku jodohkan. (Alhamdulillah)

Dulu, kali pertama seorang sahabat menceritakan perihal rencana pernikahannya, setitik kristal bening jatuh membuat garis mengkilap di pipiku. Ini bentuk bahagiaku.

Satu persatu sahabatku berpamitan untuk menikah. Aku tetap antusias, tetap senang, tetap gembira. Tapi tidak dengan hatiku. Ada dingin yang menelusup perlahan namun pasti menyergap tiba-tiba. Membuatku kelu, membeku terpaku dan aku sulit untuk mengutarakannya.

Sekali lagi kutegaskan, ini bukan rasa iri!

Aku hanya merasa kehilangan. Kehilangan waktu bersama dengan mereka. Kehilangan tawa canda yang biasanya kami habiskan bersama. Mungkin aku egois, dan yang yang kupikirkan hanya keakuanku saja. Sampai akhirnya aku menghilang karena merasa terabaikan. Namun  itu semua ternyata salah. Bukan itu seharusnya seorang sahabat yang baik. Aku ternyata belum menjadi seorang sahabat yang baik untuk mereka.

Sedihku makin menjadi ketika seorang sahabat enggan menceritakan perihal kebahagiaannya menemukan belahan jiwanya. Hanya karena dia takut melukai hatiku hanya karena aku belum berpasangan saat ini. Oh Tuhan, sebegitu egoiskah diriku sampai-sampai sahabatku sendiri enggan untuk berbagi kebahagiaan hanya karena takut aku terluka?

Dan hari ini, aku mendapatkan kabar bahagia kembali. Salah seorang sahabatku akan menikah dalam waktu dekat. Perasaanku campur aduk (aku hanya berusaha jujur). Hanya mempertanyakan, “akankah aku kehilangan waktu bersamanya juga?”

menggenggam bukan mengekang namun menguatkan

  Dear you, saat aku menuliskan ini tolong buang jauh-jauh pemikiran negatif mu. Aku hanya berusaha  jujur dengan diri sendiri, dan tentunya dengan mu. Jauh di lubuk hatiku, bahagia ku hanya untukmu. Kuselipkan doa semoga segala persiapanmu dimudahkan. Dan kuyakin doa mu pun terangkai untukku. Semoga tidak ada yang berubah diantara kita. Cukup statusmu saja. Dari Nona menjadi Nyonya..

 trully yours

 

29Juli2012

When they said: “I Do!”

Rasa haru kadang datang bukan karena duka, bukan juga bahagia, namun merayap karena memori yang terbuka. Haru yang menelusup kadang menyesakkan, namun kadang juga menyenangkan. Membuncah membuyarkan lamunan dan membentuk serangkaian pemikiran.

Seperti sore ini, rasa haru ini begitu kurang ajar! Ia datang tetiba, membuat mata ini buram karena tak kuasa membendung bulir air mata yang terasa hangat membelai pipi. Haru  yang campur aduk rasanya, membuat senyum tersungging sempurna disela air mata yang masih saja merembas seenaknya.

In a while, in a word,

Every moment now returns.

For a while, seen or heard,

How each memory softly burns.

Facing you who brings me new tomorrows,

I thank God for yesterdays,

How they led me to this very hour,

How they led me to this place...”

Sepenggal lagu ‘Two Words’ milik Lea Salonga mengalun, menguntai nada indah, menemani saya menikmati indahnya langit sore yang cerah. Membawa kenangan manis setahun lalu mampir kembali sore ini.

Di sebuah Gereja di pinggiran kota, seorang pria tampan berjas hitam berdiri dengan gagahnya berjalan menuju altar. Sikap tenangnya tidak juga menutupi rasa gugup yang menggayut halus di wajahnya. Hari ini adalah hari yang paling dinantinya setelah 8 tahun perjalanan yang berlalu tidak tanpa suka dan duka.

Perjalanan panjang untuk dapat meminang gadis manis berbalut gaun putih panjang yang kini tengah menggamit lengan kanan si pria dengan lembutnya sambil sesekali tersipu malu.
“Ah betapa cantiknya ia. Tak pernah kulihat ia begitu cantik memesona seperti hari ini,” mungkin itu yang ada di dalam pikirannya saat berjalan bersisian dengannya. Ada rona bangga dan rasa lega yang tersirat saat seluruh mata tertuju kepada mereka dan mengantarkan pasangan berbahagia itu dalam jutaan doa menuju altar pemberkatan. Sorot mata bahagia menghilangkan ragu, menyapu gelisah yang sejak pagi iseng menggoda.

Every touch, every smile,

You have given me in care.

Keep in heart, always I’ll,

Now be treasuring everywhere.

And if life should come to just one question,

Do I hold this moment true?

No trace of sadness, A

lways with gladness…

‘I DO…’

Janji manis nan sakral di hadapan Tuhan serta Pastur yang mengikat hubungan mereka membuat semua yang hadir merasakan getaran haru yang begitu syahdu. Sebuah simbol pengikat melingkar di masing-masing jari manis mereka yang dipasang dengan penuh cinta.

"I face each moment, no trace of sadness, always with gladness with you"

“I face each moment, no trace of sadness, always with gladness with you”

Now a song that speaks of now and ever,

Beckons me to someone new,

Unexpected, unexplored, unseen,

Filled with promise coming through.”

Kini, tak ada lagi yang menghalangi jalan cinta yang mereka jalin. Janji sehidup semati di hadapan Tuhan membawa mereka menjadi manusia yang baru. Menjadikan mereka satu dalam doa setiap hati yang hadir kala itu.

You and I forever change,

Love so clear, never blurred,

Has me feeling wondrous, strange,

And if life should come to just one question,

Do I face each moment true?

No trace of sadness, always with gladness, ‘I DO…’

Never with sadness…

Always with gladness… ‘I…DO….’ “


Kemarin, masih ada ‘aku dan kamu’ tapi kini semua berubah menjadi ‘kita’.  Dan ini bukan lah akhir dari cerita cinta yang telah diperjuangkan selama delapan tahun, namun menjadi sebuah awal yang baru menjalani sebuah kehidupan yang dinamakan ‘bahtera rumah tangga’. Semoga perahu yang berlayar ini selalu dijalani dengan penuh suka cita dan cerita bahagia meski badai pasti akan terus menggoda.

Denting piano yang mengiringi Lea Salonga tuntas membawa keharuan yang begitu menggebu di hati saya. Hanya sepenggal doa untuk mereka – pasangan yang berbahagia yang tersenyum saat melangkah keluar dari Gereja – sahabat saya tercinta, Lesti & Iwan. Semoga bahagia tak pernah sungkan mampir di rumah tangga kalian.Kini dan nanti.

With love,

the happiest sister :’)

(thank you for allowing me write the happiest moment of you,dear)

My warmest place, 07082012