Sebuah Pelukan

Perjalanan ribuan kilometer jauhnya kadang tidak hanya membawa efek lelah pada fisik semata, tapi juga hati dan pikiran. Kadang ada hal-hal yang tidak bisa diduga saat melakukan perjalanan. Inilah yang membuat lelah yang bertumpuk, menggunung, dan kadang melebihi batas maksimal seharusnya.

Seperti semalam, saya tiba di Jakarta dengan penerbangan terakhir dari Makassar dengan menggunakan maskapai penerbangan yang katanya kalau promo paling murah (padahal mahal juga). Saya sudah tidak tahu bagaimana rupa saya semalam. Lelah yang menggunung membuat pertahanan tubuh saya drop ke titik paling rendah. Mungkin di bawah nol. Lelah fisik saat itu semakin jadi karena hati saya yang gelisah dan otak saya yang enggan berhenti memutar banyak rekam gambar kejadian.

Dua jam penerbangan ini terasa menyiksa. Buku tidak lagi menjadi solusi saya dalam mengahalau resah. Roti dan susu hangat tak juga membuat mata saya terpejam sebentar saja. Turbulensi di pesawat semakin memperparah keadaan saya.

Kalau sudah begini yang saya butuhkan hanya satu, sebuah pelukan. Saya butuh pelukan hangat Ibu saya. Saya hanya butuh kecup penuh cinta di kening saya untuk mengusir semua lelah dan resah yang sejak tadi menguasai perasaan saya.

Tiba di rumah malam sudah terlalu larut, namun saya masih tetap disambut dengan sebuah pelukan paling hangat yang pernah saya rasakan selama ini. Benar kata orang, kalau pelukan itu menyembuhkan terlebih pelukan seseorang yang melakukannya dengan tulus atas nama cinta. Entah siapa saja orangnya.

Ah, saya traveler mellow? Entah apa kalian akan menyebutnya. Tapi satu hal yang pasti, ada banyak hal yang membuat semua ini terjadi. Dan pertahanan diri saya runtuh tadi malam. Saya butuh me-recharge diri saya kembali. Menyepi, mungkin jadi solusinya. Saya ingin berdiskusi dengan diri saya lagi apa saja yang sudah terjadi beberapa hari terakhir. Mungkinkah ini berkaitan dengan banyak firasat yang bersliweran belakangan? Entahlah.

 

Kemang, 26 Februari 2013

Advertisements

Kenapa Menulis

Kenapa menulis? Pertanyaannya sederhana, tapi kadang saya bingung menjelaskannya. Alasan saya mungkin sama dengan sebagian besar orang pada umumnya. Tapi, ada beberapa alasan yang paling mendasari alasan saya memilih untuk menulis. Ini dia beberapa poinnya:

1. Lost Short Term Memory. Saya memiliki masalah dengan ingatan. Sejak sakit di masa sekolah dulu, ada beberapa hal yang mengganggu syaraf memori saya. Apapun yang saya bicarakan, pikirkan, bisa hilang begitu saja. Bahkan untuk kata-kata yang sudah ada di kepala.

2. Remembering Moments. Saya suka mengingat momen, bahkan untuk obrolan paling absurd yang saya lakukan dengan kawan. Setidaknya ada hal yang menurut saya bisa dipelajari atau mungkin sekadar mengingat kejadian itu. It’s priceless!

3. Perkaya Rasa. Dengan menulis, saya mencoba memperkaya rasa. Rasa apapun yang ada di hati, saya coba tuangkan ke dalam bentuk tulisan. Dengan begitu saya masih bisa peka dengan lingkungan sekitar, dan masih bisa bersosialisasi dengan manusia lainnya.

4. Menyembuhkan. Yang ini kok kesannya saya gila ya? Hehe. Jadi begini, saya selalu punya makhluk kecil di kepala yang selalu berbicara banyak hal dan berkomunikasi dengan hati dan batin saya. Dan pada akhirnya obrolan saya selalu tumpah ruah dan saya harus menuangkannya dalam tulisan. Jika tidak dilakukan, saya bisa uring-uringan. Menulis jadi salah satu ‘obat’ nya.

5. Penyaluran Emosi. Saya tipe anak yang ekspresif cenderung moody. Saat ini bisa sangat senang dalam hitungan detik bisa sedih dan seketika bisa kembali ceria. Ada emosi yang meluap-luap di hati saya saat melihat kejadian apapun itu. Biasanya saya tidak mau menyimpannya terlalu lama di hati, jadi saya tuangkan untuk bisa dibuka kembali di suatu sore nanti.

Ketika tulisan yang saya buat itu dibaca dan dikomentari orang lain, ada rasa senang yang tidak bisa saya deskripsikan. Bentuk apresiasi sederhana walaupun kecil kelihatannya, tapi punya imbas yang cukup besar. Buat saya pribadi, komentar apapun bisa jadi picu untuk terus menulis. Tidak pernah puas hanya dengan satu tulisan saja. Menulis itu candu! Hehe..

Saya masih ingat komentar Hilda, kawan saya, beberapa tahun lalu. “Ka, kenapa nggak coba nulis novel?” ucapannya kala itu membuat saya berpikir. Tulisan saya masih sangat jauh dari kata layak untuk diterbitkan dan masih belum konsisten. Jadi, untuk langkah awal saya mencoba mencambuk diri saya dengan mencoba konsisten menulis. Salah satunya melalui blog ini.

Genre tulisan saya juga masih belum terlihat. Awal-awal menulis saya sering menulis jurnal dan kejadian yang saya alami di jalanan (dulu saya sering berada di jalan). Menurut Isal, kawan monyet saya, tulisan-tulisan saya cenderung komedi. Dia selalu menagih tulisan lucu saya lainnya. Tapi ternyata itu sementara. Semakin kesini saya jarang menulis itu. Apa mungkin selera humor saya menurun ya? Hmm…

Sempat vakum menulis cukup lama, lebih dari setahun. Ada sedih yang tak bisa dibendung ketika ada seseorang yang menantikan tulisan kita, tapi saat itu kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kesibukan menjadi alasan utama.

Terakhir adalah Jonathan, kawan saya di Surabaya. “Kamu gak perlu jadi orang lain, jadi aja diri kamu sendiri. Gak  perlu jadi Dee idola kamu itu, dan gak perlu jadi Atre juga yang kamu sukai gaya penulisannya. Kamu ya kamu, dan buat saya kamu itu kayak Hilman yang terjebak dalam tubuh Dee *please jangan bayangin* dengan unik yang kamu punya sendiri. Setidaknya itu buat aku pribadi.”

Haha entah itu pujian atau cercaan, tapi saya cukup terhibur dengan kata-katanya.

Intinya, saya menulis ingin memuaskan hati saya terlebih dahulu. Sukur-sukur kalau ada yang baca sampai akhirnya ninggalin jejak.. hihi.. Diseriusin sampai jadi buku? Itu mungkin impian saya selanjutnya, tapi tentu tidak semudah itu. Saya masih harus terus berlatih. Dan kritikan, adalah salah satu cara untuk tahu sejauh mana pembaca menyukai tulisan ini.  Hohoho… semangat! 😀

 

Jakarta, 11 Oktober 2012
*tulisan ini saya temukan saat sedang merapikan file-file tulisan yang berceceran. Ternyata saya pernah menulis ini tahun lalu. Hehe.. semoga jadi cambuk semangat saya hari ini dan seterusnya dalam menulis. 🙂

Wujudkan Mimpi di My Selangor Story 2013

My Selangor Story 2013 seperti sebuah mimpi yang sempat tertunda. Ya, mimpi ini memang sempat tertunda di tahun 2011. Tapi kali ini saya  meyakini bahwa mimpi ini akan segera diraih. Saya yakin puzzle-puzzle mimipi saya akan siap berjalan bahkan berlari, maka saya sudah mempersiapkan diri untuk berlari bersama mimpi dan mewujudkannya kali ini.

My Selangor Story 2013

Info My Selangor Story 2013 saya dapatkan dari seorang kawan saat membagi halaman MySelangorStory di jejaring sosial. Tanpa perlu pikir panjang lagi saya langsung mengunjungi situs yang dimaksud. Ini seperti mengulang kembali kejadian 2011 silam, dimana saya mendapatkan info tersebut dua hari sebelum hari penutupan. Sedih rasanya!

Ini kali pertama saya mengikuti sebuah kompetisi blog. Saya sering bertanya-tanya, “Kapan giliran saya menjadi salah satu pemenang karena nge-blog ya?”. Banyak teman saya berhasil jalan-jalan, mulai dari keliling negeri sendiri hingga menjelajahi negeri Eropa hanya karena menulis di blog. Jadi menurut saya, tidak ada salahnya jika saya mencoba, siapa tahu My Selangor Story 2013 menjadi ‘jembatan’ saya untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu.

Sejujurnya, saya belum pernah menginjakkan kaki di Malaysia terkait liburan. Semua hanya sebatas kerja yang waktunya sudah terjadwal. Karena satu dan lain hal membuat saya tidak bisa menjelajahi setiap jengkal negeri yang masih serumpun dengan Indonesia ini, serta mencicipi kuliner yang ditawarkan. Mempelajari budaya dan mencari tahu adat kebiasaan masyarakat setempat secara dekat.

Menulis di blog saya tekuni beberapa bulan terakhir, kalau dulu hanya sebatas iseng, tapi kini menjadi suatu rutinitas yang memang saya jadwalkan. Paling tidak harus ada postingan dalam seminggu. Dan saya mencoba mengikuti kontes menulis di blog ini untuk mengalahkan rasa penasaran, membuktikan pada diri sendiri bahwa saya bisa berkontribusi untuk siapa saja melalui media tulisan. Menang atau kalah, itu urusan belakangan. Setidaknya saya mencoba mengaktualisasi diri dengan menulis.

Kalau dibilang sebagai traveller, sepertinya masih terlalu dini. Saya lebih suka disebut pejalan yang senang mencari pengalaman baru, mengupas sisi lain dari daerah baru baik itu di sekitar daerah tempat tinggal ataupun tempat yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya. Saya sering menjadi solo traveler karena biasanya saya justru akan mendapatkan banyak teman bahkan saudara ketika melakukan perjalanan kemanapun itu. And for me alone it doesn’t mean lonely!

Di salah satu Klenteng di Vung Tau City, Vietnam

Di salah satu Klenteng di Vung Tau City, Vietnam

penanti senja di mana saja :)

penanti senja di mana saja 🙂

Mimpi saya adalah berkeliling dunia dan mencoba jadi mata untuk siapa saja yang menginginkan berkelana namun masih memiliki kendala. Baik itu segi biaya ataupun waktu. Terlebih saya ingin menginspirasi siapa saja untuk bisa keluar dari zona nyaman mereka, karena dunia itu tidak sebatas lingkungan rumah dan kerja saja. Dunia itu indah dan selalu memiliki kejutan bagi siapapun yang ingin menjemput impiannya.

Masih banyak tentang Malaysia khususnya Selangor yang ingin saya ketahui. Dan meskipun adat budaya serupa dengan Indonesia, pasti akan ada perbedaan yang menjadikannya unik. Dan saya ingin mengupas itu semua.

Saya yakin, ada pesona tersembunyi di Selangor nanti yang pastinya jadi pengalaman menarik dalam hidup saya. Dan saya siap membaginya melalui tulisan, foto, yang akan selalu terselip kebahagiaan untuk disebar ke seluruh penjuru negeri. Karena dengan membagi kebahagiaan berarti memperpanjang kebahagiaan itu sendiri!

Dan saya siap menerima tantangan di My Selangor Story 2013!